PART SEBELUMNYA~
Alvin terpesona oleh kecantikkan Sivia, dia tanpa sadar mengelus rambut Sivia dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Jantung Sivia berdegup semakin kencang dan dia segera menutup matanya. Semakin dekat... tinggal 2 cm lagi jarak mereka.
Dan....
KEPASTIAN CINTA PART 5
Dan...
“Lo bangun deh. Berat nih.” Ucap Alvin berbisik di telinga Sivia.
Sivia tersentak dan segera membuka mata. Pipinya terasa panas. Dia segera bangkit dari tubuh Alvin (?) dan berlari keluar dari kamar Kak Felix.
Kayaknya gue jatuh cinta sama tuh kunyuk batin Alvin sambil memandang kepergian Sivia.
Sementara itu, Sivia berlari menuju kamarnya.
BRAKK!
Dia membanting pintu kamarnya dan bersandar di pintu kamarnya. Dia memegang bibirnya. Perlahan tubuhnya merosot ke bawah.
Tadi bukan ciuman kan? Kan gue gak sengaja tuh! batin Sivia.
“Gak mungkin..Gak mungkin..Gak mungkin!!” teriak Sivia sambil berlari menuju tempat tidurnya.
“Kok gue tadi deg deg degan ya deket dia? Apa gue mulai suka sama titisan genderuwo itu? Mungkin juga sih!” kata Sivia sambil tersenyum.
Gue suka sama lo ALVIN JONATHAN!!! Teriak Sivia dalam hati.
Tiba-tiba telepon di kamarnya berbunyi..
Kriiiiiing!
Sivia segera mengangkatnya.
Sivia : Halo? Ini siapa?
Alvin : Ini gue Alvin Jonathan, makhluk Tuhan paling sexy!
Sivia : Ish! Jibang!!
Alvin : Jibang apaan tuh?
Sivia : Jijik banget! Ngapain lo nelpon gue? Tinggal dateng langsung ke kamar gue!
Alvin : Gue udah di jalan nih! Gue tadi nelpon ke HP lo ternyata gak aktif. Ya udah gue nelpon ke telepon yang ada di kamar lo! Emang kenapa HP lo kok gak aktif?
Sivia : WOII! Sarap lo ye!! HP gue kan kebanting GARA-GARA ELO YANG SEENAKNYA NARIK-NARIK TANGAN GUE!!!
Alvin : Bujubuneng! Pelan-pelan kalo ngomong dong! Budeg nih kuping!
Sivia : Hehehe.. Ngapain elo telpon gue?
Alvin : Gue mau tanya. Elo mau minta dibeliin apa buat makan?
Sivia : Terserah elo! Beli di Mc D ya?
Alvin : Siiip!
Alvin segera menutup telfonnya dan melajukan mobilnya menuju Mc D yang terletak tidak begitu jauh dari rumah Sivia. Sepanjang perjalanan dia terus saja memikirkan Sivia.
“Eh, gue beliin HP aja kali ya? Salah gue kan sampe Via kaga punya HP lagi?” tanya Alvin pada dirinya sendiri.
Alvin segera membelokkan setirnya menuju Grand Mall city. Disana dia pun menuju tempat penjualan HP.
Beli HP apa ya? Emm..Ah! Gue beliin aja I-Phone 4 yang warna putih! Biar samaan kaya gue! Punya gue item,,punya Via putih. Batin Alvin sambil tersenyum.
“Mas, tolong I-Phone 4 yang white ya?” katanya pada salah satu penjual.
“Baik. Ini dia, Mas.” Kata penjual itu.
Setelah membelikan HP untuk Sivia, dia segera melajukan mobilnya menuju Mc D dan membeli beberapa makanan untuk dirinya dan Sivia.
Pukul 20.00 barulah ia tiba di rumah Sivia. Dia segera membuka pintu dan mendapati Sivia sedang asyik menonton TV. Alvin segera berjalan menghampiri Sivia dan menyembunyikan Hp yang akan dia berikan kepada Sivia di belakang punggungnya.
