hai, aku lanjut lagi nih :D ini juga karena di paksa sma temenku, si Floren -_-v
Dan.. nilai 100 buat Idola CilikSelamanya II, karena berhasil menebak dgn benar. menebak siapa pemain baru yg hadir.
PART SEBELUMNYA ~
“Alvin cimit-cimit gue! Tungguin dong!” kata Zevana sambil mengikuti langkah Alvin.
Sementara itu, Sivia berjalan tanpa melihat arah. Tiba-tiba....
BRUKK!!
KEPASTIAN CINTA PART 11
BRUKK!!
Sivia menabrak seorang cowok dan parahnya lagi gelas yang isi minuman itu tumpah dibaju cowok itu.
“E..Eh! Maaf, Kak. Gue gak sengaja.” Ucap Sivia menyesal.
“Eh, gapapa kok.” Kata cowok itu sambil membersihkan kemejanya yang basah.
“Duuh! Sorry banget ya, Kak? Gue bener-bener gak sengaja. Duh gue bego banget sih! Bego..Bego.Bego..!” kutuk Sivia pada dirinya sendiri.
Karena mendengar Sivia terus mengoceh tanpa henti, akhirnya cowok itu pun mendongak menatap Sivia dan terpesona saat melihat Sivia yang memang berdandan cantik malam ini.
Cowok itu sempat bengong beberapa detik, akhirnya karena merasa risih, Sivia melambaikan tangannya didepan cowok itu.
“Kak? Kak Gabriel?” ucap Sivia kepada cowok itu yang ternyata adalah Gabriel.
“E..Eh.. Ada apa?” tanya Kak Gabriel salting.
“Gak, kok. Sekali lagi sorry buat bajunya itu.” Kata Sivia sambil menunjuk bagian kemeja Gabriel yang basah.
“Gapapa kok. Eh, tunggu. Kita belum kenalan. Kenalin gue Gabriel Leveque Gravois.” Ucap Gabriel seraya mengulurkan tangannya sambil menampilkan senyuman mautnya yang dapat membuat semua cewek meleleh (-_- Diih! Lebay banget ya?! Abaikan).
Buset dah! Ternyata nama lengkapnya ribet banget ngucapinnya? Apa tadi? Kue ? Ah sebodo deh! Pikir Sivia.
Sivia menerima uluran tangan Gabriel sambil tersenyum, “Gue udah tau kok, Kak. Siapa sih yang gatau Kak Gabriel yang termasuk THE MOST WANTED disekolah sini?”
Wetss! Kalian mau tau siapa aja yang termasuk THE MOST WANTED di SMA ALVINOSZTA???
OK! Writer’s kenalin ya?
DJ? Music?
JEJENG JEJENG!!
(Lebaynya kumat lagi?!* PLAKK!! Abaikan)
Ini dia THE MOST WANTEDnya ====>
Siapa lagi kalo bukan ALVIN JONATHAN ? Hohoho :p
GABRIEL LEVEQUE GRAVOIS #ribet dah -_-!
JOSEPH PANDUWINATA
Itulah mereka :))))
Back to the story
“Aah! Bisa aja deh! Hehehe.. Nama lo siapa?” tanya Gabriel kepada Sivia.
“Nama gue Sivia Alexis Chevalier. Tapi, pnggil aja Via,” Kata Sivia memperkenalkan dirinya.
“Oke Via.. Salam kenal..” ucap Gabriel sambil tersenyum sangat manis.
Setelah itu, mereka terlibat dalam obrolan yang seru, tak jarang Sivia tertawa mendengar lawakan (jiah lawakan? -_-) Gabriel. Alvin yang melihat itu langsung terbakar cemburu. Gabriel dan Alvin adalah teman dekat karena sering balapan bersama. Jadi, Gabriel, Alvin, dan Kak Felix adalah teman dekat. Tapi, Kak Felix lebih care ke Alvin karena lebih lama sohiban sama Alvin.
Tidak lama kemudian, Kak Felix menghampiri Sivia dan Gabriel.
“Eh, Yel! Hai, bro! Gimana nih kabar lo? Lama gak ketemu gue.” kata Kak Felix sambil menjabat tangan Gabriel (tau kan jabat tangannya ABG gimana? Yang itu lho..Yang ituuuuuuuu........... Kalo gak tau ya udah, anggep aja tau :p)
“Hai, Fel! Baik-baik aja gue. Lo sendiri gimana?”
