Rabu, 25 April 2012

kepastian cinta part 5

PART SEBELUMNYA~

Alvin terpesona oleh kecantikkan Sivia, dia tanpa sadar mengelus rambut Sivia dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Jantung Sivia berdegup semakin kencang dan dia segera menutup matanya. Semakin dekat... tinggal 2 cm lagi jarak mereka.
Dan....

KEPASTIAN CINTA PART 5

Dan...
“Lo bangun deh. Berat nih.” Ucap Alvin berbisik di telinga Sivia.
Sivia tersentak dan segera membuka mata. Pipinya terasa panas. Dia segera bangkit dari tubuh Alvin (?) dan berlari keluar dari kamar Kak Felix.
Kayaknya gue jatuh cinta sama tuh kunyuk batin Alvin sambil memandang kepergian Sivia.
Sementara itu, Sivia berlari menuju kamarnya.
BRAKK!
Dia membanting pintu kamarnya dan bersandar di pintu kamarnya. Dia memegang bibirnya. Perlahan tubuhnya merosot ke bawah.
Tadi bukan ciuman kan? Kan gue gak sengaja tuh! batin Sivia.
“Gak mungkin..Gak mungkin..Gak mungkin!!” teriak Sivia sambil berlari menuju tempat tidurnya.
“Kok gue tadi deg deg degan ya deket dia? Apa gue mulai suka sama titisan genderuwo itu? Mungkin juga sih!” kata Sivia sambil tersenyum.
Gue suka sama lo ALVIN JONATHAN!!! Teriak Sivia dalam hati.
Tiba-tiba telepon di kamarnya berbunyi..
Kriiiiiing!
Sivia segera mengangkatnya.
Sivia : Halo? Ini siapa?
Alvin : Ini gue Alvin Jonathan, makhluk Tuhan paling sexy!
Sivia : Ish! Jibang!!
Alvin : Jibang apaan tuh?
Sivia : Jijik banget! Ngapain lo nelpon gue? Tinggal dateng langsung ke kamar gue!
Alvin : Gue udah di jalan nih! Gue tadi nelpon ke HP lo ternyata gak aktif. Ya udah gue nelpon ke telepon yang ada di kamar lo! Emang kenapa HP lo kok gak aktif?
Sivia : WOII! Sarap lo ye!! HP gue kan kebanting GARA-GARA ELO YANG SEENAKNYA NARIK-NARIK TANGAN GUE!!!
Alvin : Bujubuneng! Pelan-pelan kalo ngomong dong! Budeg nih kuping!
Sivia : Hehehe.. Ngapain elo telpon gue?
Alvin : Gue mau tanya. Elo mau minta dibeliin apa buat makan?
Sivia : Terserah elo! Beli di Mc D ya?
Alvin : Siiip!
Alvin segera menutup telfonnya dan melajukan mobilnya menuju Mc D yang terletak tidak begitu jauh dari rumah Sivia. Sepanjang perjalanan dia terus saja memikirkan Sivia.
“Eh, gue beliin HP aja kali ya? Salah gue kan sampe Via kaga punya HP lagi?” tanya Alvin pada dirinya sendiri.
Alvin segera membelokkan setirnya menuju Grand Mall city. Disana dia pun menuju tempat penjualan HP.
Beli HP apa ya? Emm..Ah! Gue beliin aja I-Phone 4 yang warna putih! Biar samaan kaya gue! Punya gue item,,punya Via putih. Batin Alvin sambil tersenyum.
“Mas, tolong I-Phone 4 yang white ya?” katanya pada salah satu penjual.
“Baik. Ini dia, Mas.” Kata penjual itu.
Setelah membelikan HP untuk Sivia, dia segera melajukan mobilnya menuju Mc D dan membeli beberapa makanan untuk dirinya dan Sivia.
Pukul 20.00 barulah ia tiba di rumah Sivia. Dia segera membuka pintu dan mendapati Sivia sedang asyik menonton TV. Alvin segera berjalan menghampiri Sivia dan menyembunyikan Hp yang akan dia berikan kepada Sivia di belakang punggungnya.
“Woi! Nih makanan lo!” katanya sambil menyodorkan bungkusan berisi makanan kearah Sivia.
“Thank ya, Vin. Nih udah gue siapin minum. Yuk makan bareng-bareng.” Ajak Sivia.
30 menit kemudian mereka menyudahi acara makan mereka.
“Via...” panggil Alvin.
“Apa?” tanya Sivia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.
“Liat gue dong.” Pinta Alvin.
“Hmm.. Ada apa?” tanya Sivia- lagi. Dia segera mengubah posisi duduknya sehingga menghadap Alvin.
“Nih. Buat elo.” Kata Alvin sambil memberikan kotak berisi HP I-Phone 4 yang baru dibelinya tadi.
“Hah? A..Alvin? Elo serius?” tanya Sivia masih tidak percaya.
“Serius lah! Ini sebagai ganti BB lo yang jatuh tadi.” Ucap Alvin dengan nada cuek.
“E..Eh.. Gue takut ngrepotin elo, Vin. Ga usah juga gapapa kok.” Kata Sivia ragu-ragu sambil menyerahkan lagi Hpnya.
“Jangan nolak! Atau...” kata Alvin dengan diiringi senyuman jahil.
“Atau apa?” tanya Sivia curiga.
“Atau mau gue cium?” goda Alvin sambil memajukan wajahnya sehingga jaraknya sangat dekat dengan Sivia.
“Iih.. Apaan sih lo! Iya..Iya.. Sini gue terima.” Kata Sivia sambil mendorong tubuh Alvin agar menjauh dan mengambil bungkusan tadi.
“Hahaha... Muka lo merah banget, Vi.” Goda Alvin.
“Ish! Ga usah goda-goda gue deh! Gue tidur dulu ya. Ngantuk nih. Night.” Ucapnya pada Alvin.
“Night.” Balas Alvin.
================ooOoo=================
Keesokan paginya
Jam menunjukkan pukul 06.30. Terlihat seorang cewek dan seorang cowok sedang berada dalam mobil Ferrari f430 Scuderia berwarna abu-abu.
Setelah sampai di tempat parkir SMA Alvinoszta, mereka segera berjalan bersama menuju kelasnya di XI IPA-2.
“Eh, Vin! Hari ini kaga ada ulangan kan?” tanya cewek itu yang ternyata adalah Sivia.
“Kaga.” Jawab Alvin dengan nada cueknya. Sebagai jawaban Sivia hanya ber ‘oo’ ria.
Tiba-tiba dari arah belakang, Zahra dengan sengaja menubruk bahu Sivia dengan keras, sehingga Sivia tersungkur ke depan. Sivia yang sangat kaget tidak bisa menjaga keseimbangannya. Untung, pada saat itu, tangan Alvin dengan sigap menarik Sivia ke dalam pelukannya agar Sivia tidak jatuh.
Selama 5 detik mereka berpelukan, sampai...
“Eh! Jangan peluk-peluk Alvin!” bentak Zahra.
“Eh, ini kan gara-gara elo yang kurang kerjaan nubruk-nubruk gue!” omel Sivia setelah melepaskan pelukan Alvin.
“Ya..Ta..Tapi..Gak perlu meluk-meluk Alvin dong!” gugup Zahra.
“Masalah buat lo?!!” kata Sivia nyolot dan segera berjalan cepat menuju kelas XI IPA-2 yang memang sudah tidak jauh lagi.
Alvin hanya menatap cengo kepergian Sivia. Kemudian dia segera menyusul Sivia. Tetapi, tangannya ditahan oleh Zahra.
“Ngapain sih elo pake ngejar-ngejar Via segala?!” tanya Zahra kesal. Zahra memang sudah menyukai Alvin sejak kelas X.
“Masalah buat lo?!!” sungut Alvin meniru kata-kata Sivia dan segera berjalan santai menuju kelasnya.
Zahra hanya bisa menatap kesal kepergian Alvin.
Awas lo, Vi! Gue bales! Ucap Zahra dalam hati.
Di dalam kelas, Sivia segera menuju bangkunya dan melempar tasnya. Shilla kaget melihatnya dan segera menghampiri Sivia.
“Sabar, bu! Sabar! Kenapa sih pagi-pagi udah marah gitu? Jadi nenek-nenek baru tau rasa lo.” Kata Shilla sambil duduk di tempat duduk Alvin.
“Gara-gara siluman!” sungut Sivia.
“Siluman? Zahra maksud lo? Kenapa lagi dia?” tanya Shilla.
“Nubruk gue gitu! Terus ngomel-ngomel gak jelas sama gue lagi!” kata Sivia kesal.
“Aaaargghh!! Kenapa sih  gue harus kenal sama siluman satu tu! Lama-lama gue sambel juga dia!” omel Sivia.
“Sabar..Sabar..” kata Shilla menenangkan Sivia.
“Alah.. lo sebenernya seneng kan? Gimana gak? Lo kan tadi gue peluk.” Celetuk Alvin yang tiba-tiba datang sambil memamerkan senyum jahilnya.
“Hah? Serius Vi? Alvin tadi meluk elo?” tanya Shilla terkejut.
“E..Eh..Ga..Gak kok! Lagian elo percaya aja sama omongan dia! Dah pergi sana..hus..hus.. Tuh yayang lo udah nungguin.” Usir Sivia sambil menunjuk Cakka yang sedang duduk.
“Ah..Gak usah boong deh lo..” goda Shilla.
“Ish! Gue tabok baru tau rasa lo!” ancam Sivia.
“Kabuuuuurrrrrrrrrr...” Shilla langsung ngacir dan mendatangi Cakka.
“Hahaha..Tuh liat muka lo merah lagi..” goda Alvin sambil duduk disebelah Sivia.
Tais-toi! Et arrêter de me taquiner! (Diam! Dan berhenti ngegoda gue!)” Sivia tersenyum jahil dengan perkataannya barusan, dia percaya Alvin tidak akan mengerti sama sekali.
Désolé.. Vous pensez que je ne comprends pas vos paroles? So..You are wrong, Vi.(Maaf.. Lo pikir gue gak ngerti ucapan lo? Lo salah, Vi) Hahaha...” ucap Alvin menggunakan bahasa Perancis yang sangat fasih.
“Lho Kok bisa?” tanya Sivia cengo.
“Gak Cuma nona Sivia yang lahir and besar di Perancis.” Kata Alvin sok bijak sambil mengacak-acak rambut Sivia.
“Ja..Jadi elo lahir juga di Perancis? Dimana?” tanya Sivia  yang sekarang menghadap Alvin karena mulai tertarik dengan asal usulnya.
“Di Montpellier. Kalo lo?” Alvin bertanya balik.
“Paris.”
Tepat pada saat itu, bel masuk berbunyi dan siswa siswi kelas XI IPA-2 menatap heran karena kedatangan Pak Veri, wali kelas mereka. Terdengar banyak celotehan disana-sini.
