maaf ya krna kmaren aku gk ngepost cerbung ini. abis kmren rada capek, jadi males ngepost. langsung aja yuk ~
PART SEBELUMNYA ~
Eh, siapa nih cewe? Cantik juga. Apa ini mantannya Alvin? Batin Sivia dengan perasaan yang tidak menentu. Cemburu? Marah? Entahlah. Dia segera meletakkan HP milik Alvin di tempat semula dengan perasaan aneh yang mendera hatinya.
KEPASTIAN CINTA PART 6
“Harusnya gak gue buka tuh HP! Bikin gue nyesekk!” gumam Sivia.
Selang 10 menit, Alvin datang kembali dengan wajah yang lebih segar.
“Vi, lo tau HP gue gak?” tanya Alvin.
“Noh,” jawab Sivia seraya menunjuk HP Alvin yang tergeletak di meja. Alvin segera mengambil Hpnya dan duduk disamping Sivia.
“Serius amat nontonnya?” tanya Alvin karena merasa dikacangin.
“Hmm..” jawab Sivia cuek karena dia masih memikirkan foto gadis cantik di HP Alvin.
“Gue dicuekin lagi,” keluh Alvin.
Tiba-tiba I-Phone 4 milik Alvin berbunyi menandakan ada seseorang yang meneleponnya, dia melihat siapa yang meneleponnya dan segera mengangkatnya.
Alvin : Hai, sob! Ada apa nih?
Cakka : Lo dimana? Gue ke rumah lo, ternyata elonya kaga ada.
Alvin : Ya Ampun gue lupa! Gue sekarang kan tidur di rumah Via.
Cakka : WHAT? LO? DI RUMAH VIA? GIMANA BISA?
Alvin langsung menjauhkan Hpnya dan menggosok kupingnya yang merasa budeg.
Alvin : Santai, bro! Elo kesini aja, ntar gue jelasin.
Cakka : Oke! Gue kesana sekarang.
Cakka menutup teleponnya.
“Siapa? Mantan lo ya?” tanya Sivia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.
“Hmm....Lo cemburu?” goda Alvin.
“Ciih! Amit-amit ya!” elak Sivia.
“Amasya? Kok tadi lo nanya gitu? Berarti elo cemburu. Ngaku lo..” goda Alvin- lagi.
“Bawel lo! Déjà! Ne me taquine pas plus! (Udah deh! Jangan goda-goda gue lagi!)” gerutu Sivia. Alvin hanya terkekeh.
“Tadi itu Cakka. Dia mau kesini.” Jelas Alvin masih terkekeh.
“Ooh.” Sivia berharap dia bisa mengeluarkan kata-kata selain ‘Ooh’, karena sepertinya Alvin dapat membaca kelegaan di wajahnya.
Seketika itu juga, Alvin mendekatkan wajahnya ke wajah Sivia dan mulai memamerkan senyum jahilnya.
“Apaan sih lo? Jauh-jauh deh! Hush..Hush..” Sivia mendorong jauh-jauh tubuh Alvin.
“Hahaha...Ngaku lo! Lo naksir gue kan? Gppa kok. Udah biasa kalo cewek-cewek naksir sama gue.” narsis Alvin.
“Jibang lo! Ciih!” Sivia langsung memalingkan wajahnya kearah layar TV.
TokTokTok
Terdengar ketukan di pintu.
“Bi Yem, ada tamu tuh.”
“Iya, Non” Bi Yem segera membukakan pintu.
CKLEK
“Cari siapa ya?” tanya Bi Yem sopan.
“Alvinnya ada?” tanya tamu itu.
“Oh, ada. Lagi di ruang tengah. Silahkan masuk.” Bi Yem mengantarkan tamu itu ke ruang tengah.
“Den Alvin ini ada temennya.” Panggil Bi Yem. Alvin dan Sivia sontak langsung menoleh kearah tamu itu. Ternyata Cakka.
“Sini, Kka. Duduk.” Ajak Alvin.
“Bi, tolong ambilin minum buat Cakka.” Pinta Sivia.
“Iya, Non.” Bi Yem langsung berjalan menuju dapur.
“Alviiiin!!! Lo kok bisa disini sih?! Lo apain anak orang?” tanya Cakka histeris.
“Asal njeplak lo! Gue itu disuruh ngejagain nih kunyuk satu.” Jawab Alvin santai.
PLETAKK!
“Lo ngeselin baget sih, Vin!” Sivia menjitak kepala Alvin.