“Very very well dong! Eh, lo dah kenalan sama ade gue?” tanya Kak Felix sambil memandang Sivia dan Gabriel bergantian.
Sivia hanya tersenyum, sedangkan Gabriel memandang tak percaya kearah Kak Felix.
“Hah? Jadi ini ade elo? Kok beda banget siih!” seru Gabriel histeris.
“Eh, kenapa emang?” tanya Kak Felix bingung.
“Liat aja! Muka kakaknya udah kaya TOMCAT abis beranten sama JERRYMOUSE, blangsak gak karuan gitu, nah ade nya..Weits! ~WAW~ banget deh!” ucap Gabriel tanpa beban.
Sivia tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Gabriel yang terlihat tanpa dosa itu.
“Eh! Kutu kupret sialan lo! Gue gibeng juga lo!” kata Kak Felix kesal.
“Hahahaha....Sabar, ya Kak? Nasib orang jelek..” goda Sivia yang masih tertawa.
“Lo juga! Bukannya belain kakaknya, malah belain nih orang!” sungut Kak Felix yang mukanya udah ditekuk berlipat lipat.
“Hehehe..Viss!” ucap Sivia dan Gabriel bersamaan.
“Tau deh!”
“Eh, jangan cepet marah deh! Atau lo lagi PMS ya?” goda Gabriel.
“Sialan lo!”
Kembali Gabriel dan Sivia tertwa terbahak-bahak, kemudian akhirnya Sivia mulai menjadi pendengar setia Gabriel dan kakaknya yang sedang mengobrol melepas rindu.
“Eh, Kak balik yuk? Gue ngantuk nih!” ajak Sivia pada kakaknya.
“Oh iya! Udah malem juga. Oke, yel! Lo kapan-kapan main ke rumah gue ya? Bye.” Ucap Kak Felix seraya pergi meninggalkan Gabriel bersama Sivia dibelakangnya.
“Bye!”
Gabriel tersenyum simpul memandang kepergian Sivia.
“Sivia Alexis Chevalier,” gumam Gabriel.
================ooOoo=================
Keesokkan harinya..
Sivia sedang menunggu Taksi di depan tempat les matematikanya. Sudah setengah jam dia menunggu Taksi.
“Kok nggak ada taksi sih?” gerutu Sivia kesal. “Haduuuh! Panas,” keluh Sivia sambil mengipasi tubuhnya dengan tangan kanannya.
Sivia mencoba menghubungi Kak Felix. Namun, hasilnya NIHIL. Nomer Kak Felix tidak aktif. “Pasti Kak Felix lagi ngegodain cewek cantik nih,” gumam Sivia.
Telepon siapa ya? pikir Sivia. Satu nama terlintas di pikirannya. ALVIN! Saat Sivia akan menghubungi Alvin, tiba-tiba sebuah Cagiva berhenti tepat di depannya. Dahi Sivia mengerut. Siapa nih? Batin Sivia.
Pengendara Cagiva itu membuka helmnya, dan tersenyum manis ke arah Sivia.
“Kak Gabriel?” tanya Sivia tak percaya.
“Hai, Vi. Lagi ngapain sih di sini?” tanya Gabriel.
“Lagi nunggu Taksi, Kak. Abis les matematika. Lah, kakak ngapain di sini?”
“Kebetulan lewat aja. Eh, liat lo lagi di sini. Gue samperin aja deh,” jelas Gabriel.
Sivia mengangguk-anggukan kepalanya berkali-kali.
“Gue anter lo pulang aja, yuk,” ajak Gabriel.
“Hah? Nggak ah! Takut ngerepotin kakak. Lagian gue bisa minta dijemput Alvin,” tolak Sivia.
“Alvin? Alvin Jonathan maksud lo?” tanya Gabriel.
“Iya. Lo kenal, kak?”
“Kenal banget malah. Dia kan sering balapan bareng gue sama Felix.”
Sivia hanya ber’O’ria.
“Yuk, gue anter pulang aja,” tawar Gabriel.
“Nggak ngerepotin kan, Kak?” Gabriel menggeleng. Sivia tersenyum dan langsung menaiki motor Gabriel.
================ooOoo=================
Sivia memasuki halaman rumahnya setelah dia diantar pulang oleh Gabriel. Dia terkejut saat melihat ada Alvin yang berdiri di halaman rumahnya sambil bersandar di motornya.
“Ngapain lo di sini?” tanya Sivia ketus.
“Ngapain lo pulang bareng Iel?” tanya Alvin tak kalah ketus.