“Eh, bukannya sekarang kaga ada kimia ya, Ngel? Apa gue yang slah baca jadwal?” celiteh salah satu siswa.
“Kaga kok. Emang kaga ada kimia. Apa Pak Veri yang salah masuk kelas?” Timpal yang lainnya.
“Ehem..” dehem Pak Veri mengakhiri keributan yang terjadi.
“Pasti kalian heran melihat saya memasuki ruangan ini. Saya kesini karena tadi sebelum saya memasuki kelas, ada rapat dewan guru membahas PENSI ALVINOSZTA. Hasilnya adalah, setiap kelas XI wajib take part dalam acara ini, yang berarti kita harus ikut mengisi acara Pensi kali ini dengan menampilkan sesuatu. Kebetulan kelas ini mendapatkan bagian untuk bermain drama. Drama yang dimainkan sudah ditentukan dalam rapat dewan guru, yaitu SLEEPING BEAUTY. Agar tidak ribut. Pak Guru akan mebuat undian siapa saja yang menjadi Pangeran, Putri Aurora (sleeping beauty), raja, ratu, peri jahat, peri baik 1,2,3,4,5,6,dan 7. Serta para pegawai istana dan yang tidak menjadi apa-apa membantu mendekorasikan ruangan Pensi. Silahkan semuanya maju kedepan dan mengambil kertas undian setelah itu kembali ke tempat duduk masing-masing.” (Nih guru perasaan selalu aja bikin undian, pantes tuh muka mirip kotak undian #Plaakk. Abaikan)
Berbondong-bonding mereka maju ke depan kelas dan berebut kertas undian, yang cewek berharap bisa menjadi putri Aurora bersama dengan Alvin.
“Ish! Kenapa gue harus dapet peran ini sih!” omel Sivia saat melihat kertasnnya.
“Emang lo dapet peran apa? Sampe ngedumel gitu.” Tanya Alvin.
It’s not your bussiness, Alvin Jonathan.” Sivia mengakhiri pembicaraan mereka.
Beberapa menit kemudian keributan pun berakhir dan Pak Veri segera mencatat siapa berperan menjadi apa.
“Pegawai istana..” panggil Pak Veri. Kemudian 10 orang maju dan berdiri di depan papan tulis.
“Shanin..”
“Patton..”
“Siti..”
“Acha..”
“Dea..”
“Kiki..”
“Keke..”
“Obiet..”
“Lintar..”
“Rio..”
Mereka menyebut nama mereka masing-masing yang kemudian dicatat oleh Pak Veri.
“Para peri baik..”
7 orang pun maju kedepan.
“Oik..”
“Angel..”
“Agni..”
“Ify..”
“Pricilla..”
“Febby..”
“Olivia..”
Pak Veri kembali mencatat nama-nama itu.
“Peri jahat..” panggilnya.
Zahra segera berjalan bak seseorang yang telah memenangkan penghargaan nobel (Lebay gue!)
“Zahra, Pak Veri.” Ucapnya lalu berdiri di samping pemain yang lain.
“Raja dan Ratu..”
Cakka dan Shilla tersenyum senang kearah Sivia. Sivia terkejut, tetapi kemudian dia segera membalas senyuman mereka.
“Cakka dan Shilla..” mereka tersenyum puas sambil bergandengan tangan.
“Kenapa lo?” tanya Alvin ketika melihat perubahan raut muka Sivia.
“Gue Cuma heran aja. Bintang keberuntungan mereka kok bersinar terus ya? Selalu sma-sma gitu.” Oceh Sivia. Alvin hanya terkekeh mendengarnya.
“Yang pasti bintang keberuntungan gue lagi redup atau udah off  kali, jadinya gue sama-sama elo mulu.” Ejek Alvin.
Shut up!” kesal Sivia.
“Putri Aurora dan Pangeran..”
Anak kelas XI IPA-2 kembali ribut karena pangeran dan putri Aurora adalah peran utama dalam drama ini.
“Putri Aurora dan Pangeran!” panggil Pak Veri dengan nada yang lebih tegas.
Tiba-tiba Alvin menarik tangan Sivia untuk maju ke depan. Terlihat beberapa tatapan iri cewek-cewek yang melihat kejadian itu, tidak terkecuali Zahra.
“Alvin dan Sivia..” ucap Alvin mantap.
Alvin segera berdiri disamping Cakka, sementara itu Sivia masih saja menatap bengong kearah Alvin.
“Kenapa lagi lo?” tanya Alvin heran.
“Gue heran aja. Kok elo bisa tau kalo gue perannya jadi putri aurora? Kan gue belum ngasih tau elo.” ujar Sivia heran.
“Karena gue sama elo sehati kali, Vi.” Ucap Alvin asal yang membuat mata Zahra melotot tajam kearah Sivia.
“Iih, Alvin! Seriusan!” gerutu Sivia.
“Siapa yang lagi becanda sih, Vi?” goda Alvin sambil mencolek dagu Sivia.
“Tau ah! Gue ngambek.” Kata Sivia sambil melipat tangannya didada.
Belum sempat Alvin menjawab, Pak Veri sudah berkata bahwa sekarang anak-anak sudah diizinkan pulang.
“Yeeyyy!!!” seru semua anak.
Saat anak-anak akan keluar, tiba-tiba Alvin menyuruh mereka duduk kembali.
“Sorry kalo gue ganggu acara lo lo pada. Tapi, gue pengin sekarang kita buat konsep drama. Gue sebagai ketua kelas yang bakal mimpin langsung rapat ini.”
Seketika itu, semua anak langsung diam mendengarkan.
“Jadi, drama kali ini, bla..bla..bla...” Alvin menjelaskan dengan penuh semangat.
“Paham lo semua?”
Semua anak mengangguk mantap.
“Karena Pensi tinggal 2 bulan lagi, 2 minggu lagi latihan, 2 x seminggu hari sabtu and minggu. Jam 1 siang. Oh iya, karena di kelas ini yang paling bakat seni tuh si Cakka. Jadi gue serahin dia buat bikin Naskah drama and barang-barang apa aja yang kudu dibuat ato dibawa buat drama dan harus dikumpulin sebelum latihan kita yang pertama. Sanggup, Cakka?”
“Siap, bos!” ucap Cakka mantap.
“Urusan kostum biar gue yang urus.” Ucap Alvin.
“Mana bisa elo sendiri? Elo kan cowok..” Celetuk Sivia tiba-tiba.
“Gue..Gue mau kok bantuin Alvin.” Ucap Zahra dengan nada manja.
“Emm. Eh..Gue sama Via yang bakal ngurusin maslah kostum.” Tegas Alvin mengacuhkan Zahra. Zahra langsung memasang muka cemberut dan super bete kearah Sivia dan Alvin.
“Hah? Tapi...” Sivia akan menolak. Tapi, perkataannya dipotong oleh Alvin.
“Oke. Gue anggep selesai rapat kali ini. Kalian boleh pulang.” Kata Alvin mengakhiri rapat. Anak-anak kelas XI IPA-2 langsung berbondong keluar dari kelas kecuali Sivia, Zahra, dan Alvin.
“Ngapain elo masih disitu? Yuk, keluar.” Ajak Alvin pada Sivia yang masih duduk manis di tempat duduknya.
“Hmm..” balasnya seketika itu berdiri dan akan berjalan menghampiri Alvin.
Tapi, tiba-tiba Zahra dengan sengaja menubruk Ran dan langsng mengapit manja tangan Alvin. Untung kali ini Sivia dapat menjaga keseimbangannya.
“Eh, ati-ati dong kalo jalan! Punya mata kaga lo?!” bentak Sivia pada Zahra.
“Alvin..Anterin gue pulang dong!” pinta Zahra dengan manja.
“Lepasin tangan gue!!” bentak Alvin sambil melepaskan tangan Zahra kasar.
“Pelan-pelan dong, Vin Sakit nih.” Ucap Zahra masih dengan manjanya.
“Bodo amat! Siapanya gue sih lo?!!” kata Alvin segera keluar dari ruangan.
“Udah tau ditolak mentah-mentah gitu, masih aja ngejar-ngejar! Gak punya malu tuh.” sindir Sivia santai sambil berjalan keluar ruangan kelas XI IPA-2 mengikuti Alvin. Dia melihat Alvin berjalan menuju taman sekolah. Tanpa basa basi Sivia langsung mengikuti Alvin.
Sampi di taman sekolah, Alvin langsung duduk di bangku taman yang dinaungi oleh pohon. Dia terlihat sedih.
Kenapa gue masih mikirin elo, Ze? Apa gue masih ada rasa sama elo? Entahlah gue bingung. Tapi, gue gamau kenal lo lagi! Cuma sakit yang gue terima. batin Alvin dalam hatinya.
“Aarrggghh....” teriak Alvin sekeras mungkin sambil mengacak-acak rambutnya.
“Alvin kenapa? Kok gue jadi ikut sedih?” tanya Sivia pada dirinya sendiri. Tanpa dia sadari, dia mulai melangkahkan kakinya menuju Alvin dan duduk disebelahnya.
“Kalo gue ada masalah, gue bakal cerita ke orang lain. Karena itu bisa buat gue merasa lebih baik.” Kata Sivia tiba-tiba sambil mengulaskan senyum manisnya kearah Alvin. Alvin hanya terkejut mendapati Sivia sudah duduk disampingnya.
“Elo? Kok bisa ada disini?” tnya Alvin lembut.
“Gue tadi ngikutin lo. Elo boleh kok cerita ke gue kalo ada masalah.” kata Sivia sambil memegang pundak Alvin.
“Thank, Vi. Gue cuma lagi bingung sama hati gue aja. Elo tau kenapa waktu kita di mall gue narik tangan lo? Itu karena gue liat mantan gue..” Alvin terus mengutarakan isi hatinya pada Sivia.
Sivia tiba-tiba merasa cemburu akan isi hati Alvin. Tapi, dia tepis semua perasaaan itu.
“Dia udah nyakitin gue dulu. Dia selingkuh dibelakang gue. Gue sampe saat ini belum bisa maafin dia. Gue benci dia!” kata Alvin terus bercerita.
“Jadi..elo masih ada rasa sama dia?” tanya Sivia, dia heran kenapa pertanyaan ini tiba-tiba keluar dari mulutnya.
“Gue..entahlah, Vi. Gue belum punya kepastian.” Ucap Alvin.