“Woi! Nih makanan lo!” katanya sambil menyodorkan bungkusan berisi makanan kearah Sivia.
“Thank ya, Vin. Nih udah gue siapin minum. Yuk makan bareng-bareng.” Ajak Sivia.
30 menit kemudian mereka menyudahi acara makan mereka.
“Via...” panggil Alvin.
“Apa?” tanya Sivia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.
“Liat gue dong.” Pinta Alvin.
“Hmm.. Ada apa?” tanya Sivia- lagi. Dia segera mengubah posisi duduknya sehingga menghadap Alvin.
“Nih. Buat elo.” Kata Alvin sambil memberikan kotak berisi HP I-Phone 4 yang baru dibelinya tadi.
“Hah? A..Alvin? Elo serius?” tanya Sivia masih tidak percaya.
“Serius lah! Ini sebagai ganti BB lo yang jatuh tadi.” Ucap Alvin dengan nada cuek.
“E..Eh.. Gue takut ngrepotin elo, Vin. Ga usah juga gapapa kok.” Kata Sivia ragu-ragu sambil menyerahkan lagi Hpnya.
“Jangan nolak! Atau...” kata Alvin dengan diiringi senyuman jahil.
“Atau apa?” tanya Sivia curiga.
“Atau mau gue cium?” goda Alvin sambil memajukan wajahnya sehingga jaraknya sangat dekat dengan Sivia.
“Iih.. Apaan sih lo! Iya..Iya.. Sini gue terima.” Kata Sivia sambil mendorong tubuh Alvin agar menjauh dan mengambil bungkusan tadi.
“Hahaha... Muka lo merah banget, Vi.” Goda Alvin.
“Ish! Ga usah goda-goda gue deh! Gue tidur dulu ya. Ngantuk nih. Night.” Ucapnya pada Alvin.
“Night.” Balas Alvin.
================ooOoo=================
Keesokan paginya
Jam menunjukkan pukul 06.30. Terlihat seorang cewek dan seorang cowok sedang berada dalam mobil Ferrari f430 Scuderia berwarna abu-abu.
Setelah sampai di tempat parkir SMA Alvinoszta, mereka segera berjalan bersama menuju kelasnya di XI IPA-2.
“Eh, Vin! Hari ini kaga ada ulangan kan?” tanya cewek itu yang ternyata adalah Sivia.
“Kaga.” Jawab Alvin dengan nada cueknya. Sebagai jawaban Sivia hanya ber ‘oo’ ria.
Tiba-tiba dari arah belakang, Zahra dengan sengaja menubruk bahu Sivia dengan keras, sehingga Sivia tersungkur ke depan. Sivia yang sangat kaget tidak bisa menjaga keseimbangannya. Untung, pada saat itu, tangan Alvin dengan sigap menarik Sivia ke dalam pelukannya agar Sivia tidak jatuh.
Selama 5 detik mereka berpelukan, sampai...
“Eh! Jangan peluk-peluk Alvin!” bentak Zahra.
“Eh, ini kan gara-gara elo yang kurang kerjaan nubruk-nubruk gue!” omel Sivia setelah melepaskan pelukan Alvin.
“Ya..Ta..Tapi..Gak perlu meluk-meluk Alvin dong!” gugup Zahra.
“Masalah buat lo?!!” kata Sivia nyolot dan segera berjalan cepat menuju kelas XI IPA-2 yang memang sudah tidak jauh lagi.
Alvin hanya menatap cengo kepergian Sivia. Kemudian dia segera menyusul Sivia. Tetapi, tangannya ditahan oleh Zahra.
“Ngapain sih elo pake ngejar-ngejar Via segala?!” tanya Zahra kesal. Zahra memang sudah menyukai Alvin sejak kelas X.
“Masalah buat lo?!!” sungut Alvin meniru kata-kata Sivia dan segera berjalan santai menuju kelasnya.
Zahra hanya bisa menatap kesal kepergian Alvin.
Awas lo, Vi! Gue bales! Ucap Zahra dalam hati.