“Apa peduli lo, hah?!” Sivia berkacak pinggang sambil menatap Alvin tajam.
“Gue nggak suka kalau lo deket-deket Iel. Ntar malah lo naksir Iel lagi,” sungut Alvin.
“Idih! Mau gue suka atau nggak ke Kak Iel, bukan urusan lo, kan?”
Alvin memutar kedua bola matanya. “Tapi, gue itu kan cemburu, Via,” kata Alvin.
“Alah! Bullshit lo! Omongan lo itu nggak ada satupun yang bisa dipercaya. Ngerti?!” Sivia memasuki rumahnya tanpa memperdulikan Alvin lagi. Alvin berniat menyusul Sivia. Namun, Hp-nya yang bergetar membuatnya menghentikan langkah. Alvin mendengus kesal begitu tau Zevana-lah yang meneleponnya.
Alvin : Halo.
Zevana : Vin, temenin aku yuk.
Alvin : Kemana?
Zevana : Ke mall. Yaya?
Alvin : Males gue. sendiri kan bisa. Udah TUA juga.
Zevana : Ih, Alvin. Masa aku dibilang tua. Please temenin aku yak? Boring nih di rumah.
Alvin : Sendiri aja! Gue mau sama Via aja.
Zevana : Ih, Alvin. Please yah. Pliiiiiissssssss.
Alvin : Ah, yadeh, yadeh....
Zevana : Kalo gitu, kamu jemput aku ya. Muach, Baby. (SUMPAH! NAJIS TRALALA TRILILI BANGET YAH)
Sambungan terputus. Alvin menghela napas. Dengan terpaksa dia menaiki motornya dan melesat menuju rumah Zevana.
Sivia yang dari tadi mengintip lewat jendela, sangat kecewa. Aduh, Alvin kenapa pergi? Kenapa nggak ikut masuk ke dalem gitu, batin Sivia kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali.
“Eh, lo ngapain? Mau ngeruntuhin ni rumah?” tanya Kak Felix yang baru keluar dari kamarnya dan heran melihat Sivia menghentak-hentakkan kakinya.
“Ih, bukan lah. Gue lagi keseeeeeeeeeeellll!” erang Sivia seraya menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.
“Kesel kenapa?” tanya Kak Felix seraya duduk di samping Sivia.
“Gara-gara si curut temen lo!”
“Gue kagak punya temen yang namanya curut. Siapa sih?” tanya Kak Felix bingung.
“Ah tau deh. Kagak penting. Eh kok gue telepon lo nomer lo gak aktif sih?”
“Hp gue rusak. Kebanting tadi pagi,” jawab Kak Felix santai.
“Huh! Dasar!”
“Terus elo pulang les sama siapa?”
“Sama Kak Gabriel.”
Kak Felix menatap Sivia kesal. “Lo itu jangan jadi Playgirl dong. Masa dikit-dikit sama Alvin, dikit-dikit sama Iel. Pilih dong salah satu!”
Sivia langsung menimpuk kakaknya dengan bantal sofa. “Ish! Maksud lo apaan? Gue kan Cuma menerima tawaran Kak Iel. Apa salahnya? Lagipula gue bukan siapa-siapanya Alvin kan?”
“Emang bukan. Tapi, calon ‘siapa-siapanya’ Alvin,” balas Kak Felix.
Sivia manyun. “Eh, Kak. Temenin gue ke mall, yuk. Cari baju baru gitu,” ajak Sivia.
Kak Felix tampak berpikir. “Gimana ya? Nggak ah. Ntar kalau gue ketemu temen gue, bisa gawat. Masa gue ke mall. Kayak cewek aja,” tolak Kak Felix.
“Ah, ayolah, Kak. Di mall banyak cewek cantik lho,” bujuk Sivia.
Mata Kak Felix berbinar. Dia menjentikkan jarinya. “Ha! Bener banget tuh! Pasti banyak cewek cantiknya. Ayo deh,” kata Kak Felix akhirnya.
Sivia tersenyum gembira.
================ooOoo=================
Sivia dan Kak Felix berkeliling mall mencari baju untuk Sivia. Sivia sibuk melihat-lihet baju, sedangkan Kak Felix sibuk memandang cewek-cewek yang cantik.
“Kak, ini bagus nggak menurut lo?” tanya Sivia. Tak ada sahutan dari Kak Felix. Sivia menoleh ke belakang.
Dasar! Malah lagi ngobrol sama cewek. Sumpah! Mama ngidam apa sih sampe punya anak curut kayak Kak Felix? Batin Sivia kesal.