“Kalo lo masih sayang sama dia, jangan sampe perasaan benci elo itu mengalahkan rasa sayang lo sama dia. Biarkan benci itu mengalir perlahan keluar dari hati lo. Jadi, Cuma tinggal perasaan sayang lo ke dia.” Kata Sivia bijak. Entah mengapa saat mengatakan itu, tiba-tiba hatinya terasa perih, sangat perih.
Alvin memandang Sivia, sedangkan Sivia hanya dapat tersenyum menahan rasa perih dihatinya. Tanpa komando, Alvin langsung memeluk Sivia,”Jangan tinggalin gue, Vi.” Alvin berkata lirih dan tulus.
Tanpa ragu Sivia membalas pelukan Alvin lama dan erat. Sivia merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dan ada getaran-getaran aneh dalam hatinya. Semakin lama dalam pelukan Alvin, Sivia meraskan kehangatan dan kenyamanan.
Tanpa Sivia sadari, Alvin juga merasakan perasaan yang sama saat memeluk Sivia. Setelah cukup lama mereka berpelukan, akhirnya Alvin melepaskan pelukan Sivia dan memandang dalam mata Sivia.
Sivia menunduk malu karena Alvin menatapnya penuh dengan sejuta arti dan kelembutan (Ceileh! Apadah bahasa gue). Tiba-tiba Alvin mengangkat dagu Sivia dan secara cepat mencium lembut bibir Sivia. Sivia yang kaget ingin melepaskannya. Tetapi, tangan Alvin menahan kepala Sivia, membuatnya susah untuk bergerak. Sivia menutup matanya dan membalas ciuman Alvin. Entah kenapa, Alvin dan Sivia merasakan kehangatan saat itu.
Setelah 10 menit (Busett! Kelamaan kaga tuh?!), akhirnya Alvin melepaskan ciumannya dan memandang rumput.
Sivia memandang Alvin dengan pandangan penuh makna dan arti.
“Vin..” panggil Sivia lirih.
“Maaf..” hanya kata itu yang dapat terlontar dari bibir Alvin.
“Elo nyolong first kiss gue..” kata Sivia.
“Bukannya ni yang kedua ya? Kemaren kan udah.” Tanya Alvin heran sambil memandang Sivia.
“Itu..Itu bukan! Kemaren kan gak sengaja!” omel Sivia. Alvin terkekeh mendengar perkataan Sivia.
“Gue..Minta maaf, Vi. Gue udah lancang ke elo.” Ucap Alvin lirih sambil memandang rumput.
“Jangan nunduk. Elo ngomong sama rumput atau gue sih?” kata Sivia sambil mengangkat wajah Alvin agar menatapnya.
“Udah gapapa, lupain. Gue gak marah kok.” Kata Sivia yang kemudian beranjak berdiri berniat untuk pergi. Tapi, langkahnya terhenti saat tangan Alvin menahan lengannya seolah tidak membiarkan Sivia untuk pergi.
“Elo mau nemenin gue latian basket, Vi?” tanya Alvin sambil menatap mata Sivia.
“Eh?” Sivia bengong mendengar pertanyaan Alvin.
“Mau ga? Kok malah bengong?” tanya Alvin heran sambil berdiri didepan Sivia.
“Heran aja gue. Gak pernah kan elo ngajak cewek buat nonton elo main basket?” tanya Sivia
“Gak. Baru kali ini gue ngajak cewek dan itu elo. Tapi, kok elo bisa tau?” tanya Alvin heran.
“Hehehe... semua tingkah cuek lo itu dah jadi rahasia umun di sekolah ini tau gak sih, Vin. Eh, ja..Jadi..Dia..” Sivia ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Dia juga belum pernah gue ajak nonton gue main basket. Atau mungkin belum sempet.” Kata Alvin cuek. Tau kan yang dimaksud ‘dia’ itu siapa?
Sivia yang mendengarnya, langsung merasa hatinya melonjak gembira saking senangnya. Setidaknya, perkataan Alvin barusan mampu menghiburnya saat ini.
“Oke. Gue ikut lo.” Kata Sivia akhirnya sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Mereka berjalan beriringan menuju lapangan basket di luar lingkungan sekolah, sampai disana udah ada teman-teman Alvin dari sekolah lain yang menunggu kedatangan Alvin.
“Sorry telat, bro.” Kata Alvin pada teman-temannya.
“Eh, Vi. Sini dong. Gue kenalin sama temen-temen gue.” ajak Alvin sambil menarik tangan Sivia.
“Wuitss! Kesambet apaan lo? Tumben bawa cewek kesini?” celetuk salah satu dari mereka.
Tais-toi! (diem lo!)” kata Alvin menggunakan bahasa Perancis yang hanya dapat dimengerti oleh dia dan Sivia.
“Aduh, kalo lo udah mulai pake bahasa-bahasa alien gitu gue angkat tangan deh! Angkat kaki kalo perlu.” Celetuk yang lain.
“Ssssttt” Alvin menyuruh yang lainnya untuk diam.
“Vi, kenalin nih. Yang itu Ray, itu Debo, itu Riko..” terang Alvin.
“Hai, gue Sivia Alexis Chevalier. Panggil aja Via.” Kata Sivia memperkenalkan dirinya dan menjabat satu persatu tangan Ray, Debo, dan Riko.
“Hai, vi.” Balas mereka. Tapi, Ray terlihat paling bersemangat.
“Ish! Ati-ati mulai ileran lo tuh! Gak bisa liat cewek cantik satu aja.” Ejek Alvin.
“Sssttt! Lo nurunin pasaran gue aja!” timpal Ray bercanda. Mereka pun tertawa bersama-sama.
“Oh iya. Gue lupa ngenalin satu orang lagi. Mana ya tuh orang....Nah tu dia lagi minum diujung sono. Lo pasti kenal dia kan?” kata Alvin tersenyum jahil sambil menunjuk seorang cowok tinggi berkulit sawo matang. Seketika itu juga, muka Sivia langsung berubah merah.
Sejurus kemudian Sivia menarik tangan Alvin agar menjauh dari teman-teman alvin.
“Alvin! Apaan sih lo? Lo ngajak gue kesini Cuma biar gue malu doang ya? Ngaku lo!” tanya Sivia berbisik curiga.
“Eh! Gak kok. Lo tenang aja. Croyez-moi (percaya sma gue),” Kata Alvin sambil memegang tangan Sivia.
“Eh, Jo sini deh! Gue mau kenalin seseorang.” Alvin berkata menggunakan toa. Karena jaraknya dengan Jo lumayan jauh. (Heran deh! Dari mana ya Alvin dapet tu toa? #PLAK! Abaikan)
Jo langsung saja berlari menghampiri Alvin.
“Siapa, Vin?” tanyanya.
“Ini. Sivia..” Alvin memperkenalkan Sivia pada Jo.
“Oh..Eh..Gue Sivia.” Ucap Sivia gugup sambil menyalami Jo.
“Hai, gue Jo..” Jo memperkenalkan dirinya didepan Sivia dengan tingkah yang ganjen banget amit amit. Sivia yang melihatnya langsung cengo.
“Eh, jangan ganjen-ganjen lo sama dia ya! Dia udah punya cowo tau! Asal lo tau cowo dia tuh yang megang daerah sini.” Alvin menakut nakuti Jo.
“E..Eh..Gak kok. Kalo gitu gue duluan ya, Vi? Vin?” pamit Jo gelagapan.
Sivia masih saja bingung dengan Alvin. Maksudnya nih bocah apa sih? Batin Sivia sambil menatap Alvin.
“Lo masih bingung?” tanya Alvin yang dijawab anggukan Sivia.
“Gue kaya gini biar elo gak buta lagi! Masa ngefans sama cowok kaya dia.” Jelas Alvin.
“Maksud lo apa? Gue gak ngeeh?”
“Gini lo.. Coba tadi elo liat tingkahnya Jo waktu lagi kenalan sama lo? Ganjen banget kan dia? Dia emang selalu gitu kalo ketemu cewe cantik.” Terang Alvin.
“Amasya? Gue jadi ilfeel deh! Jibang tuh orang! Hiii...ngeri! Gak jadi ngefans guenya deh.” Kata Sivia begidik ngeri.
“Haahaha...Makanya elo harusnya makasih sama gue karna udah ngebuka tuh mata lo!” ujar Alvin.
“Yaya..maksih, Vin.” Ucap Sivia manis.
“Woi, Vin! Ayo latian, ngapain sih lo?” teriak Riko.
“Oke. Gue kesana sekarang. Lo duduk disini ya, Vi? Au revoir, chère! (Dah..sayangku!)” kata Alvin tersenyum manis+jahil.
Non-sens!(omong kosong!) Gak usah gombal deh lo!” ucap Sivia.
================ooOoo=================
Seminggu kemudian..
Pukul 16.00..
Sivia terlihat menuruni tangga, dia berniat untuk menonton TV. Sebelum itu, dia mengambil cemilan dlu dan segera menyalakan TV.
Baru beberapa menit dia menonton TV..
CKLEK
Ada yang membuka pintu depan rumahnya, Sivia secara reflek mengalihkan pandangannya dan tersenyum melihat siapa yang datang. Seorang cowok tampan dengan wajah letih. Cowok itu langsung merebahkan diri di sofa dekat Sivia. Dan mencomot camilan yang sedang di pegang Sivia.
“Darimana lo jam segini baru pulang?” Sivia membuka pembicaraan.
“Ngurusin persiapan buat drama nih.” Ucap Alvin. Sivia hanya mengangguk-anggukan kepalanya berkali-kali.
“Eh, mandi sana lo! Bau.” Celetuk Sivia sambil menutup hidungnya.
“Ini juga mau mandi.” Kata Alvin cuek sambil beranjak pergi dan tanpa sengaja meninggalkanm I-Phone 4 miliknya di meja.
Setelah bebrapa menit kepergian Alvin, Sivia baru menyadari kalau HP milik Alvin tertinggal dimeja.
“Eh, ini punnya Alvin kan? Gue utak atik ah!” kata Sivia pada dirinya sendiri sambil tersenyum jahil.
Setelah 5 menit mengutak atik I-Phone 4 milik Alvin, Sivia merasa bosan. Sampai dia melihat sebuah foto gadis cantik yang sedang tersenyum manis.
Eh, siapa nih cewe? Cantik juga. Apa ini mantannya Alvin?  Batin Sivia dengan perasaan yang tidak menentu. Cemburu? Marah? Entahlah. Dia segera meletakkan HP milik Alvin di tempat semula dengan perasaan aneh yang mendera hatinya.