Di dalam kelas, Sivia segera menuju bangkunya dan melempar tasnya. Shilla kaget melihatnya dan segera menghampiri Sivia.
“Sabar, bu! Sabar! Kenapa sih pagi-pagi udah marah gitu? Jadi nenek-nenek baru tau rasa lo.” Kata Shilla sambil duduk di tempat duduk Alvin.
“Gara-gara siluman!” sungut Sivia.
“Siluman? Zahra maksud lo? Kenapa lagi dia?” tanya Shilla.
“Nubruk gue gitu! Terus ngomel-ngomel gak jelas sama gue lagi!” kata Sivia kesal.
“Aaaargghh!! Kenapa sih gue harus kenal sama siluman satu tu! Lama-lama gue sambel juga dia!” omel Sivia.
“Sabar..Sabar..” kata Shilla menenangkan Sivia.
“Alah.. lo sebenernya seneng kan? Gimana gak? Lo kan tadi gue peluk.” Celetuk Alvin yang tiba-tiba datang sambil memamerkan senyum jahilnya.
“Hah? Serius Vi? Alvin tadi meluk elo?” tanya Shilla terkejut.
“E..Eh..Ga..Gak kok! Lagian elo percaya aja sama omongan dia! Dah pergi sana..hus..hus.. Tuh yayang lo udah nungguin.” Usir Sivia sambil menunjuk Cakka yang sedang duduk.
“Ah..Gak usah boong deh lo..” goda Shilla.
“Ish! Gue tabok baru tau rasa lo!” ancam Sivia.
“Kabuuuuurrrrrrrrrr...” Shilla langsung ngacir dan mendatangi Cakka.
“Hahaha..Tuh liat muka lo merah lagi..” goda Alvin sambil duduk disebelah Sivia.
“Tais-toi! Et arrêter de me taquiner! (Diam! Dan berhenti ngegoda gue!)” Sivia tersenyum jahil dengan perkataannya barusan, dia percaya Alvin tidak akan mengerti sama sekali.
“Désolé.. Vous pensez que je ne comprends pas vos paroles? So..You are wrong, Vi.(Maaf.. Lo pikir gue gak ngerti ucapan lo? Lo salah, Vi) Hahaha...” ucap Alvin menggunakan bahasa Perancis yang sangat fasih.
“Lho Kok bisa?” tanya Sivia cengo.
“Gak Cuma nona Sivia yang lahir and besar di Perancis.” Kata Alvin sok bijak sambil mengacak-acak rambut Sivia.
“Ja..Jadi elo lahir juga di Perancis? Dimana?” tanya Sivia yang sekarang menghadap Alvin karena mulai tertarik dengan asal usulnya.
“Di Montpellier. Kalo lo?” Alvin bertanya balik.
“Paris.”
Tepat pada saat itu, bel masuk berbunyi dan siswa siswi kelas XI IPA-2 menatap heran karena kedatangan Pak Veri, wali kelas mereka. Terdengar banyak celotehan disana-sini.
“Eh, bukannya sekarang kaga ada kimia ya, Ngel? Apa gue yang slah baca jadwal?” celiteh salah satu siswa.
“Kaga kok. Emang kaga ada kimia. Apa Pak Veri yang salah masuk kelas?” Timpal yang lainnya.
“Ehem..” dehem Pak Veri mengakhiri keributan yang terjadi.
“Pasti kalian heran melihat saya memasuki ruangan ini. Saya kesini karena tadi sebelum saya memasuki kelas, ada rapat dewan guru membahas PENSI ALVINOSZTA. Hasilnya adalah, setiap kelas XI wajib take part dalam acara ini, yang berarti kita harus ikut mengisi acara Pensi kali ini dengan menampilkan sesuatu. Kebetulan kelas ini mendapatkan bagian untuk bermain drama. Drama yang dimainkan sudah ditentukan dalam rapat dewan guru, yaitu SLEEPING BEAUTY. Agar tidak ribut. Pak Guru akan mebuat undian siapa saja yang menjadi Pangeran, Putri Aurora (sleeping beauty), raja, ratu, peri jahat, peri baik 1,2,3,4,5,6,dan 7. Serta para pegawai istana dan yang tidak menjadi apa-apa membantu mendekorasikan ruangan Pensi. Silahkan semuanya maju kedepan dan mengambil kertas undian setelah itu kembali ke tempat duduk masing-masing.” (Nih guru perasaan selalu aja bikin undian, pantes tuh muka mirip kotak undian #Plaakk. Abaikan)
Berbondong-bonding mereka maju ke depan kelas dan berebut kertas undian, yang cewek berharap bisa menjadi putri Aurora bersama dengan Alvin.