“Aduuh.. Sadis lo, Vi.” Kata Alvin kesakitan.
“Eh, ngapain emang lo kesini, Kka?” tanya Sivia tanpa memperdulikan Alvin yang kesakitan.
“Ini, gue udah selesai buat naskah dramanya and segala tetek bengeknya.” Ucap Cakka sambil menyodorkan sebuah sketch book miliknya pada Alvin.
Tepat pada saat itu, Bi Yem datang membawa nampan berisi minuman.
“Makasih, Bi. Silahkan diminum, Kka.” Kata Sivia.
“Thanks.” Ucap Cakka.
Sementara itu, Alvin memandang takjub isi sketch book milik Cakka.
“Gila! Funtastic!” Alvin terus membolak balik sketch book milik Cakka. Sivia yang mendengar perkataan Alvin merasa penasaran.
“Eh, bagi gue liat dong!” pinta Sivia sambil mencondongkan tubuhnya agar dapat melihat isi sketch book yang berada dalam genggaman Alvin.
Karena jarak mereka yang dekat, Alvin merasa salting sendiri. Cakka yang menyadari itu langsung tersenyum jahil.
“Ehem.. Ada yang salting nih!” ledek Cakka sambil memandang langit-langit rumah Sivia. Alvin langsung melotot kearah Cakka.
“Hah? Ngomong apa lo barusan?” tanya Sivia yang tidak fokus dengan perkataan Cakka.
“Kaga. Liat noh disamping lo. Mukanya udah merah, kuning, ijo.” Ejek Cakka yang kemudian terkekeh senang.
Sivia segera melirik Alvin yang semakin salting. Sivia tersenyum jahil kearah Alvin.
“Haha.. ketauan, lo kan yang naksir gue! Ngaku gak lo?”goda Sivia sambil menunjuk-nunjuk wajah Alvin.
“Iih.. apaan sih? Ganjen lo!” elak Alvin.
“Vous n'avez pas besoin de mentir! (gak usah bohong lo!)” Sivia terkekeh geli.
“Arrête de me taquiner! Tu me fais honte (berhenti ngegoda gue! Lo buat gue malu!)” omel Alvin.
“STOP!! Stop!” teriak Cakka.
“Kenapa lo?” tanya Sivia bengong. Sedangkan Alvin hanya menatap Cakka heran.
“Lo berdua pada ngomong apasih? Gak ngerti gue!” Cakka mengomel sendiri.
“Hahaha... Geje lo! Gak perlu tau deh lo! Ini Cuma gue and Via yang tau.” Alvin terkekeh geli.
“Iya. Konyol lo! Gue kira lo kena ayan atau apa.. Abisan suara elo ngalahin pasar!” Sivia ikut menyahut.
“Tau deh. Eh, gue balik dulu ya?” pamit Cakka beranjak pergi.
“Eh, kok cepet banget, Kka?” tanya Sivia.
“Biasa.. Gue mau ngedate sama yayang Shilla.” Kata Cakka sambil menaik turunkan kedua alisnya.
“Sorry ya kalo gue ganggu KEMESRAAN KALIAN.” ledek Cakka yang langsung ngacir keluar dari rumah Sivia.
“Sialan lo, Kka!” sungut Sivia.
“Eh, gue balik kamar dulu ya, Vin.” Pamit Sivia.
“Hmm..” kata Alvin tanpa mengalihkan pandangnnya dari layar TV.
Sivia hanya bisa menghela nafas pelan. Sedangkan Alvin sibuk mengutak-atik Hpnya. Dia terkejut karena Gallery di Hpnya menjadi yang terakhir dibuka. (I-Phone 4 itu multitasking, jdi kita bisa liat application apa aja yang terakhir dibuka.)
Alvin merasa sudah lama dia tidak membuka Gallery. Satu nama terlintas dikepalanya.
“Via..” lirih Alvin.
“Ngapain dia buka Gallery gue?” tanya Alvin pada dirinya sendiri sambil membuka Gallery Hpnya.
“Jangan-jangan dia tadi liat foto ini?” Alvin berkata pelan sambil menatap foto gadis cantik itu.
“Hmm... Tau deh! Je suis confus!(bingung gue!)” Alvin akhirnya mematikan TV dan berjalan masuk ke kamar Kak Felix.
================ooOoo=================
Keesokkan harinya, (Hari Minggu)
Waktu menunjukkan pukul 05.00.
Terlihat, Sivia masih tidur dengan pulas.