BERSAMBUNG~

kepastian cinta part 4

Mmm.. kyaknya gk jadi ngaret deh. aku lanjutin skrg aja ya. langsung aja yuk ~

PART SEBELUMNYA ~

“Ngapain sih lo lama amat?” omel Alvin sambil menyimpan HP kedlam sakunya.
“Sorry.. Ya udah yuk cepet!” ajak Sivia.
“Hmm.. Ya udah. Cepetan lo naik.” ucap Alvin dengan jutek.
“Jleebb banget hati gue, Vin. Cueeeekkk banget sih elo!” erang Sivia.
“Ngaruh ya sma lo?!!” sinis seseoorang yang tiba-tiba datang tak diundang, pulang tak diantar (Kok jadi nyambung ke jelangkung sih? #Pletaakk. Abaikan).

KEPASTIAN CINTA PART 4

“Ehh! Ngapain elo disini? Bikin pemandangan jadi gak sedeeepp banget tau gak?!” omel Sivia.
“Suka-suka gue dong!! Masalah buat loh?!” sinis orang itu yang ternyata adalah Zahra dengan gaya ala soimah.
“Alvin, anter gue pulang dong...” ucap Zahra manja sambil mengapit tangan Alvin. Sivia hanya menjulurkan lidah layaknya orang yang sedang muntah.
“Gak.” Jawab Alvin singkat padat gak berisi.
“Kok gitu sih? Gue gak da yang jemput tau gak? Masa lo tega sih, Vin?” ucap Zahra memelas.
“Emang gue peduli ama lo?! Lagian gue juga mau pergi kok.” Ucap Alvin cuek.
“Kemana?”
“Ngedate sama Sivia! Puas lo?” kata Alvin langsung membukakan pintu untuk Sivia dan segera masuk ke mobilnya dan langsung mengendarainya meninggalkan Zahra yang kesal karena ditinggal begitu saja.
Sivia hanya bengong melihat tingkah Alvin, tapi terbesit sedikit rasa senang dihatinya.
“Ngapain lo bengong? Jangan ge-er dulu lo ya? Tadi tuh Cuma acting. Lo dengar CUMA ACTING!” teriak Alvin.
“Aduh, Vin! Ga usah teriak-teriak gitu lagi !! Budeg gue dengernya.” Ucap Sivia kesal sambil menutup kedua telinganya.
“Hehehe... Sorry, Sivia.”
“Hmm..” Sivia masih kesal.
“Sivia, lo marah sama gue ya? Gue minta maaf deh.” Ucap Alvin sambil terus berkonsentrasi menyetir mobil.
“Hmm.” Hanya itulah jawaban dari Sivia. Sivia memalingkan mukanya ke arah lain.
“Sivia.. Gue bener-bener minta maaf. Jangan marah dong. Kalo lo marah ntar gue dicincang sama mak gue lagi...”
Sivia menatap Alvin. “Hmm.,Vin...” Tapi, ucapan Sivia terpotong oleh omongan Alvin.
“Sivia.. Masa lo tega sih sama gue?”
“Vin..” ucapannya kembali terpotong oleh bacotan Alvin.
“Please maafin gue! Gue mau nglakuin apa aja asal lo gak marah lagi sama gue. Gue..”
“ALVIN JONATHAN DENGERIN GUE!” teriak Sivia tak sabar. Alvin hanya menatap Sivia dengan wajah cengo-nya.
“Gue gak marah sama lo, Vin! Gue.. Gu..Gue... Gue LAPER TAU GAK, Vin.” Ucap Sivia kesal.
“Hah?” Alvin cengo kemudian tertawa terbahak-bahak. “Hahahaha... Gue kira elo marah sama gue. Ya udah ntar gue traktir elo makan abis dari gramedia. Ok?” kata Alvin.
“Siiipp.” Jawab Sivia bersemangat.
Mereka terlibat pembicaraan yang seru selama perjalaan menuju Grand Mall City. Setelah 45 menit perjalanan akhirnya Alvin memarkirkan mobilnya di tempat parkir Grand Mall City.
Alvin mengajak Sivia untuk ke gramedia yang berada di lantai 3 Grand Mall city.
Setelah sampai di gramedia mereka berpisah, Alvin mencari buku-buku untuk belajar di rumah. Sedangkan Sivia mencari novel-novel teenlit terbaru.
Setelah 1 jam berada di gramedia, Sivia telah mendapatkan 5 novel teenlit terbaru, dia segera menuju kasir untuk membayar dan segera mencari keberadaan Alvin.
Setelah mengelilingi gramedia dan mencari dari sudut ke sudut, akhirnya dia menemukan Alvin.
“Alvin..” sapa Sivia sambil memegang pundak Alvin.
“Hmm...” jawab Alvin seadanya.
“Jangan cuekin gue dong!” protes Sivia sambil melipat kedua tangannya didada dan memajukan bibirnya beberapa senti.
“Iya. Ada apa Mademoiselle Sivia Alexis Chevalier memanggil saya?” tanya Alvin sambil menghadap Sivia.
“Hahaaha.. Lo lucu banget sih! Gue laper nih. Cari makan nyok!” ajak Sivia.
“Bentar lagi deh. Tanggung nih. Lo tunggu aja di luar biar gak bosen.” Kata Alvin cuek.
“Iya iya. Dasar titisan genderuwo bawel.” Kata Sivia kesal sambil pergi meninggalkan Alvin.
Sivia segera keluar dari gramedia dan bersandar di besi pembatas sambil melihat lihat lalu lalang orang di lantai bawah. Setelah bosan dia pun memainkan BBnya sambil menunggu Alvin.
Setelah menunggu 15 menit, akhirnya Alvin datang menghampiri Sivia.
Sorry lama.” Kata Alvin.
“Gapapa.” Balas Sivia seadanya karena sekarang dia sedang sibuk memainkan BBnya.
“Hmm.. Sekarang tinggal gue yang dicuekin.” Kata Alvin sambil ikut bersandar disebelah Sivia.
“Rasain.. Kena karma kan lo!” kesal Sivia yang kemudian membalikkan tubuhnya sehingga dia menghadap besi pembatas dan menyandarkan tangannya yang masih memainkan BB.
Alvin hanya diam tak membalas perkataan Sivia. Tiba-tiba ekor matanya menangkap sesosok perempuan manis, tinggi dan berkulit sawo matang sedang berjalan kearah mereka. Alvin secara reflek menarik Sivia dan tanpa Alvin sadari, Sivia yang terkejut karena ditarik oleh Alvin kehilangan pegangannya terhadap BB miliknya sehingga BB Torch itu jatuh ke lantai bawah . Sivia meronta mencoba melepaskan tarikan Alvin. Tetapi, kekuatan Alvin lebih besar daripada dirinya sehingga Sivia hanya bisa pasrah ditarik oleh Alvin memasuki cafe ALVZ yang dekat gramedia.
Alvin mengatur nafasnya dan sesekali melirik kearah jendela memastikan perempuan tadi sudah pergi.
Sivia sudah tidak memperdulikan Alvin, dia masih kesal karena BBnya sudah jatuh dan pastinya rusak karena terbanting.
“Sivia.” Panggil Alvin.
“Hmm..”
“Via..”
“Hmm..”
“Vi..”
“APAAN SIH?!” bentak Sivia.
“E..eh..elo kenapa, Vi?” Alvin kaget karena tiba-tiba Sivia membentaknya.
“Gue kesel sama lo!”
“Kesel kenapa? Ini juga udah gue bawa ke cafe. Katanya elo laper? Sekarang tinggal pesen ntar gue yang bayar.” Kata Alvin.
“Bukan itu masalahnya!” Sivia masih kesal dengan Alvin.
“Terus kenapa?” tanya Alvin.
“GARA-GARA ELO TARIK GUE SEENAK JIDAT LO, HP GUE JATOH TAU GAK?! ELO BENER-BENER NGESELAN BA..hmmppt..hmmppt..” Alvin segera membekap mulut Sivia yang berteriak-teriak.
“Ssstt.. Ngomongnya jangan keras-keras dong ah. Ga malu apa diliatin orang? Untung nih cafe sepi!” omel Alvin berbisik karena seisi cafe sekarang sedang memperhatikan mereka.
“Sebodo!” ucap Sivia.
“Iya..Iya gue minta maaf, Sivia. Nih, elo boleh banting HP gue sebagai balesan.” Kata Alvin sambil menyodorkan I-Phone miliknya. Sivia tidak tega melihatnya.
“Gak usah. Gppa kok.” Kata Sivia menyodorkan lagi I-Phone milik Alvin. Alvin tersenyum manis kepada Sivia.
Aduuh.. Manis banget tuh senyum.. Jantung gue... batin Sivia.
“Makasih ya, Sivia. Makasih banget!” kata Alvin sambil memegang tangan Sivia.
Jantung gue tambah gak karuan lagi nih  batin Sivia.
“Udah ah! Lepasin. Lo nurunin pasaran gue tau gak?” kata Sivia yang langsung melengos keluar dari cafe itu. Alvin hanya bengong kemudian menyusul Sivia.
“Eh, Sivia. Katanya mau makan?” tanya Alvin saat sudah berjalan disamping Sivia.
“Gak jadi deh. Pulang aja yuk.” ajak Sivia.
“Oke.”
“Oiya, Vin. Tadi kenapa elo tiba-tiba narik tangan gue?” tanya Sivia penasaran.
“Hah? Gak kenapa-kenapa kok.” Jawab Alvin berusaha setenang mungkin.
“Yang bener lo?” goda Sivia.
“Beneeerrr!” kesal Alvin.
Shit! Kenapa gue harus ketemu sama cewek itu sih batin Alvin kesal.
“Ya udah. Gue kira elo kenapa.” Kata Sivia.
“Oh iya. Gue mau tanya nih. Kenapa sih elo selalu aja ngumpet kalo ketemu Jo? Kenapa gak samperin aja? Lo suka kan sma dia?” borong Alvin.
“Satu-satu dong kalo tanya, Vin! Otak gue gak sekenceng otak lo! Gue malu aja kalo ketemu sama Jo. Eh, kata siapa gue suka sama Jo? Gue Cuma NGEFANS SAMA DIA!!!” kata Sivia memberi penekanan pada huruf yang di caps lock.
“Ohh.. Gitu toh. Cuma ngefans.” Kata Alvin. Entah mengapa Alvin merasa lega mendengar perkataan Sivia kalau dia tidak menyukai Jo.
“Iya, Vin. Gue Cuma ngefans sama muka dia aja. Kalo dia punya pacar ato mau nikah gue ya biasa-biasa aja.” Kata Sivia sambil tersenyum manis.
Manis gila nih cewek! Cantik, batin Alvin sambil senyum-senyum memandangi wajah Sivia.
“Woi!” Sivia menyadarkan Alvin.
“E..eh..” gugup Alvin yang mulai tersadar.
“Ngapain elo senyum-senyum sendiri? Naksir lo ya sama gue?” narsis Sivia.
“Idihh.. Ogah gila gue. Masa naksir sama kunyuk.” bantah Alvin.
“Sialan lo! Gue ngambek lagi nih.” Ancam Sivia.
“Ngambek kok bilang-bilang sih. Ya udah kalo ngambek, gue tinggal nih.” Kata Alvin yang kemudian berlari menuju tempat parkir.
“Alvin! Tungguiin gue!!!” teriak Sivia.
================ooOoo=================
Rumah Sivia pukul 18.00
TokTokTok
“Alvin, ajarin gue Matematika dong! Gue belum ngerti nih.” Kata Sivia dari balik pintu kamar Kak Felix.
“Masuk aja. Gak gue kunci kok.” Ucap Alvin cuek.
CKLEK
Terlihat Alvin sedang asyik dengan laptopnya di kasur Kak Felix, sepertinya dia baru saja selesai mandi karena rambutnya masih basah.
Alvin tambah keren deh kalo rambutnya basah gitu batin Sivia.
“Ngapain lo berdiri depan pintu gitu?” kata Alvin yang sekarang mengalihkan matanya pada Sivia.
“E..eh..gak kok. Nih ajarin gue matematika dong! Sumpah demi apapun ya gue kok gak pernah mudeng sama yang namanya M-A-T-E-M-A-T-I-K-A..Bla..bla..bla..!” oceh Sivia. Alvin hanya diam sambil memandangi Sivia. Lucu..cantik juga, batin Alvin sambil tersenyum.
“Eh, ngapain elo senyum-senyum gaje gitu? Naksir sama gue lo ya?” kata Sivia pede sambil duduk di kasur Kak Felix.
“Lo tuh pe-denya guedee banget tau gak sih.” Ucap Alvin sambil mengacak-acak rambut Sivia.
“Ish! Apaan sih lo? Pake ngacak rambut gue lagi! Udah deh mending ajarin gue matematika nih! Pusing pala gue liat beginian.” Gerutu Sivia sambil memandang sebal bukunya.
“Iya-iya deh dasar kunyuk bawel sinih gue ajarin.” Kata Alvin mengambil buku dari tangan Sivia dan segera duduk di karpet yang berada dilantai kamar Kak Felix. Sivia segera mengikuti Alvin dan duduk di depannya.
“Gini lho.. Kalo yang ini tuh dibagi sama yang ini terus di kali..bla..bla..bla..” oceh Alvin. Sivia mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Udah paham belum?” tanya Alvin.
“Udah kok. Thank ya, Vin.” Kata Sivia sambil merebahkan tubuhnya di kasur Kak Felix.
“Hmm..” Kata Alvin yang masih duduk di karpet.
“Eh, Vin. Gue laper nih. Beliin makanan dong!” pinta Sivia sambil bangun dari posisi tidurnya.
“Yee.. Tinggal beli ndiri napa? Kaki utuh..tangan juga utuh kok.”
“Masa lo tega, Vin? Ini kan udah malem, masa cewek malem-malem gini masih berkeliaran.” Sivia memelas.
“Emang elo cewek ya? Baru nyadar gue.” kata Alvin dengan watados.
“Sialan lo!” gerutu Sivia sambil melemparkan bantal kearah Alvin. Tetapi, dengan sigap Alvin menghindari lemparan bantal dari Sivia.
“Wleee..gak kena..gak kena.” Goda Alvin sambil menjulurkan lidahnya.
“Tau ah! Gue bilangin Tante Rosa (Ibunya Alvin) nyahok lo!”
“Eh, jangan dong! Si neng geulis ini teh suka becanda atuh.” Gombal Alvin.
“Sebodo! Makanya beliin gue makanan.”
“Iya iya! Bawel lu ah! Elo tunggu di kamar lo aja! Cepet keluar!” usir Alvin.
“Eh..suka-suka gue! Ini kan kamar kakak gue.” kata Sivia keras kepala.
“Elo mau liat gue ganti baju? Ya udah duduk yang manis aja disitu.” Kata Alvin sambil memgang bajunya dan hampir dilepaskan.
“Eh..cuiih! Amit-amit ya..!” Sivia langsung ngacir keluar kamar. Tetapi, dia tersandung bantal yang tadi dia lemparkan ke Alvin.
BRUKK!
Sivia menubruk Alvin yang ada di depannya dan..
CHUPP~
Tanpa sengaja, Sivia mencuim bibir Alvin selama 1 detik. Posisinya Sivia berada diatas Alvin. Mereka berpandangan.
1 detik

2 detik

3 detik
Nih cowok kalo diliat dari deket tmbah cakep banget ya? batin Sivia.
4 detik

5 detik
Alvin terpesona oleh kecantikkan Sivia, dia tanpa sadar mengelus rambut Sivia dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Jantung Sivia berdegup semakin kencang dan dia segera menutup matanya. Semakin dekat... tinggal 2 cm lagi jarak mereka.
Dan....

BERSAMBUNG ~
kiss? gk tau deh ya :D

kepastian cinta part 3

hai, aku bawa lanjutan cerbungnya. mungkin setelah ini aku agak ngaret ya. soalnya.... RAHASIA! he :D
langsung aja yuk ~

PART SEBELUMNYA ~

Setelah semua anak laki-laki mengambil undian, Pak Guru mencatat siapa duduk dengan siapa di buku catatannya.
Kini sampailah pada Alvin.
“Alvin Jonathan, kamu duduk dengan siapa?”
Alvin agak terkejut melihat nama di secarik kertas itu.