“Ish! Kenapa gue harus dapet peran ini sih!” omel Sivia saat melihat kertasnnya.
“Emang lo dapet peran apa? Sampe ngedumel gitu.” Tanya Alvin.
“It’s not your bussiness, Alvin Jonathan.” Sivia mengakhiri pembicaraan mereka.
Beberapa menit kemudian keributan pun berakhir dan Pak Veri segera mencatat siapa berperan menjadi apa.
“Pegawai istana..” panggil Pak Veri. Kemudian 10 orang maju dan berdiri di depan papan tulis.
“Shanin..”
“Patton..”
“Siti..”
“Acha..”
“Dea..”
“Kiki..”
“Keke..”
“Obiet..”
“Lintar..”
“Rio..”
Mereka menyebut nama mereka masing-masing yang kemudian dicatat oleh Pak Veri.
“Para peri baik..”
7 orang pun maju kedepan.
“Oik..”
“Angel..”
“Agni..”
“Ify..”
“Pricilla..”
“Febby..”
“Olivia..”
Pak Veri kembali mencatat nama-nama itu.
“Peri jahat..” panggilnya.
Zahra segera berjalan bak seseorang yang telah memenangkan penghargaan nobel (Lebay gue!)
“Zahra, Pak Veri.” Ucapnya lalu berdiri di samping pemain yang lain.
“Raja dan Ratu..”
Cakka dan Shilla tersenyum senang kearah Sivia. Sivia terkejut, tetapi kemudian dia segera membalas senyuman mereka.
“Cakka dan Shilla..” mereka tersenyum puas sambil bergandengan tangan.
“Kenapa lo?” tanya Alvin ketika melihat perubahan raut muka Sivia.
“Gue Cuma heran aja. Bintang keberuntungan mereka kok bersinar terus ya? Selalu sma-sma gitu.” Oceh Sivia. Alvin hanya terkekeh mendengarnya.
“Yang pasti bintang keberuntungan gue lagi redup atau udah off kali, jadinya gue sama-sama elo mulu.” Ejek Alvin.
“Shut up!” kesal Sivia.
“Putri Aurora dan Pangeran..”
Anak kelas XI IPA-2 kembali ribut karena pangeran dan putri Aurora adalah peran utama dalam drama ini.
“Putri Aurora dan Pangeran!” panggil Pak Veri dengan nada yang lebih tegas.
Tiba-tiba Alvin menarik tangan Sivia untuk maju ke depan. Terlihat beberapa tatapan iri cewek-cewek yang melihat kejadian itu, tidak terkecuali Zahra.
“Alvin dan Sivia..” ucap Alvin mantap.
Alvin segera berdiri disamping Cakka, sementara itu Sivia masih saja menatap bengong kearah Alvin.
“Kenapa lagi lo?” tanya Alvin heran.
“Gue heran aja. Kok elo bisa tau kalo gue perannya jadi putri aurora? Kan gue belum ngasih tau elo.” ujar Sivia heran.
“Karena gue sama elo sehati kali, Vi.” Ucap Alvin asal yang membuat mata Zahra melotot tajam kearah Sivia.
“Iih, Alvin! Seriusan!” gerutu Sivia.
“Siapa yang lagi becanda sih, Vi?” goda Alvin sambil mencolek dagu Sivia.
“Tau ah! Gue ngambek.” Kata Sivia sambil melipat tangannya didada.
Belum sempat Alvin menjawab, Pak Veri sudah berkata bahwa sekarang anak-anak sudah diizinkan pulang.