Tiba-tiba HP Sivia berbunyi, menandakan ada yang menelpon. Sivia langsung mengangkatnya tanpa melihat nama penelpon.
Sivia belum sepenuhnya sadar, ngomongnya jadi ngelantur deh. (Writer’s : Makanya kumpulin dulu tuh nyawa, Vi!)
Sivia : Jangan telpon gue lagi deh! Kita kan udah PUTUS!
Alvin : Putus? Sejak kapan gue jadian sma lo? Kok sekarang main putus?
Sivia : Bawel! Gue mau tidur lagi!
Sivia langsung memutuskan sambungan.
Sementara itu, Alvin hanya cengo.
“Hah? Putus?” Alvin masih bingung.
Sivia tiba-tiba sadar dan mengecek Hpnya.
“Hah tadi alvin toh yang nelpon? Oh no!” Sivia kalang kabut dan segera menelpon Alvin.
Alvin : Halo?
Sivia : Sorry, tadi nyawa gue belom kumpul. Ada apa lo nelpon gue pagi-pagi gini?
Alvin : Pantes. Omongan lo nglantur! Gue mau ngajak lo lari pagi. Mau kaga?
Sivia : Ah, males gue! Lo sendiri aja atau bareng anjing tetangga gue aja!
Alvin : Vi.. Ayolah, please! Sekali ini aja.
Sivia : Tapi, tapi... Gue masih ngantuk, Vin.
Alvin : Nah, makanya gue ngajak elo! Biar lebih seger gitu. Cepet sanah siap-siap. Gue tunggu 10 menit lagi.
Sivia : Yah, Vin. Gue kan udah bilang kalo gue ma....
Terlambat! Alvin sudah memutuskan sambungan.
Sivia dengan malas-malasan segera mencuci wajahnya dan menyikat giginya, kemudian dia berganti pakaian dan mengambil sepatu kets miliknya dan segera turun.
Dibawah, Alvin memandang Sivia terpesona. Sivia memakai tanktop berwarna hitam dengan celana pendek putih setinggi 15 cm diatas lutut.
Cenat cenut hati gue! batin Alvin gaje.
“Woi, jadi kaga?” Sivia membuyarkan lamunan Alvin.
“Ja..Jadi. Ayo...” Alvin menarik Sivia yang masih terkantuk kantuk.
“Eh..Eh.. Bentar, Vin.”
“Apa lagi sih, Vi? Ntar keburu nyembul tuh matahari.” Gerutu Alvin.
“Iya..Iya bentar. Gini nih, vin. Ntar jangan lari deh ya? Jalan santai aja.” Pinta Sivia masih terkantuk-kantuk.
“Terserah elo maunya gimana deh, Vi.”
“Siip..Hoooamm..”
Setelah berjalan sekitar 100 meter, Sivia tetap merasa mengantuk, karena dia lembur semalaman untuk mengurusi Pensi.
Akhirnya Alvin membawa Sivia ke taman dekat komplek rumah Sivia, sekedar untuk duduk melepas penat.
Tetapi, Sivia masih saja terkantuk-kantuk.
“Kok elo masih ngantuk gitu sih, Vi?” tanya Alvin heran.
“Gatau nih! Gue lembur semalem... Hoooamm... Ngurusin Kostum.. buat drama kita..Hooammm..” Sivia menguap dan menyandarkan kepalanya di bahu Alvin.
“Ya ampun Vi. Elo tuh ya! Elo kan cewek.. Tinggal bilang gue aja ntar kan gue bisa bantu elo! Elo jangan terlalu maksain diri, ntar kalo lo sakit kan gue juga yang kena, Vi! Vi? Via?” Alvin heran karena Sivia dari tadi tidak menyahut.
“Eh, ni bocah udah tidur ternyata.” Kata Alvin kaget. Dia segera menggendong Sivia sampai ke rumah.
Setelah itu, dia menidurkan (?) Sivia di kamarnya.
“Gue sayang elo..” ucap Alvin sambil mengelus pipi Sivia. Dan..
CHUUP~
Alvin mencium kening Sivia dan langsung keluar dari kamar Sivia.
Saat jam menunjukkan pukul 08.00, Sivia terbangun kaget.
“Lho? Kok gue ada disini? Siapa yang bawa gue kesini?” Sivia heran sendiri. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati pintu kamarnya. Saat dia membuka pintu....
“WHOoooAA...” Sivia berteriak kaget.