KEPASTIAN CINTA PART 3

“Sivia Alexis Chevalier.”
“What? Gue duduk sama titisan genderuwo kejengkang itu? NO NO NO!” ucap Sivia agak keras.
“Bicara apa kamu, Sivia?” tanya Pak Veri.
“Eh, gak, Pak. Pak, boleh tuker tempat duduk gak? Biar saya sama orang lain aja.” Pinta Sivia.
“Tidak bisa. Nama kalian sudah saya catat!” tegas Pak Veri yang disambut Sivia dengan hati yang tak karuan.
“Eh, Shill. Gue sama Cakka aja deh ya.” pinta Sivia kepada sahabatnya.
“Enak aja lo! Gue lagi seneng nih duduk sama Cakka. Dia kan pacar gue.” tolak Shilla.
Cakka adalah kekasih Shilla sejak setahun yang lalu, dia juga sahabat dekat Alvin Jonathan.
“Ah, elo, Shill.” desah Sivia nelangsa.
Setelah semua mendapat pasangan masing-masing, Sivia segera berjalan membawa tasnya menuju meja Alvin yang berada di sebelah kiri tembok persis.
“Geser lo!” kata Sivia.
“Enak aja. Ini kan bangku gue! Elo yang dudk sebelah sono.” Kata Alvin.
“Serah!” kata Sivia.
Sepasang mata sinis memandang iri kearah Alvin dan Sivia.
“Geseran dong, Ra.” Ucap seorang cowok kepada cewek itu yang ternyata bernama Zahra. Zahra segera bergeser untuk mempersilahkan cowok itu duduk.
Harusnya gue yang duduk sama Alvin, bukan elo Sivia batin Zahra kesal.
 “Ayo anak-anak, kita mulai ulangannya.” Kata Pak Veri.
Pak Veri membagikan soal ulangan Kimianya. Wajah Sivia bertambah pucat saking takutnya.
Setelah 1 jam mengerjakan soal, Sivia hanya berhasil menjawab 8 soal dari 20 soal yang diberikan.
“Waktu kalian tinggal 15 menit lagi.” Ucap Pak Veri.
“Sial! Kenapa gue lupa belajar sih tadi malem! Jadi gak bisa ngerjain kan.” gerutu Sivia.
Alvin yang mendengar Sivia menggerutu, langsung menyodorkan kertas jawaban miliknya perlahan untuk dicontek oleh Sivia. Sivia sangat terkejut. Tapi, dia segera memberikan senyum tanda terima kasihnya kepada Alvin. Tanpa babibu, Sivia segera menyalin jawaban Alvin ke kertasnya dengan hati-hati agar tidak ketahuan oleh pak Veri.
“Ya! Waktunya habis. Segera kumpulkan kertas ulangan kalian!” perintah Pak Veri.
Sivia tersenyum senang, dan segera mngumpulkan kertas jawabannya ke Pak Veri dan segera kembali ke tempat duduknya.
Tet Tet Tet.
Bel tanda istirahat terdengar.
“Selamat siang anak-anak.” Ucap Pak Veri mngakhiri kelasnya hari itu.
“Selamat siang, Pak.” Jawab anak-anak serempak.
Sivia akan mengajak Shilla ke kantin. Tapi, dia sedang sibuk pacaran dengan Cakka.
Bodo amat! Batin Sivia.
“Shilla, kantin yuk? Laper nih gue.” ajak Sivia.
“Elo sendiri deh ya.. Gue lagi sibuk nih.” Tolak Shilla.
Sivia hanya memanyunkan bibirnya. “Pacaran mulu elonya sih.” Omel Sivia.
“Bawel ah! Makanya punya pacar dong! Tuh, Alvin nganggur, pacarin aja dia.” Kata Cakka
PLETAKK!
Sivia menjitak kepala Cakka.
“Ogah gue!” kesal Sivia.
“Idiih emang siapa juga yang mau pacaran sama kunyuk kaya elo!” celetuk Alvin. “Cak, kantin yuk!” ajak Alvin yang sekarang memalingkan mukanya ke Cakka.
“Panggil gue ‘Kka’. Jangan ‘Cak’. Berasa jadi cicak deh gue. Lo gak liat apa gue lagi sibuk? Udah sanah ke kantin aja bareng Sivia.”
“Iya, Sivia. Masa elo tega sih gnggu gue sama Cakka lagi pacaran.” Kata Shilla dengan wajah memelasnya.
“Aahhh.. kalian tuh! Ya udah deh terpaksa gue sama titisan genderuwo ini!” kata Sivia terpaksa yang kemudian menarik lengan baju milik Alvin.
“Eh, jangan tarik-tarik dong!” kata Alvin sambil mencoba melepaskan tarikan Sivia. Saat sudah berhasil lepas, Alvin menoyor kepala Sivia.
“Aduuh, Alvin gak usah pake noyor kepala gue deh! Oh iya, di kantin elo yang traktir ya?” kata Sivia.
“Masih inget aja sama janji gue waktu itu.” Kata Alvin cuek.
“Iya dong! Urusan makan nomor 1, bro! Hahaha...” kata Sivia tertawa renyah.
Setelah sampai di kantin, Sivia memilih meja favoritnya dan segera menyuruh Alvin untuk memesankan bakso dan jus strawberry.
Setelah menunggu 10 menit akhirnya pesanannya datang juga.
“Makasih, Mba.” Kata Sivia kepada orang yang mengantarkan pesanannya. Sivia segera memakan bakso pesanannya.
Tiba-tiba BB Torch miliknya bergetar dari dalam saku roknya menandakan ada telepon masuk.
(Mrs. C = Mrs. Chevalier / Mama Sivia)
Sivia : Halo, Mah. Ada apa?
Mrs.C : Mamah minta maaf sayang. Hari ini mamah sama papah gak bisa jemput kamu. Kami ada urusan di Ausie sekitar sebulan. Ini juga udah sampai di bandara.
Sivia : Hah? Ke Ausie? Sebulan? Terus ntar yang jemput Sivia Kak Felix dong?
Mrs. C : Aduh, mamah lupa bilang! Kakak kamu juga mau pergi ke Seoul nemuin nenek disana. Kira-kira sebulan juga.
Sivia : Lho? Sivia sendirian di rumah dong?
Mrs. C : Gak kok. Mamah udah bilang ke temen mamah kalo anaknya disuruh jagain kamu di rumah.
Sivia : cowok apa cewek Mah?
Mrs. C : cowok, Sivia. Tapi, dia anaknya baik kok.. Kamu tenang aja. Bi Yem sama Pak Tatang juga ada di rumah. Ya udah deh mamah berangkat dulu ya sayang? Ini pesawatnya udah mau take off. Jaga diri baik-baik.
Sivia : Tapi, Mah...
TutTutTut
Sambungan telepon di putuskan oleh Mrs. Chevalier.
Tepat pada saat itu, ada SMS masuk ke I-Phone 4 berwarna hitam milik Alvin.
From : Mamah
Vin, Ntar kamu pulang sekolah langsung ke rumahnya Tante Cheva. Barang-barang kamu udah disana. Mamah sama papah ada urusan di Aussie.
To: Mamah
Ngapain Alvin ke rumah tante Cheva?
From : Mamah
Jagain anaknya.
To : Mamah
Emangnya Alvin baby sitter! Emang rumahnya dimana, Mah?
From : Mamah
Di Kompleks Taman Sari blok 8. Tanya orang sekitar situ pasti tau deh.
“Eh, elo tau gak rumahnya Tante Cheva?” tanya Alvin kepada Sivia.
“Tante Cheva? Itu nyokap gue, bego! Hah? Jadi elo yang bakal njagain gue?!!” ucap Sivia shock.
“Hah? Jadi elo yang bakal gue jagain? Oh My God! Gue mimpi apasih semalem!”
“Ah, sebenernya seneng kan lo? Ngaku aja deh. Kapan lagi bisa serumah sama cewek cantik kaya gue!” narsis Sivia agak keras.
“Hmmpptt.” Alvin membekap mulut Sivia.
“Ga usah kenceng-kenceng deh ngomongnya. Lo mau satu sekolah tau kalo kita bakal serumah? Kalo gue sih ogah.” Kata Alvin.
“Ya ga usah pake mbekap mulut gue dong.” Omel Sivia.
Tiba-tiba Zahra datang saat mendengar ocehan Sivia.
“Eh, siapa yang bakal serumah sama siapa?” tanya Zahra.
“Lo sama titisan nyi blorong! Puas lo?” kata Sivia cuek sambil meminum jusnya.
“Biasa aja kalee, Bu! Eh, ada Alvin.. Ngapain elo disini, Vin? Mending sama gue daripada sama nih kunyuk satu.” Ucap Zahra sinis. Sivia hampir tersedak dibuatnya.
“Eh, bilang apa lo barusan!” Sivia tak mau kalah.
“Udah deh, ga usah pda ribut. Gue sama Sivia juga udah mau pergi kok, Ra. Sorry ya?” ucap Alvin cuek kemudian langsung menggandeng tangan Sivia. Sivia hanya menurut.
“Eh, Vin.” Kata Zahra berusaha mencegah. Sivia hanya menjulurkan lidahnya kemudian tertawa senang.
“Eh, kenapa lo? Ketawa-ketawa sendiri? Saking senengnya ya gue gandeng?” tanya Alvin narsis.
“Ish! Ogah gue.” kata Sivia sambil melepaskan gandengan Alvin dan langsung berjalan 2x lebih cepat mendahului Alvin.
“Eh, Sivia tunggu. Gue mau ngomng.” Kata Alvin yang langsung mengejar Sivia.
Zahra sangat membenci pemandangan itu. Harusnya gue yang sama Alvin! Bukan elo!! Dasar cewe gatau diri! Batin Zahra kesal.
Tapi, kenapa ya Sivia kok gak ramah banget ke Zahra?
FLASHBACK ON...
Dua orang cewek berpakaian putih biru terlihat sedang bertengkar hebat di sebuah taman yang cukup sepi di hari yang panas itu.
“Maksud lo apa sih, Ra !! Dia itu cowo gue!! Kenapa lo rebut dia seenak jidat lo!” bentak salah seorang cewek.
“Suka-suka gue dong!! Gue tu gak suka sma lo Sivia, kenapa semua cowok yang gue suka selalu aja dekat sama lo ! Gak Kak Debo, Kak Ray, dan masih banyak lagi!!” bantak cewek yang bernama Zahra itu.
“Itu sih derita lo! Tapi, kak Ozy kan pacar gue! DAN LO GAK BERHAK BUAT REBUT DIA DARI GUE !!!” Sivia memberi penekanan pada huruf yang di caps lock.
“Hahaha... Tapi, dia udah jadi milik gue!!” kata Zahra sinis.
“Lo tuh ya...!!” sungut Sivia sambil mendekat ke arah Zahra dan menunjuk langsung mukanya.
“Dasar cwek MURAHAN LO !! Udah ambil aja tuh KAK OZY!! GUE GAK BUTUH DIA!!!” bentak Sivia sambil mengeluarkan air mata.
FLASHBACK OFF
Back to Alvin-Sivia
“ADUUHH!!! Mampus gue! Ada Jo.” Sivia sangat panik sehingga dia menarik tubuh Alvin untuk menyembunyikan dirinya.
“Eh, ngapain sih lo?!” kata Alvin kesal.
“Udah diem aja lo!” Sivia langsung menarik tubuh Alvin, jadi dia bersembunyi dibelakang Alvin. Alvin hanya bisa menurut saja karena kalau dia berdebat dengan Sivia tidak akan pernah selesai.
Ternyata, Jo hanya menyapa temannya dan sama sekali tidak memperhatikan keberadaan Alvin. Setelah Jo pergi, Alvin segera membalikkan badannya sehingga dia berhadapan dengan Sivia.
“Elo sih! Kalo suka tuh samperin..Jadinya kan gak perlu ngumpet-ngumpet segala. Gue juga kan yang repot.” Omel Alvin.
“Ahelah Cuma gitu doang juga masa ngambek sih, Vin. Gak cakep lagi deh tuh muka.” Goda Sivia.
“Ish! Apaan sih lo... Jangan nurunin pasaran gue ya!”
“Bah ! Memang ada cewek yang mau dengan cowo macam kau ini.” Kata Sivia dengan logat Bataknya (Kok jadi batak sih? Bodo amat #PLAAK. Abaikan)
“Siapa sih yang gak suka sama seorang ALVIN JONATHAN yang super ganteng ini.” Narsis Alvin.
“Najis lo!” kata Sivia yang kemudian meninggalkan Alvin dengan kenarsisannya.
 “Eh, tadi elo mau ngomong apa, Vin?” tanya Sivia.
“Ntar gue ga langsung ke rumah elo ya? Gue mau ke toko buku dulu.” Kata Alvin.
“Lah terus gue gimana?” tanya Sivia nelangsa.
“Iya elo pulang naik taksi kek.” Cuek Alvin.
“Ogah gue! Kan elo yang disuruh jagain gue ntar kalo gue kenapa-kenapa lo juga kan yang repot.” Sivia tak mau kalah.
“Bawel banget sih elo jadi cewek! Ya udah lo ikut gue aja.” Kata Alvin akhirnya menyerah.
================ooOoo=================
Saat pulang sekolah
“Hei bro! Gue liat seharian ini lo ceria banget.” kata Cakka.
“Hah? Perasaan biasa aja deh.” Kilah Alvin.
“Gak usah ngelak elo deh! Gue tuh sahabatan sama lo udah dari waktu lo mipisin kaki gue! BTW karena apasih? Gara-gara lo deket sama Sivia ya? Ngaku lo..Lo suka sama dia ya?” goda Cakka.
“Apaan sih! Udah sana urusin aja pacar lo tuh. Gue pergi dulu.” Ucap Alvin sambil berlalu saat melihat Sivia dan Shilla mendekat.
“Alvin kenapa tuh?” tanya Sivia.
“Au tuh! Samperin sana yayang lo.” Goda Cakka.
“Mau gue jitak lagi lo!” ancam Sivia.
“Iya iya sorry Sivia. Abisnya kalian deket banget sih.” Ucap Cakka membela diri.
“Tau deh. Ya ampun gue lupa ada urusan! Gue pergi dulu ya, Shill.. Kka.”
“Urusan apa Sivia?” tanya Shilla.
“Rahasia!” ucap Sivia setengah berlari.
Sivia berlari menuju parkiran, disana dia melihat Alvin sedang memainkan ponselnya sambil bersandar di sebuah mobil Ferrari f430 scuderia berwarna abu-abu. Tanpa berpikir, Sivia segera menghampiri Alvin dan berhenti di sebelah Alvin.
“Ngapain sih lo lama amat?” omel Alvin sambil menyimpan HP kedlam sakunya.
“Sorry.. Ya udah yuk cepet!” ajak Sivia.
“Hmm.. Ya udah. Cepetan lo naik.” Ujar Alvin jutek.
“Jleebb banget hati gue, Vin. Jutek banget sih elo!” erang Sivia.
“Ngaruh ya sma lo?!!” sinis seseoorang yang tiba-tiba datang tak diundang, pulang tak diantar. (Kok jadi nyambung ke jelangkung sih? #Pletaakk. Abaikan).