“Yeeyyy!!!” seru semua anak.
Saat anak-anak akan keluar, tiba-tiba Alvin menyuruh mereka duduk kembali.
“Sorry kalo gue ganggu acara lo lo pada. Tapi, gue pengin sekarang kita buat konsep drama. Gue sebagai ketua kelas yang bakal mimpin langsung rapat ini.”
Seketika itu, semua anak langsung diam mendengarkan.
“Jadi, drama kali ini, bla..bla..bla...” Alvin menjelaskan dengan penuh semangat.
“Paham lo semua?”
Semua anak mengangguk mantap.
“Karena Pensi tinggal 2 bulan lagi, 2 minggu lagi latihan, 2 x seminggu hari sabtu and minggu. Jam 1 siang. Oh iya, karena di kelas ini yang paling bakat seni tuh si Cakka. Jadi gue serahin dia buat bikin Naskah drama and barang-barang apa aja yang kudu dibuat ato dibawa buat drama dan harus dikumpulin sebelum latihan kita yang pertama. Sanggup, Cakka?”
“Siap, bos!” ucap Cakka mantap.
“Urusan kostum biar gue yang urus.” Ucap Alvin.
“Mana bisa elo sendiri? Elo kan cowok..” Celetuk Sivia tiba-tiba.
“Gue..Gue mau kok bantuin Alvin.” Ucap Zahra dengan nada manja.
“Emm. Eh..Gue sama Via yang bakal ngurusin maslah kostum.” Tegas Alvin mengacuhkan Zahra. Zahra langsung memasang muka cemberut dan super bete kearah Sivia dan Alvin.
“Hah? Tapi...” Sivia akan menolak. Tapi, perkataannya dipotong oleh Alvin.
“Oke. Gue anggep selesai rapat kali ini. Kalian boleh pulang.” Kata Alvin mengakhiri rapat. Anak-anak kelas XI IPA-2 langsung berbondong keluar dari kelas kecuali Sivia, Zahra, dan Alvin.
“Ngapain elo masih disitu? Yuk, keluar.” Ajak Alvin pada Sivia yang masih duduk manis di tempat duduknya.
“Hmm..” balasnya seketika itu berdiri dan akan berjalan menghampiri Alvin.
Tapi, tiba-tiba Zahra dengan sengaja menubruk Ran dan langsng mengapit manja tangan Alvin. Untung kali ini Sivia dapat menjaga keseimbangannya.
“Eh, ati-ati dong kalo jalan! Punya mata kaga lo?!” bentak Sivia pada Zahra.
“Alvin..Anterin gue pulang dong!” pinta Zahra dengan manja.
“Lepasin tangan gue!!” bentak Alvin sambil melepaskan tangan Zahra kasar.
“Pelan-pelan dong, Vin Sakit nih.” Ucap Zahra masih dengan manjanya.
“Bodo amat! Siapanya gue sih lo?!!” kata Alvin segera keluar dari ruangan.
“Udah tau ditolak mentah-mentah gitu, masih aja ngejar-ngejar! Gak punya malu tuh.” sindir Sivia santai sambil berjalan keluar ruangan kelas XI IPA-2 mengikuti Alvin. Dia melihat Alvin berjalan menuju taman sekolah. Tanpa basa basi Sivia langsung mengikuti Alvin.
Sampi di taman sekolah, Alvin langsung duduk di bangku taman yang dinaungi oleh pohon. Dia terlihat sedih.
Kenapa gue masih mikirin elo, Ze? Apa gue masih ada rasa sama elo? Entahlah gue bingung. Tapi, gue gamau kenal lo lagi! Cuma sakit yang gue terima. batin Alvin dalam hatinya.
“Aarrggghh....” teriak Alvin sekeras mungkin sambil mengacak-acak rambutnya.
“Alvin kenapa? Kok gue jadi ikut sedih?” tanya Sivia pada dirinya sendiri. Tanpa dia sadari, dia mulai melangkahkan kakinya menuju Alvin dan duduk disebelahnya.