Ternyata Alvin sudah berdiri di depan pintu kamar Sivia. Mereka sempat bertabrakan sebelum Sivia terdorong ke belakang dan terhuyung jatuh.
BRUUGG!
“Aduuh..Pantat gue...” Sivia mengaduh.
“Lo kenapa sih selalu aja ngagetin gue!” sambungnya masih kesakitan.
“Sorry. Gue kan Cuma niat mau bangunin lo buat sarapan.” Terang Alvin stelah sebelumnya membantu Sivia berdiri.
“Tapi, kan gak perlu depan pintu gitu.” Sivia masih kesal.
“Kalau gak di depan pintu, di mana dong? Gak sengaja juga.” Ucap Alvin.
“Iya deh, iya. Gue mau mandi dulu, abis itu gue turun buat sarapan.” Kata Sivia yang kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya.
“Ya udah. Gue tunggu lo dibawah.” Kata Alvin.
“Ya iyalah. Masa iya lo mau tunggu gue disini..” ucap Sivia membelakangi Alvin.
“Kalo boleh gue maunya disini aja.” Jeplak Alvin.
Sivia langsung saja menimpuk Alvin dengan bantal, “Idiih banget! Udah turun duluan sana.” Usir Sivia.
“Iya..Iya.. Bawel!”
15 menit berlalu, terlihat Sivia sedang menuruni tangga rumahnnya, dia segera ke meja makan dan langsung menyantap sarapannya. Setelah selesai, dia berjalan ke taman belakang rumahnya dan duduk di pinggir kolam renang. Tiba-tiba Alvin sudah duduk disampingnya dan sedang memainkan air.
“Sejak kapan lo disini?” tanya Sivia.
“Baru dateng. Eh, kostum dramanya gimana nih?” tanya Alvin bingung.
“Tenang. Udah gue atur. Lo tinggal terima jadi aja deh.” Jawab Sivia sambil tersenyum bangga.
“Hmm.. Gara-gara itu lo jadi lembur semaleman?”
“Gak juga sih. Guenya aja yang bego.” Sivia mengutuk dirinya sendiri.
“Baru sadar lo?” Alvin meledek Sivia yang langsung mendapat tatapan tajam Sivia. Alvin mengangkat jarinya dan membentuk huruf ‘v’ sambil tersenyum.
================ooOoo=================
1 Bulan kemudian.
Waktu menunjukkan pukul 07.30.
Pagi itu, Keluarga Chevalier sedang menikmati sarapan mereka.
Mr. and Mrs. Chevalier sudah pulang dari Aussie. Alvin pun sudah kembali ke rumahnya.
“Mah, masa Kak Felix boleh pergi ke Seoul tapi, aku gak boleh ke Paris sih.” Gerutu Sivia.
“Siapa bilang?” tanya Mr. Chevalier.
“Mamah sama Papah yang bilang setiap aku pengin ke Paris.” dumel Sivia.
“Boleh kok. Tapi, besok kalo liburan semester.” Kata Mrs. Chevalier sambil tersenyum.
“Bener, Pah? Mah?” tanya Sivia gembira.
“Bener,” jawab Mr. and Mrs. Chevalier.
“Yes! Je vous remercie, Mah, Pah.” Ucap Sivia berterima kasih dalam bahasa Perancis.
Mr. and Mrs. Chevalier hanya tersenyum menanggapi Sivia.
“Mah, kok Kak Felix belum balik?” tanya Sivia sedih.
“Sabar, sayang. Tadi Kak Felix telpon mamah, katanya dia baru bisa balik besok.” Mrs. Chevalier menenangkan Sivia.
Sivia hanya mengangguk pasrah. Padahal dia sangat merindukan kakaknya.
“Ayo, Vi. Kita berangkat.” Ajak Mr. Chevalier.
“Iya, Pah. Mah, Via berangkat dulu..” pamit Sivia sambil mencium tangan Mrs. Chevalier.
“Ati-ati ya sayang.”
Sampai di sekolah, Sivia langsung duduk di sebelah Alvin yang sedang sibuk membaca buku.
“Rajin amaat lo, Vin!” ganggu Sivia.
“Hmm..”
“Alviin..” Sivia terus saja mengganggu Alvin.
“Apa?” tanya Alvin malas-malasan tanpa memandang Sivia.
“Emm... Liburan semester lo mau kemana?” tanya Sivia.
“Liburan semester? Masih lama kali Vi, ngapain lo tanya gitu?” tanya Alvin heran tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya.