BERSAMBUNG ~
siapa tuh yg 'tiba-tiba datang tak diundang, pulang tak diantar'?
pasti udah ketebak kan? :D

kepastian cinta part 2

hai, aku penuhin janjiku... nih aku bwa lanjutan cerbung yg kmaren.. ada yg nunggu gk? gk ada ya :(
ah, bnyk ngmong... langsung aja yuk ~

PART SEBELUMNYA ~

Sivia pun berjalan menuju gerbang sekolahnya dan segera menunggu taksi. Tapi, tiba-tiba sebuah cagiva berhenti didepannya.
Eh, siapa nih? Jangan-jangan gue mau diculik nih! Oke.. Siapkan kuda-kuda. Batin Sivia. Dia pun segera menyiapkan kuda-kuda untuk mempertahankan diri.

KEPASTIAN CINTA PART 2

Tetapi, saat pengendara motor itu melepaskan helmnya, Sivia melongo saking kagetnya.
“Elo !” pekik Sivia. Pemilik cagiva itu hanya tertawa terbahak-bahak.
“Ngapain lo pasang pose gituan disini.. Kesambet apaan lo?” ledek orang itu yang ternyata adalah ALVIN JONATHAN.
Muka Sivia pun segera memerah. Dia menjadi salting.
“Suka-suka gue dong!” sengit Sivia menutupi malunya.
“Ngapain lo disini?” tanya Alvin tanpa babibu.
“Nggembel ! Ya nunggu taksi lah.” Omel Sivia.
“Hehehe.. Jangan marah dong. Tambah jelek tuh muka.” Ledek Alvin- lagi.
“Iih. Lo disini Cuma mau ngajak gue ribut apa? Kurang kerjaan banget sih elo!” kesal Sivia.
“Sorry deh, sorry.”
“Gak segampang itu. Sebagai gantinya elo harus nganterin gue pulang ke rumah.”
Hihihi..Lumayan kalo nebeng nih cowok! Bisa ngirit ongkos! Pikir Sivia.
“Idiih.. Ogah gue.” tolak Alvin.
“Eh, kalo ga mau gue teriak nih kalo elo mau nyulik gue!” ancam Sivia.
“Iya..iya deh. Dasar kunyuk! Rumah lo dimana?”
“Biarin! Dariapada elo titisan genderuwo njengking! Rumah gue di kompleks Taman Sari blok 8.”
“Sialan lo! Buruan deh naik.” Kata Alvin.
Sivia pun membonceng di cagiva milik Alvin. Alvin pun segera melintasi jalanan menuju rumah Sivia.
Akhirnya mereka pun sampai di depan sebuah rumah yang sangat mewah setelah 15 menit bermotor ria #lebaydeh. Rumah itu berwarna coklat cream dengan garasi besar yang bisa memuat 5 mobil.
“Ini rumah lo?” tanya Alvin.
“Iya. Ya udah maksaih ya, Vin.” Kata Sivia.
“Iye.. Iye Kunyuk.”
PLETAKK
Sebuah jitakan berhasil tepat mengenai kepala Alvin.
“Aduuhh! Sakit, Sivia!” sungut Alvin.
“Abisnya elo sih! Pake manggil gue ‘kunyuk’. Ya udah deh sono pulang. Sering-sering aja deh ya nganter gue pulang.” Canda Sivia.
“Ogah gila gue! Mending gue nganter anjing tetangga gue kencan.” Alvin pun segera mengandarai cagiva miliknya melintasi jalanan komplek Taman Sari sambil tertawa terbahak-bahak.
“SIALAN LO, VIN!” teriak Sivia.
---oooOOooo---
Pukul 18.18
Sivia sedang berkutat dengan PR fisikanya, saat tiba-tiba BB Torch miliknya berbunyi menandakan ada telepon masuk.
Siapa sih tu? Gak tau apa orang lagi sibuk gini! Batin Sivia kesal.
Ah, biarin aja deh. Palingan juga gak penting! Batin Sivia kemudian.
BB miliknya tak berhenti berbunyi. Saat BBnya berbunyi untuk yang kedelapan kalinya, akhirnya Sivia pun mengangkat telepon dari entah siapa.
(NN = No Name)
Sivia : Halo?
NN : Eh, kunyuk balikin catetan gue!
Sivia : Eh, siapa lo? So kenal banget ! Gak sopan banget! Panggil-panggil gue kunyuk lagi!
NN : Gue ALVIN JONATHAN KETUA KELAS XI IPA-2 !!!!
Sivia : Eh, Alvin. Hehehe... Sorry! Gimana ya? Orang rumah lagi pada pergi. Gue gak bisa nganter catetan elo deh, Vin.
Alvin : Gue gak mau tau! PR Fisika gue belom gue kerjain, kunyuk!!! Ya elo kesini sendiri. Elo kan udah gede!
Sivia : Gue kaga tau rumah elo dimana, Alvin titisan genderuwo kejengkang!!
Alvin : Rumah gue di kompleks Gatot Subroto Blok 6B. Cepet deh elo kesini!
Sivia : Kenapa gak elo aja sih yang ngambil?
Alvin : Kan elo yang minjem! Cepet gue tunggu!
TutTutTut
Alvin memutuskan teleponnya, Sivia pun segera berganti baju dan turun ke bawah.
“Bi Yem. Tau kunci motor Vario punya Sivia ga?” tanya Sivia pada seorang wanita berusia 50 tahunan yang ternyata adalah pembantu yang telah mengabdi kepada keluarga Chevalier selama 10 tahun.
“Tadi dibawa sama Mas Felix. Kata Mas Felix kalo Non Sivia mau pergi pake mobil punya non aja.” Terdengar suara Bi Yem dari arah dapur.
“Aargghhtt!! Ka Felix!! Nyusahin aja sih.” Berang Sivia. Dia pun kemudian berlari kearah kamarnya untuk mengambil kunci mobil Ferrari F430 Spider miliknya.
“Bi, ntar kalau pada nyariin bilang Sivia lagi di rumah Alvin ngerjain tugas.”
Setelah itu, Sivia segera mengendarai mobilnya keluar dari garasi menuju kompleks rumah Alvin.
Stelah 30 menit perjalanan, Sivia pun sampai di kompleks Gatot Subroto blok 6B. Tapi, dia bingung, karena banyak rumah disitu. Sivia pun mengambil BB nya dan segera menghubungi Alvin.
Alvin : Ada apa? Cepet gue udah nunggu lama nih!
Sivia : Sabar dong! Gue bingung yang mana rumah elo! Disini kan gak cuma ada satu rumah!
Alvin : Oh iya gue lupa ngsih tau elo. Elo sekarang di mana?
Sivia : Gue di depan gerbang pintu masuk kompleks rumah lo.
Alvin : Rumah gue yang catnya warna coklat. Lo lurus aja. Rumah gue nomor 6 dari pertigaan yang ada didepan elo.
Sivia : Oke!
Sivia menutup teleponnya dan segera melaju menuju arah yang diberitahu Alvin.
“Nih dia nih pertigaannya. Terus nih rumah nomor 1....2....3....4......5......6. Bingo! Ketemu juga rumah titisan genderuwo itu.”
Sivia pun segera memasuki halaman rumah Alvin dan memakirkan Ferrarinya di halaman rumah Alvin yang memang sangat luas. Kemudian dia berjalan menuju rumah yang sangat besar dan mewah itu.
Sementara itu, di dalam Alvin mendengar suara mobil yang di parkirkan di halaman rumahnya.
Kok gue kaya pernah dengar suara mobil onoh ya pikir Alvin.
Belum sempat Alvin meneruskan pikirannya itu, terdengar suara bel dibunyikan. Dia segera membukakan pintu rumahnya dan terkejut mendapati Sivia lah yang tadi membunyikan bel rumahnya.
“Gue dateng kan!” kata Sivia bangga.
“Iya.. Iya.. Sini masuk dulu.” Ajak Alvin. Sivia akhirnya mengekori Alvin masuk ke dalam rumah Alvin.
“Duduk dulu. Mau minum apa?” tanya Alvin.
“Emm.. Jus jeruk.” Jawab Sivia.
“Bentar ya.. Bi Sum. Tolong buatin jus jeruk 2 ya!” teriak Alvin.
“Beres, Den!” jawab Bi Sum sambil berteriak juga.
“Nih buku lo.” Kata Sivia menyodorkan buku milik Alvin.
Saat Alvin akan mengambilnya, buku itu malah ditarik lagi oleh Sivia. “Ada syaratnya...” kata Sivia menantang.
“Apaan sih? Itu kan buku punya gue!”
“Ya udah kalo gak mau! Gue pulang lagi nih.” Ancam Sivia.
“Ah elo! Ngancem mulu sih! Syarat apaan?” tanya Alvin kesal.
“Gini nih... Elo kan pinter ya, Vin! Ajarin gue PR Fisikanya dong. Banyak yang gue gak ngerti.” Pinta Sivia tulus.
“Emm... Mau gak ya?” Alvin sok mikir sambil meletakkan telunjuknya di dagu.
“Please, Vin! Gue gak mau nih besok dihukum sama Bu Amor.. Mbayanginnya aja gue ngeri, Vin.”
“Iya deh. Sini gue ajarin.” Alvin akhirnya luluh juga.
“Ini den jusnya.” Kata Bi Sum yang datnag membawa nampan berisi 2 jus jeruk yang kemudian ditaruh diatas meja.
“Eh, ini pacarnya ya? Cantik banget.” celetuk Bi Sum. Muka Sivia seketika itu berubah merah.
“Bi Sum so tau ah. Ini temen Alvin. Namanya Sivia Alexis Chevalier. Panggil aja Sivia, Bi.” Jelas Alvin salah tingkah.
“Eh..Iya, Bi. Sivia..” kata Sivia memperkenalkan dirinya kepada Bi Sum.
“Saya Bi Sum, Non.. Kalau gitu saya ke dapur dulu ya den..” pamit Bi Sum.
“Iya, Bi.”
Sivia dan Alvin segera meminum jus jeruk buatan Bi Sum. Setelah itu terjadi keheningan total.
2 menit....