“Kalo gue ada masalah, gue bakal cerita ke orang lain. Karena itu bisa buat gue merasa lebih baik.” Kata Sivia tiba-tiba sambil mengulaskan senyum manisnya kearah Alvin. Alvin hanya terkejut mendapati Sivia sudah duduk disampingnya.
“Elo? Kok bisa ada disini?” tnya Alvin lembut.
“Gue tadi ngikutin lo. Elo boleh kok cerita ke gue kalo ada masalah.” kata Sivia sambil memegang pundak Alvin.
“Thank, Vi. Gue cuma lagi bingung sama hati gue aja. Elo tau kenapa waktu kita di mall gue narik tangan lo? Itu karena gue liat mantan gue..” Alvin terus mengutarakan isi hatinya pada Sivia.
Sivia tiba-tiba merasa cemburu akan isi hati Alvin. Tapi, dia tepis semua perasaaan itu.
“Dia udah nyakitin gue dulu. Dia selingkuh dibelakang gue. Gue sampe saat ini belum bisa maafin dia. Gue benci dia!” kata Alvin terus bercerita.
“Jadi..elo masih ada rasa sama dia?” tanya Sivia, dia heran kenapa pertanyaan ini tiba-tiba keluar dari mulutnya.
“Gue..entahlah, Vi. Gue belum punya kepastian.” Ucap Alvin.
“Kalo lo masih sayang sama dia, jangan sampe perasaan benci elo itu mengalahkan rasa sayang lo sama dia. Biarkan benci itu mengalir perlahan keluar dari hati lo. Jadi, Cuma tinggal perasaan sayang lo ke dia.” Kata Sivia bijak. Entah mengapa saat mengatakan itu, tiba-tiba hatinya terasa perih, sangat perih.
Alvin memandang Sivia, sedangkan Sivia hanya dapat tersenyum menahan rasa perih dihatinya. Tanpa komando, Alvin langsung memeluk Sivia,”Jangan tinggalin gue, Vi.” Alvin berkata lirih dan tulus.
Tanpa ragu Sivia membalas pelukan Alvin lama dan erat. Sivia merasakan jantungnya berdegup lebih kencang dan ada getaran-getaran aneh dalam hatinya. Semakin lama dalam pelukan Alvin, Sivia meraskan kehangatan dan kenyamanan.
Tanpa Sivia sadari, Alvin juga merasakan perasaan yang sama saat memeluk Sivia. Setelah cukup lama mereka berpelukan, akhirnya Alvin melepaskan pelukan Sivia dan memandang dalam mata Sivia.
Sivia menunduk malu karena Alvin menatapnya penuh dengan sejuta arti dan kelembutan (Ceileh! Apadah bahasa gue). Tiba-tiba Alvin mengangkat dagu Sivia dan secara cepat mencium lembut bibir Sivia. Sivia yang kaget ingin melepaskannya. Tetapi, tangan Alvin menahan kepala Sivia, membuatnya susah untuk bergerak. Sivia menutup matanya dan membalas ciuman Alvin. Entah kenapa, Alvin dan Sivia merasakan kehangatan saat itu.
Setelah 10 menit (Busett! Kelamaan kaga tuh?!), akhirnya Alvin melepaskan ciumannya dan memandang rumput.
Sivia memandang Alvin dengan pandangan penuh makna dan arti.
“Vin..” panggil Sivia lirih.
“Maaf..” hanya kata itu yang dapat terlontar dari bibir Alvin.
“Elo nyolong first kiss gue..” kata Sivia.
“Bukannya ni yang kedua ya? Kemaren kan udah.” Tanya Alvin heran sambil memandang Sivia.
“Itu..Itu bukan! Kemaren kan gak sengaja!” omel Sivia. Alvin terkekeh mendengar perkataan Sivia.
“Gue..Minta maaf, Vi. Gue udah lancang ke elo.” Ucap Alvin lirih sambil memandang rumput.
“Jangan nunduk. Elo ngomong sama rumput atau gue sih?” kata Sivia sambil mengangkat wajah Alvin agar menatapnya.