Dia langsung menghampiri Kak Felix yang sedang mengobrol dengan salah satu ceqwek manis berambut panjang.
“Ehem,” dehem Sivia membuat Kak Felixbdan cewek itu menoleh.
“Ada apa?” tanya cewek itu.
“Maaf. Saya mau ambil ni curut satu,” kata Sivia seraya menunjuk Kak Felix dengan dagunya. Kak Felix yang mendengarnya, langsung melotot sebal.
“Mmm... emang Mbak ini siapanya Mas Felix?” tanya cewek itu.
“Pacarnya,” jawab Sivia singkat. Kemudian dia menarik kerah baju Kak Felux dan menyeretnya menjauh.
Kak Felix yang sebal, langsung menepis tangan Sivia.
“Apaan sih lo?” tanya Kak Felix sebal.
“Elo yang ngapain? Lo kan ke sini nemenin gue! malah ninggalin gue!”
“Yeee.... gue kan bosen. Ngapain juga tadi lo manggil gue curut? Ngapain juga lo pake ngaku-ngaku pacar gue! Gue tau gue cakep.. tapi kan elo adek gue.. gue juga nggak doyan sama lo.. bla bla bla....” cerocos Kak Felix.
Sivia tidak menghiraukan. Matanya fokus pada dua orang yang sedang berjalan berdua. Itu ZEVIN (Zevana-Alvin).
Sivia yang geram melihatnya, langsung memanyunkan bibirnya. Kak Felix yang sadar bahwa Sivia tidak mendengarkan ocehannya, langsung berseru,
“WOY!” tepat di telinga Sivia.
Sivia terkejut. Dia langsung menutup telinganya.
“Ish! Apaan sih? Budeg tau?!” sungut Sivia seraya menggosok telinganya.
“Lagian gue ngoceh panjang lebar, malah lo kacangin!” balas Kak Felix.
“Siapa suruh ngoceh sih?” tanya Sivia kesal.
“Ya kagak ada,” jawab Kak Felix polos.
Sivia hanya mendengus kesal. Matanya masih menatap ZEVIN dengan kesal.
“Gue mau ke kamar mandi,” pamit Sivia yang langsung ngacir. Sebenarnya dia mau memata-matai ZEVIN.
Sivia mendekati ZEVIN yang sedang memilih-milih baju. Sebenarnya hanya Zevana yang memilih-milih. Karena terlihat sekali bahwa Alvin sibuk dengan I Phone 4 miliknya.
Baru saja akan mendekat, tiba-tiba.....
BRUK!
Sivia terjatuh. “Aaaawww,” rintih Sivia. Pantatnya sakit. Jidatnya juga sakit karena terbentur bahu orang yang ditabraknya.
“Ngapain sih lo? Jalan pake mata dong!” seru Sivia seraya bangkit. Dilihatnya siapa yang menabraknya. Ternyata..........
BERSAMBUNG ~
tumben bgt ni cerbung bersambungnya bukan pas suara2 gitu :D
maaf klo pendek, lagi gak ada ide.....
maaf klo gaje...
maaf klo ada yg salah ketik...
Sabtu, 02 Juni 2012
Kepastian cinta part 10
hai, ini aku lanjut cerbungnya. langsung aja yuk ~
PART SEBELUMNYA ~
JEDERR! (suara petir lho maksudnya)
KEPASTIAN CINTA PART 10
5 detik yang cukup membuat hati Sivia hancur berkeping-keping. Alvin tidak bisa berkutik, karena sanagt kaget. Tiba-tiba saja dia mulai merasa mulutnya terkunci, tak dapat bebicara.
Sivia mulai menitikkan air mata dan berjalan mendekati Alvin, tetapi, dia dicegah oleh Zevana.
“Ga usah deket-deket Alvin!” bentak Zevana. Sivia memandang tajam kearah Zevana.
“Gak usah cari ribut lo! Gue udah capek banget tanpa harus ribut sama lo!!” balas Sivia, kemudian dia mengarahkan pandangannya kearah Alvin dan mengguncang-guncang lengan Alvin.
“Lo..Lo tega, Vin!! Jadi, lo nganggep gue selama ini tuh apa, hah?!” seru Sivia yang mulai menangis.
“Jangan nangis, Vi.” Alvin berusaha merengkuh Sivia dalam pelukannya. Tetapi, Sivia dengan cepat menghindar. Dan tepat pada saat itu, hujan mulai turun dengan deras.