4 menit..

6 menit...

8 menit....
“Ya udah, cepet sinih gue ajarin elo PR Fisikanya. Ntar keburu malem lagi” Kata Alvin memecahkan keheningan.
“Iya, dasar lo titisan bawel!” omel Sivia.
Alvin dengan sabar mengajari Sivia hal-hal yang tidak Sivia mengerti. Setelah itu dia memberikan Sivia soal untuk dikerjakan.
“Nih, gue udah selesai. Coba lo koreksi.” Kata Sivia.
“No.8 slah nih. Masa soal ginian aja lo kaga bisa, nyuk!” ejek Alvin.
“Bawel lo ah. Ya ajrin dong!” omel Sivia. Alvin pun segera mengajari Sivia soal yang tadi dia slah mengerjakannya. Saat Alvin mengajarkan Sivia, jarak mereka sangat dekat. Jantung Sivia berdegup tidak karuan.
Duh, jantung gue kok marathonan gini sih?!! Masa iya gue suka sama nih titisan genderuwo njengking? Gak mau gue! seru Sivia dalam hati.
Eh, Sivia cantik juga nih. Kok gue baru nyadar ya? Kemana aja gue selama ini sampe gak nyadar ada cewek cantik deket gue tiap hari! Eh, kok gue jadi mikir gini sih? Gak mungkin kan gue suka sama nih kunyuk satu! Batin Alvin.
“Nah, udah ngerti kan lo?” tanya Alvin kepada Sivia sambil menata jantungnya yang tadi sempat berdegup tidak karuan.
“Ngerti. Ya udah deh ya..Gue balik dulu. Makasih buat semuanya ya, Vin. Bye.” Pamit Sivia sambil mengatur nafasnya.
“Bye..” kata Alvin sambil mengantar Sivia ke depan rumahnya.
“Jadi.. Ithu mobil lo?” tanya Alvin saat melihat Ferrari milik Sivia.
“Iya. Napa? Naksir lo sama mobil gue?!” ceplos Sivia.
“Ogah gue! Gue heran aja, punya gue juga Ferrari.”
“Oh. Gak nanya.” Sivia mengakhiri pembicaraannya dan segera menaiki mobilnya keluar halaman rumah Alvin untuk pulang ke rumahnya.
“Sivia PULANG!!!!” teriak Sivia saat sudah sampai di rumahnya.
“Ga usah berisik deh lo! Ganggu orang nonton tv aja.” Omel Kak Felix.
Sivia hanya menjulurkan lidahnya sebagai jawaban dan segera duduk disamping kakaknya untuk ikut menonton tv.
“Eh, darimana lo jam 9 baru pulang?” tanya Kak Felix.
“BE-LA-JAR” jawab Sivia penuh penekanan.
“Weeiittsss.. Sejak kapan lo jadi rajin belajar gini? Lo Sivia kan? Ato jangan-jangan lo titisan Nyi blorong yang pura-pura jadi adek gue.” oceh kak Felix.
“Eh, cantik-cantik gini lo bilang titisan nyi blorong. Enak aja lo! Ya udah deh gue ke kamar dulu ya? Ngantuk gue. Night Kak.”
“Night.”
Sivia merebahkannya tubuh di kasurnya. “Hmmp.. Ngantuk banget gue! Tapi, kok kaya ada yang kelupaan ya? Ah tau deh... Mending gue tidur..” Sivia pun segera terlelap dibuai oleh mimpi indahnya.
Tapi, apa yang sebenarnya Sivia lupakan?
---oooOOooo---
Keesokan harinya
Terlihat seorang gadis yang sedang sibuk berdandan untuk berangkat ke sekolah. Dia terlihat sangat terburu-buru pagi ini. Dia segera menyisir rambutnya dan memakai jepit rambut berwarna coklat agar sesuai dengan seragamnya. (rok rimpel warna coklat sepanjang lutut and baju warna putih pake dasi yang disilang gtu tau kan? Wanana coklat juga)
“SIVIA !! Buruan napa?! Gue bisa telat nih!” teriak Kak Felix dari ruang makan sambil melihat jam tangannya. Arrrgghhttt...jam 06.30 bisa telat gue nih! Sivia pake acara telat bangun lagi! Omel Kak Felix dalam hati.
“Iya! Ini Sivia udah mau turun!” teriak Sivia.
2 menit kemudian
Sivia turun dari kamarnya yang terletak di lantai 2 rumah itu, dia terlihat cantik and cool memakai seragam SMA nya.
“Yuk berangkat, Kak.” Ajak Sivia dengan watados-nya.
“Lama banget sih elo! Telat gue nih!” omel Kak Felix dengan muka ditekuk.
“Sorry, Kak. Gak lagi-lagi deh.” Sesal Sivia.
“Sivia gak makan dulu?” tanya Mrs.Chevalier, mamanya Sivia.
“Gak deh, Mah. Kak Felix udah meraung-raung nih!” kata Sivia sambil berjalan mendekati mama dan papa nya yang sedang minum kopi di ruang tengah.
“Sivia, berangkat dulu ya, Mah..Pah.” pamit Sivia kepada kedua orang tuanya.
“Ati-ati di jalan ya, sayang.” Kata Mr.Chevalier, papa Sivia.
“Iya.”
================ooOoo=================
Di dalam mobil Nissan Skyline r3xx milik Kak Felix, terlihat Kak Felix yang uring-uringan karena telat datang ke kampusnya di UI.
“Gara-gara elo, nih Sivia! Untung gue tau jalan pintas biar gak kena macet.” omel Kak Felix
“Kakak nih bawel banget! Telat ngapain emangnya?” tanya Sivia bingung.
“Telat ke kampus lah, odong!”
“Ke kampus? Ngapain, Kak? Sekarang kan hari Rabu emangnya Kak Felix ada jadwal kuliah?” tanya Sivia.
“Hah? Rabu? Hahahaha.... Gue kira sekarang Kamis! Huufft untung deh! Ya sekarang berarti gue tinggal nganter elo terus abis itu sante-sante di rumah.” Kata Kak Felix terlihat sangat lega.
“Cape deh! Pikunan banget sih elo, Kak!” kata Sivia yang kemudian ikut teratwa.
Setelah 15 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah Sivia.
“Sivia, berangkat dulu, Kak.” Pamit Sivia.
“Iya. Jangan bikin malu gue lo ye!”
“Bawel lo ah!” kata Sivia yang kemudian melenggang masuk ke dalam gerbang sekolahnya dan berjalan santai menuju kelas XI IPA-2.
“Hei, Sivia!” sapa Shilla yang kemudian merangkul pundak Sivia.
“Hei, juga Shill.”
“Tumben telat nih! Kok malah senyum-senyum gitu? Eh elo udah belajar buat ulangan kimia nanti?” tanya Shilla bertubi-tubi.
“What? Ulangan Kimia? Mati dah gue! Gue buka bukunya aja belon!” panik Sivia sambil menepuk jidatnya.
“Wah, gila lo Sivia! Pak Veri kan wali kelas kita! Bisa tambah runyam maslahnya!” omel Shilla.
“Aduh, gimana dong, Shill?” tanya Sivia sangat panik.
TetTet
Belum sempat Shilla menjawab, bel masuk terdengar nyaring ditelinag semua siswa siswi SMA Alvinoszta. Tapi, tidak bagi Sivia, suara bel itu terdengar seperti musik kematian ditelinganya.
“Mati gue! Mana jam pertama lagi.” Sungut Sivia.
Terlihat seorang guru berwajah galak memasuki kelas XI IPA-2, Alvin sebagai ketua kelas memberi perintah kepada semuanya untuk membari salam kepada guru itu.
“Siapkan kertas, kita mulai ulangannya.” Kata Pak Veri tanpa basa basi.
Semua anak terlihat pucat wajahnya, apalagi Sivia.
“Oh, iya. Sebelum mulai. Pak Guru akan mengundi tempat duduknya. Disini ada  kotak undian. Yang laki-laki mengambil undian. Jadi, nanti laki-laki duduk dengan perempuan. TIDAK USAH PROTES! Ini untuk mencegah kalian menyontek dan menyebabkan kebisingan. Kalian tetap akan duduk dengan lawan jenis sampai kalian naik kelas. Mengerti kalian?”
“Mengerti, Pak.” Jawab anak-anak serempak.
Terlihat beberapa anak ngedumel disana sini.
Setelah semua anak laki-laki mengambil undian, Pak Guru mencatat siapa duduk dengan siapa di buku catatannya.
Kini sampailah pada Alvin.
“Alvin Jonathan, kamu duduk dengan siapa?” tanya Pak Guru.
Alvin agak terkejut melihat nama di secarik kertas itu.

BERSAMBUNG ~
siapa ya 'cewek' beruntung yg duduk sma Alvin Jonathan?

hhe maaf bgt terlalu tanggung....

kepastian cinta part 1

ini karya kakak dan adik kelas gue . bukan copast ya :) ataupun plagiat . ini cuma numpang ngepopulerin karya mba cessa sama dek seva . semoga menyenangkn :)

aku mau coba ngepost cerbung nih.. tapi, bukan karyaku.. ini karya kakak aku..
niatnya mau nge post karyaku. tapi, gk jadi. aku mau ngepost karyaku pas anniv ANH :D

ya udah.. langsung aja yuk...