“Udah gapapa, lupain. Gue gak marah kok.” Kata Sivia yang kemudian beranjak berdiri berniat untuk pergi. Tapi, langkahnya terhenti saat tangan Alvin menahan lengannya seolah tidak membiarkan Sivia untuk pergi.
“Elo mau nemenin gue latian basket, Vi?” tanya Alvin sambil menatap mata Sivia.
“Eh?” Sivia bengong mendengar pertanyaan Alvin.
“Mau ga? Kok malah bengong?” tanya Alvin heran sambil berdiri didepan Sivia.
“Heran aja gue. Gak pernah kan elo ngajak cewek buat nonton elo main basket?” tanya Sivia
“Gak. Baru kali ini gue ngajak cewek dan itu elo. Tapi, kok elo bisa tau?” tanya Alvin heran.
“Hehehe... semua tingkah cuek lo itu dah jadi rahasia umun di sekolah ini tau gak sih, Vin. Eh, ja..Jadi..Dia..” Sivia ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Dia juga belum pernah gue ajak nonton gue main basket. Atau mungkin belum sempet.” Kata Alvin cuek. Tau kan yang dimaksud ‘dia’ itu siapa?
Sivia yang mendengarnya, langsung merasa hatinya melonjak gembira saking senangnya. Setidaknya, perkataan Alvin barusan mampu menghiburnya saat ini.
“Oke. Gue ikut lo.” Kata Sivia akhirnya sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Mereka berjalan beriringan menuju lapangan basket di luar lingkungan sekolah, sampai disana udah ada teman-teman Alvin dari sekolah lain yang menunggu kedatangan Alvin.
“Sorry telat, bro.” Kata Alvin pada teman-temannya.
“Eh, Vi. Sini dong. Gue kenalin sama temen-temen gue.” ajak Alvin sambil menarik tangan Sivia.
“Wuitss! Kesambet apaan lo? Tumben bawa cewek kesini?” celetuk salah satu dari mereka.
“Tais-toi! (diem lo!)” kata Alvin menggunakan bahasa Perancis yang hanya dapat dimengerti oleh dia dan Sivia.
“Aduh, kalo lo udah mulai pake bahasa-bahasa alien gitu gue angkat tangan deh! Angkat kaki kalo perlu.” Celetuk yang lain.
“Ssssttt” Alvin menyuruh yang lainnya untuk diam.
“Vi, kenalin nih. Yang itu Ray, itu Debo, itu Riko..” terang Alvin.
“Hai, gue Sivia Alexis Chevalier. Panggil aja Via.” Kata Sivia memperkenalkan dirinya dan menjabat satu persatu tangan Ray, Debo, dan Riko.
“Hai, vi.” Balas mereka. Tapi, Ray terlihat paling bersemangat.
“Ish! Ati-ati mulai ileran lo tuh! Gak bisa liat cewek cantik satu aja.” Ejek Alvin.
“Sssttt! Lo nurunin pasaran gue aja!” timpal Ray bercanda. Mereka pun tertawa bersama-sama.
“Oh iya. Gue lupa ngenalin satu orang lagi. Mana ya tuh orang....Nah tu dia lagi minum diujung sono. Lo pasti kenal dia kan?” kata Alvin tersenyum jahil sambil menunjuk seorang cowok tinggi berkulit sawo matang. Seketika itu juga, muka Sivia langsung berubah merah.
Sejurus kemudian Sivia menarik tangan Alvin agar menjauh dari teman-teman alvin.
“Alvin! Apaan sih lo? Lo ngajak gue kesini Cuma biar gue malu doang ya? Ngaku lo!” tanya Sivia berbisik curiga.
“Eh! Gak kok. Lo tenang aja. Croyez-moi (percaya sma gue),” Kata Alvin sambil memegang tangan Sivia.
“Eh, Jo sini deh! Gue mau kenalin seseorang.” Alvin berkata menggunakan toa. Karena jaraknya dengan Jo lumayan jauh. (Heran deh! Dari mana ya Alvin dapet tu toa? #PLAK! Abaikan)
Jo langsung saja berlari menghampiri Alvin.