“Jangan deket-deket gue lagi! Gue udah gak tahan lo gantung terus, Vin!! Lo pikir gue apaan?! Gue tuh cewe, Vin!! Gue punya perasaan dan HATI yang bisa sakit!! Gue butuh CINTA YANG PASTI!! Semua omongan lo ke gue itu bullshit banget tau gak!! Sekarang gue mau tanya, sebenarnya elo mlih gue atao DIA, VIN!!” seru Sivia sambil terisak dan menunjuk Zevana yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
“Gue...Gue..” belum sempat Alvin menjawab, Sivia sudah menyambarnya.
“Lo gak bisa jawab kan?!! Dasar pengecut lo!! Cowok brengsek! Bajingan lo! (Eh? Maaf kata-katanya kasar -__-)” bentak Sivia yang kemudian berlari pulang.
“Via..Tunggu!! Lo salah paham.” Panggil Alvin yang sudah ancang-ancang berlari untuk menegjar Sivia, tetapi, tangannya ditahan oleh Zevana.
“Udah, Vin. Biarin aja!”
“Elo.. Ini semua gara-gara elo!!” bentak Alvin pada Zevana.
“Gu..Gue? Maksud lo apa?” tanya Zevana kaget.
“Gue tu gak cinta sama lo!! Gue Cuma cinta sama Via. Lo denger?! Cuma Via!!” teriak Alvin.
“Gak..Gak mungkin! Lo Cuma cinta gue!!” seru Zevana shock.
Sementara itu, Sivia berjalan menuju rumahnya dengan gontai dan lemas. Dia kecewa terhadap Alvin. Sepanjang perjalanan dia menangis.
“Gue..Gak nyangka lo gini ke gue, Vin.” Gumam Sivia lirih sambil terus menangis.
Sampai di rumahnya. Ternyata Kak Felix sedang duduk di teras sambil meminum secangkir kopi. Kak Felix kaget dengan keadaan Sivia yang sudah tak tentu lagi, badan kehujanan, mukanya pucat, dan yang membuatnya sangat terkejut...Sivia menangis.
“Vi..Lo kenapa ujan-ujanan? Mana Alvin?” tanya Kak Felix sambil mengguncang kedua bahu Sivia.
“Gu..Gue..capek Kak..Gue gak tahan lagi.” Ucap Sivia lirih sambil terus menangis dan menggigil.
“Ya udah. Kita masuk aja ya? Muka lo pucet banget.” ajak Kak Felix.
Tiba-tiba..
BRUKK!!
Sivia pingsan dan untung Kak Felix dengan sigap menangkap tubuh Sivia.
“VIA....” seru kak Felix sambil menggendong Sivia masuk ke dalam rumah.
“Bi..Bi Yem...” panggil Kek Felix panik.
“Iya..Ada apa den? Masya Allah..Ini Non Via kenapa, den?” tanya Bi Yem kaget saat datang.
“Gatau, Bi. Bi tolong bantu saya ya?” kata Kak Felix yang kemudian membawa Sivia ke kamar Sivia.
“Iya, Den.” Jawab Bi Yem.
“Bi tolong jaga dan rawat Via sebentar ya? Sama gantiin bajunya. Saya ada urusan sebentar.” Kata Kak Felix setelah membaringkan Sivia di ranjang.
“Iya, Den.” Sahut Bi Yem.
Kak Felix langsung berlari ke garasinya dan mengeluarkan mobil jazznya, dia berniat menuju taman.
Sampi disana, dia kaget karena Alvin sedang bersama Zevana di Paviliun. Dia menjadi sangat marah.
“ALVINN!!” teriak Kak Felix sambil berjalan kearah paviliun. Alvin yang mendengar namanya diteriakan langsung kaget saat melihat bahwa Kak Felixlah yang memanggilnya, dia langsung menghampiri Kak Felix.
“Felix, Via..Gimana Via?” tanya Alvin.
BUGG!!
Kak Felix langsung memukul pipi Alvin.
“Bajingan lo! Ngapain lo buat Via nangis lagi!!!” seru Kak Felix sambil memegang kerah baju Alvin.
“Sorry..Ini semua salah paham!” kilah Alvin.
“Salah paham apaan!! Jelas-jelas lo berduaan sama tuh Zevana!! Bisa-bisanya lo mesra-mesraan gitu sementara Via sakit di rumah!! Brengsek lo!!”
BUGG!
Satu pukulan berhasil mendarat kembali di pipi mulus Alvin.