KEPASTIAN CINTA PART 1


“Gue mau ke kantin nih. Laper. Ikut kaga lo?” tanya Shilla ke seorang gadis cantik berambut sebahu.
“Gak deh. Gue masih nyatet Fisika nih..” Tolak gadis itu.
“Ya udah. Gue ke kantin dulu ya.. baik-baik dalem kelas,” pamit Shilla.
Sekarang dalam kelas XI IPA-2 hanya tertinggal kesunyian, karena di dalam kelas hanya ada gadis berambut sebahu itu dan seorang cowok tinggi berwajah cuek.
Tiba-tiba...
PLUK!!
Sebuah penghapus papan tulis yang terbuat dari kayu berhasil tepat mengenai jidat seorang cewek manis berambut panjang.(Ga tau tuh kenapa bisa kena jidat #PLAKK. Abaikan)
“Alvin!! Lo harus bayar semua ini!” teriak cewek itu sambil memegang jidatnnya yang terkena lemparan penghapus papan tulis.
“Ah, ribut lo! Yuk ikut gue!” ajak Alvin.
“Eh. Tapi, tanggung jawab dulu dong,” tolak Sivia.
Ya, Nama cewek itu adalah Sivia, lengkapnya Sivia Alexis Chevalier .
“Iya ini gue mau tanggung jawab. Lo pikir gue mau ngajak lo ke mana? Ke mall? Yuk ah cepet!” Alvin ngotot. Sivia pun tidak melawan saat tangannya ditarik oleh Alvin. Ternyata Alvin mengajaknya ke UKS.
“Lo duduk dulu di sini. Gue cari petugas UKS nya dulu,” kata Alvin.
“Iya. Cepet gih!” kata Sivia masih meraba-raba dahinya.
“Duh, benjol gak ya? Gara-gara Alvin sialan itu!” omel Sivia saat Alvin sudah pergi.
Sementara itu, Alvin sedang mencari petugas UKS di kantor.
“Permisi, Bu. Bu Evinya ada?” tanya Alvin kepada salah satu guru.
“Bu Evi... Oh iya beliau tidak berangkat hari ini karena sedang sakit.”
“Oh ya sudah. Makasih ya, Bu.”
Alvin pun kembali ke UKS, dari kejauhan dia melihat Sivia yang masih meraba-raba dahinya.
“Petugasnya gak ada. Elo obatin sendiri aja ya?” kata Alvin.
“Hah? Gimana caranya? Gue gak bisa. Elo dong yang harus ngobatin gue. Ini kan gara-gara lo, Vin!” protes Sivia.
“Iya deh. Sini.” Alvin pun mengobati luka di dahi Sivia dengan penuh perhatian.
“Vi, gue minta maaf ya? Gue bener* gak sengaja.” Kata Alvin meminta maaf.
“Ada syaratnya dong!” kata Sivia sambil tersenyum manis.
“Apaan?”
“Traktir gue makan di kantin. Gue laper.” Kata Sivia sambil tertawa.
“Gampang deh. Lo mau beli apa aja, gue yang bayar.” Kata Alvin ikut tertawa.
“Yuk, ini udah selesai gue obatin. Gak benjol kok Cuma sedikit luka.” Lanjut Alvin.
“Bener? Gue ngaca dulu deh.” Sivia pun bercermin dengan cermin yang berada di UKS sambil merapikan penampilannya. “Oh iya. Cuma luka. Thank’s ya.” tambahnya sambil tersenyum manis.
“Hmm.. Udah gppa kan? Gue balik dulu ya..” pamit Alvin yang segera ditahan oleh Sivia.
“Eh, jgn kabur lo ye! Mana janji lo, hah!?” tagih Sivia sambil berkacak pinggang.
“Hehehe.. Oke deh.. Yuk!” ajak Alvin yang kemudian berjalan berdua dengan Sivia.
“Eh, pokoknya gue beli apa aja, lo yang bayar.” Tegas Sivia.
“Iya ! Bawel lo ah!” kata Alvin sambil bersungut-sungut.
Setelah sampai di kantin, Sivia langsung duduk di meja paling pojok.
“Kok lu milih disini sih?” kata Alvin ngeri. “Jangan-jangan...”
“otak mesum emang lo ye! Gue suka disini.. ademm..” jelas Sivia.
“Oh.. Ya udah lu mau pesen apa?” tanya Alvin.
“Emm.. bentar.. Gue mikir dulu.. Gue peseeeennnn... JO!!” kata Sivia panik banget.
“Jo? Makanan apaan tuh? Baru dengar gue.” kata Alvin bingung sambil garuk* kepala.
“Bukan makanan, bego! ITU JO...JOSEPH PANDUWINATA dari kelas XI IPS-3, itu baru dateng sebelah sana!!! Sekarang sadar kan lo?” kata Sivia histeris sambil menunjuk kearah cowok tinggi manis berkulit sawo matang yang dikenal sebagai ketua OSIS di SMA Alvinoszta itu.
“Oh. Kenapa emang?” tanya Alvin gaje.
“iih.. Dia kan cakep banget. Sumpah.. Klepek-klepek gue, Vin. Gue ngefans sma DIA!” kata Sivia sambil menerawang.
“Cakepan juga gue..” kata Alvin PD setengah mati.
“Idiih.. Aduuh.. Jo kesini lagi. Sembunyiin gue.. sembunyiin gue, Vin!!” kata Sivia panik sambil menarik Alvin kedepan meja sedangkan Sivia bersembunyi di bawah meja agar tertutupi Alvin.
“Apaan sih lo?! Ribet amat jadi cewek!” Alvin mendengus kesal.
“Ssstt..Diem.. Udah tutupin gue aja. Makk dia dateng....” Kata Sivia panik banget nget nget nget. #4L4y#
“Hai, bro!” sapa Jo kepada Alvin.
“Oh..Hai, sob!” balas Alvin gugup.
“Ngapain lo disini sendirian. Vin? Mending ikut gue aja yuk. Main basket” Ajak Jo
“Gak deh. Gue laper nih.” Tolak Alvin. Tiba-tiba dari bawah meja terdengar bunyi bersin. Cewe bego! Batin Alvin.
“Eh, apaan tuh?” tanya Jo sambil melirik kebawah meja.
“Eh, bukan apa*..Cuma..Cuma kucing..kucing liar !” kata Alvin ngeles sambil berusaha menutupi Sivia dari pandangan Jo.
“Oh.. ya udah deh. Gue cabut dulu ya?” pamit Jo masih menyisakan tanda tanya (?) Kok Kucing bisa bersin (?)
“Oke!” kata Alvin sambil tersenyum.
Sivia keluar dari tempat persembunyiannya dan segera menjitak kepala Alvin keras banget...
PLETAKK
“Aduuh.. dasar gak tau terima kasih lo ya! Udah gue tolongin juga.” Sungut Alvin.
“Lagian ngapain lo bilang gue itu KUCING LIAR hah?!” tanya Sivia sambil berkacak pinggang.
“Hahaha.. Sorry.. Reflek guenya. Ngomong-ngomong.. muka lu lucu amat ya! Merah kaya kepiting rebus!” ejek Alvin.
“Sialan lo!”
PLETAKK
Satu jitakan berhasil mendarat lagi di kepala Alvin. “Rasain lo! Hahaaha” Sivia tertawa kemudian langsung ngeloyor pergi.
“Eh, gak jadi makan lo?” tanya Alvin.
“Kaga.. Kenyang gue...kenyang njitakin elo!” jawab Sivia sambil tertawa berjalan menuju kelasnya.
“Sialan lo, Vi!” teriak Alvin marah.
Yang diteriaki hanya menjulurkan lidahnya dan segera berlalu dari hadapan Alvin.
“Dah dulu ye, ALVIN JONATHAN... Kapan* gue tagih lagi janji elo!” balas Sivia.
---oooOOooo---
Sampai di kelas, Sivia segera menghampiri sahabat baiknya, Shilla yang sedang mengobrol seru dengan teman-teman sekelasnya.
“Shilla tayaaaang... Gue pengin cerita nih sama ayang Shilla..” kata Sivia narsis sambil menjawil dagu Shilla.
“Idiih.. kelakuan lo najis tralala trilili ye, Vi!” kata Shilla bergidik.
“Hahaha... Yang penting tetep cantik.” Kata Sivia PD.
“Serah lo deh, Vi.” Shilla menyerah menanggapi kelakuan Sivia yang udah kaya banci kaleng.
“Eh, gue mau cerita nih, Shill.” Kata Sivia mulai serius.
“Cerita apaan?” tanya Shilla yang sekarang mengubah posisi duduknya sehingga berhadapan dengan Sivia.
Sivia pun menceritakan kejadian dari mulai dia dilempar penghapus oleh Alvin sampai dia bisa kembali ke kelas.
“Hah? Seorang ALVIN JONATHAN yang super cuek onoh bisa kaya gitu?” Shilla terkejut.
Oh iya. Writer’s lupa kasih tau Alvin itu kaya gimana orangnya.
Nih, writer’s ceritain... Alvin itu anaknya putih, matannya sipit tapi, ganteeeeng banget... dia juga pinter banget.. anaknya tinggiiiii.. sekitar 178-an deh. Lumayan kan? Itu karena dia main basket.. Dia jago loh main basket.. Makanya dia jadi kapten tim basket di sekolah ini.. Banyak yang ngefans ke dia.. Soalnya selain jago basket and pinter.. mukanya juga bikin klepek* deh! Blasteran* gimana gituuu... And dia itu anaknya orang kaya banget !! Keluarga Alvin punya perusahaan bor di Swiss, Paris, AmSer, London...Makanya banyak yang ngefans tapi, sayangnya dia orangnya cueknya kaga ketulungan._. gak pernah tuh yang namanya ALVIN JONATHAN digosipin pernah deket apalagi nembak cewek... Ckckck..Gilaa yax..
Back to Sivia-Shilla
“Ahelah.. masalah yang pengin gue bicarain mah bukan si Alvin titisan genderuwo njengking itu! Gue mau cerita tentang JO! Gilaa.. Untung tadi Jo gak liat muka gue!! Asli, kalo dia liat muka gue pasti tambah merah banget, Shill.”
“Hmmm.. Gue ke toilet dulu ya?” pamit Shilla.
“Parah lu, Shill! Temen lagi cerita juga..” sungutSivia.
“Kasiiian deh yang dikacangin...” terdengar suara mengejek dari belakang Sivia. Dan ternyata orang itu adalaaaahhhh... ALVIN
“lo lagi lo lagi.. Ngapain sih lo ngikutin gue?” tanya Sivia ke PD an.
“Pede gila lu! Ni kan kelas gue juga.. Gue kan KETUA KELAS DISINI ! skrang dah sadar kan lo?!” teriak Alvin.
“Hehehe.. Piss boss.. Gue lupa.. Hehehe..” Sivia tersenyum gaje.
“Eh, Vin. Gue pinjem catetan Fisika elo dong! Tadi gue gak sempet nyatet.” Pinta Sivia.
“Salah elo sendiri.” Cuek Alvin.
“Eh, setan! Ini juga gara* elo yang kurang kerjaan nglempar penghapus ke jidat gue!” sungut Sivia sambil menunjuk jidatnya.
“Ah.. Iya iya deh. Ngalah gue. Nih.” Kata Alvin sambil memberikan buku catatan fisikanya.
“Thank’s ya Vin. Jadi cakep deh elo. Hahaha..” canda Sivia.
“Gue emang cakep dari sononya.” Narsis Alvin.
“Fitnah!” Sivia tak mau kalah.
“Sialan lo, kunyuk!” kesal Alvin.
Sivia hanya menjulurkan lidahnya sebagai balasan atas perkataan Alvin kepadanya.
---oooOOooo---
TetTetTetTet
Bel tanda pulang sekolah berbunyi dengan nyaring ditelinga Sivia. Yes! Batin Sivia.
Anak-anak kelas XI IPA-2 segera berhamburan keluar kelas, tidak terkecuali Sivia dan Shilla.
“Yuk, Shill pulang.” Ajak Sivia saat sudah sampai dekat taman sekolah.
“Sorry, Vi. Gue udah janjian pulang bareng Cakka.” Sesal Shilla.
“Terus gue gimana dong?” tanya Sivia bingung.
“Ya, lo pulang naek taksi atau angkot.. Kan banyak tuh. Gitu aja kok repot.” Cerocos Shilla.
“Maksud gue... Gue kan kaga berani pulang alone.” Kilah Sivia.
“Bujubuneng. Umur lo berapa sih, Vi? Udah gede juga.”
“Aaahhh... Rese lo ! Ya, udah deh. Gue TERPAKSA nih!” kata Sivia menyerah.
“Sorry, ya sayongss.... Ya udah deh.. Ati* di jalan ya..”
Sivia pun berjalan menuju gerbang sekolahnya dan segera menunggu taksi. Tapi, tiba* sebuah cagiva berhenti didepannya.
Eh, siapa nih? Jangan-jangan gue mau diculik nih! Oke.. Siapkan kuda-kuda. Batin Sivia. Dia pun segera menyiapkan kuda-kuda untuk mempertahankan diri.

BERSAMBUNG ~ lanjut part 2 ya :)