“Siapa, Vin?” tanyanya.
“Ini. Sivia..” Alvin memperkenalkan Sivia pada Jo.
“Oh..Eh..Gue Sivia.” Ucap Sivia gugup sambil menyalami Jo.
“Hai, gue Jo..” Jo memperkenalkan dirinya didepan Sivia dengan tingkah yang ganjen banget amit amit. Sivia yang melihatnya langsung cengo.
“Eh, jangan ganjen-ganjen lo sama dia ya! Dia udah punya cowo tau! Asal lo tau cowo dia tuh yang megang daerah sini.” Alvin menakut nakuti Jo.
“E..Eh..Gak kok. Kalo gitu gue duluan ya, Vi? Vin?” pamit Jo gelagapan.
Sivia masih saja bingung dengan Alvin. Maksudnya nih bocah apa sih? Batin Sivia sambil menatap Alvin.
“Lo masih bingung?” tanya Alvin yang dijawab anggukan Sivia.
“Gue kaya gini biar elo gak buta lagi! Masa ngefans sama cowok kaya dia.” Jelas Alvin.
“Maksud lo apa? Gue gak ngeeh?”
“Gini lo.. Coba tadi elo liat tingkahnya Jo waktu lagi kenalan sama lo? Ganjen banget kan dia? Dia emang selalu gitu kalo ketemu cewe cantik.” Terang Alvin.
“Amasya? Gue jadi ilfeel deh! Jibang tuh orang! Hiii...ngeri! Gak jadi ngefans guenya deh.” Kata Sivia begidik ngeri.
“Haahaha...Makanya elo harusnya makasih sama gue karna udah ngebuka tuh mata lo!” ujar Alvin.
“Yaya..maksih, Vin.” Ucap Sivia manis.
“Woi, Vin! Ayo latian, ngapain sih lo?” teriak Riko.
“Oke. Gue kesana sekarang. Lo duduk disini ya, Vi? Au revoir, chère! (Dah..sayangku!)” kata Alvin tersenyum manis+jahil.
“Non-sens!(omong kosong!) Gak usah gombal deh lo!” ucap Sivia.
================ooOoo=================
Seminggu kemudian..
Pukul 16.00..
Sivia terlihat menuruni tangga, dia berniat untuk menonton TV. Sebelum itu, dia mengambil cemilan dlu dan segera menyalakan TV.
Baru beberapa menit dia menonton TV..
CKLEK
Ada yang membuka pintu depan rumahnya, Sivia secara reflek mengalihkan pandangannya dan tersenyum melihat siapa yang datang. Seorang cowok tampan dengan wajah letih. Cowok itu langsung merebahkan diri di sofa dekat Sivia. Dan mencomot camilan yang sedang di pegang Sivia.
“Darimana lo jam segini baru pulang?” Sivia membuka pembicaraan.
“Ngurusin persiapan buat drama nih.” Ucap Alvin. Sivia hanya mengangguk-anggukan kepalanya berkali-kali.
“Eh, mandi sana lo! Bau.” Celetuk Sivia sambil menutup hidungnya.
“Ini juga mau mandi.” Kata Alvin cuek sambil beranjak pergi dan tanpa sengaja meninggalkanm I-Phone 4 miliknya di meja.
Setelah bebrapa menit kepergian Alvin, Sivia baru menyadari kalau HP milik Alvin tertinggal dimeja.
“Eh, ini punnya Alvin kan? Gue utak atik ah!” kata Sivia pada dirinya sendiri sambil tersenyum jahil.
Setelah 5 menit mengutak atik I-Phone 4 milik Alvin, Sivia merasa bosan. Sampai dia melihat sebuah foto gadis cantik yang sedang tersenyum manis.
Eh, siapa nih cewe? Cantik juga. Apa ini mantannya Alvin? Batin Sivia dengan perasaan yang tidak menentu. Cemburu? Marah? Entahlah. Dia segera meletakkan HP milik Alvin di tempat semula dengan perasaan aneh yang mendera hatinya.
BERSAMBUNG~