“Emm..Gue..Ehem..” ucap Sivia gugup.
“Apa?”
“GuemongajaklokeParis.” Ucap Sivia cepat kemudian segera menutup mulutnya,
“Hah? Ngomong apa lo? Warung Bu Jem laris? Terus apa hubungannnya sama gue?” Alvin menatap Sivia.
“Ish! Alvin! Seriusan.” Gerutu Sivia.
“Emang siapa yang lagi becanda sih? Lo nya aja yang ngomong cepet banget. Gue gak ngerti!” seru Alvin.
“Coba ulangi lagi.” Tambahnya.
“Ehm..Gue..Gue..Mau ngajak lo ke Paris. Lo mau ga?” tanya Sivia malu-malu.
“Ngajak gue ke Paris? Ga...” ucap Alvin.
“Hah?” Sivia melengos sedih.
“Gak bakal nolak gue..” lanjut Alvin sambil menyunggingkan senyum manisnnya.
“Lo tuh! Seneng banget ngerjain gue!” omel Sivia.
“Jangan marah dong, Vi. Tadi gue kan Cuma becanda.” Kata Alvin.
“Eh, Vin. ngomong-ngomong.. Bu Jem siapa sih?” tanya Sivia polos.
“Gue juga gatau, asal jeplak aja tadi..” jawab Alvin dengan watadosnya diiringi cengiran lebar.
(GUBRAKKK!!!! Penulis, sutradara, semua kru, Sivia, semua pembaca dan penonton pingsan dengan sukses. *Alvin : Eh? Kok pingsan semua? Ikut pingsan ah!* GUBRAK! Alvin ikut-ikutan pingsan. Sutradara langsung bangun dari pingsannya (?). *Sutradara : Eh? Kok pingsan semua. Ayo bangun! Kita ulang lagi! KAMERA! ROLLING! ACTION!*)
Sivia menatap Alvin cengo.
“Heran deh! Kok bisa ya elo asal jeplak ngomong Bu Jem?” tanya Sivia lirih.
Tiba-tiba datang Zahra yang ingin mengganggu suasana yang tercipta (?)
“Etdah! Perasaan nih siluman satu selalu aja ada dimana pun elo ada deh, Vin.” Sindir Sivia sambil melirik Zahra.
“Eh, ati-ati kalo ngomong ya!” seru Zahra yang sekarang berada disamping Alvin.
“C'est à moi! Problème pour vous? (terserah gue! Masalah buat Lo?)” ucap Sivia yang keceplosan memakai bahasa Perancis.
“Ngomong apa lo barusan?” tanya Zahra bingung.
“Au! Udah ah gue mau pergi aja! Disini PANAS BANGET.” Sivia segera berjalan pergi sambil menyibakkan rambut pendeknya *emang bisa (?)
Alvin menatap bengong kepergian Sivia.
“Eh, gue nyususl Via ya, Ra. Takutnya dia bunuh diri.” Pamit Alvin yang langsung ngacir pergi dari situ tanpa menunggu jawaban dari Zahra.
“ALVIIIN !!” panggil Zahra kesal.
Kenapa sih elo selalu aja milih Via daripada gue! omel Zahra dalam hati.
Alvin sibuk mencari keberadaan Sivia.
“Mana sih tuh anak? Cepet banget ngilangnya.” Gumam Alvin pada dirinya sendiri.
Alvin terus berjalan di koridor sambil celingak celinguk untuk menemukan Sivia, sampai dia berbelok di dekat taman sekolah. Dan...
BRUUG!!
Alvin terjatuh karena menabrak seseorang yang sedang lewat.
BERSAMBUNG ~
hayo lho. siapa yg ditabrak Alvin? cewe or cowo? menurut kalian?
udh ya segini dulu. aku lanjut besok (kayaknya) aja.
kelinci99
BalasHapusTogel Online Terpercaya Dan Games Laiinnya Live Casino.
HOT PROMO NEW MEMBER FREECHIPS 5ribu !!
NEXT DEPOSIT 50ribu FREECHIPS 5RB !!
Ada Bagi2 Freechips Untuk New Member + Bonus Depositnya Loh ,
Yuk Daftarkan Sekarang Mumpung Ada Freechips Setiap Harinya
segera daftar dan bermain ya selain Togel ad juga Games Online Betting lain nya ,
yang bisa di mainkan dgn 1 userid saja .
yukk daftar di www.kelinci99.casino