“Apa? Via sakit?” tanya Alvin kaget sambil memegangi pipinya yang sakit.
“Iya! Dan itu semua gara-gara lo! Lo bilang lo sayang sama Via!! Dasar cowok gak bertanggung jawab! Megang omongan aja lo gak bisa!! Lo tau? Dia selama ini selalu nahan tangisnya biar dia keliatan KUAT didepan lo!! Dia tuh cinta ke elo! Lo gak tau kan? Dan dia bilang ke gue kalau dia bakal nangis kalo emang HATINYA UDAH SAKIT BANGET!!! Ciih!! Dasar cowok ga punya perasaan lo!!” seru Kak Felix yang kemudian segera pergi dari taman itu.
Sementara itu, Alvin lemas, speechless. Dia telah menyakiti seseorang yang dicintainya.
Dia terus termenung menatap honda jazz Kak Felix berlalu dibawah guyuran hujan sambil terus memikirkan Sivia.
“ARRGGGGHH!!! KENAPA JADI GINI?! GUE SAYANG LO VIA! GUE CINTA SAMA LO!!” teriak Alvin.
Kemudian, dia terduduk lemas dan tak dapat menahan tangisnya. Ini pertama kalinya Alvin menangis. Zevana mendekati Alvin dan memeluk Alvin dari belakang.
“Lepasin gue!” sinis Alvin.
“Vin, kamu gak usah gini. Tadi cowok itu siapa sih? Kok tiba-tiba langsung mukul kamu?” tanya Zevana.
“Gue bilang LEPASIN GUE!!” sentak Alvin, karena Zevana tetap tak bergeming, Alvin dengan paksa melepas pelukan Zevana dan bangkit berdiri, dia menatap Zevana dengan tatapan penuh amarah.
“Lo! Ngapain lo tiba-tiba balik lagi ke gue setelah perlakuan lo dulu, hah?!” hardik Alvin.
“Gue sayang sama lo, Vin.”
“Gak usah bullshit deh lo! Seenaknya lo maenin perasaan gue! Dan gara-gara lo cewe yang gue cinta tuh sakiit!!!” seru Alvin yang kemudian berjlan menuju motornya untuk pulang ke rumah.
“GUE GAK AKAN PERNAH LEPASIN LO, VIN! GAK AKAN!!” teriak Zevana sekencang-kencangnya.
Sivia sudah sadar, dan sedang berjalan turun sambil memegangi kepalanya yang masih sangat pusing, ketika sampai dibawah dia terkejut melihat kakaknya basah kuyup dan terlihat sangat marah.
“Kak Felix abis darimana? Kok basah gitu?” tanya Sivia penuh selidik.
“Gak dari mana-mana,” jawab Kak Felix seraya berjalan mendekati Sivia.
“Lo tuh masih demam. Istirahat aja gih.” Kata Kak Felix saat menyentuh kening Sivia.
“Gak. Jawab dudlu pertanyaan gue. Kak Felix darimana?” ucap Sivia tegas.
“A..Abis dari taman.” Kata Kak Felix gugup, dia tahu Sivia tidak menyukai jika dia bertengkar atau memukul seseorang.
“Ngapan Kak Felix dari taman? Jangan bilang Kak Felix buat Alvin babak belur,” Kata Sivia khawatir.
“Vi, dia itu udah nyakitin lo. lo masih aja khawatir sama dia? Dia tuh gak pantes buat lo.” Ucap Kak Felix lembut.
“Kak Felix! Gue gak suka lo ngmong kya gitu! Dan gue gak suka lo maen pukul orang!” sentak Sivia.
“Maafin gue. Gue gak tega liat lo kaya gini.” Kata Kak Felix sambil mengelus rambut Sivia.
“Tapi...”
Kak Felix langsung menarik Sivia ke dalam pelukannya.
Saat makan malam, Alvin terlihat sangat lesu. Tante Rosa menjadi khawatir.
“Vin, kamu kenapa? Kok lesu gitu. Cerita dong sama mamah.”
“Alvin gak kenapa-kenapa kok, Mah.” Jawab Alvin sambil tersenyum lesu.
“Jangan boong sama mamah, Vin. Tapi, kalo emang kamu gak mau cerita gapapa kok. Mamh ngerti.” Ucap Tante Rosa bijaksana.
================ooOoo=================
Keesokkan harinya, Sivia memaksa Kak Felix untuk menijinkannya berangkat ke sekolah.
“Please, Kak! Gue gak mau ketinggalan pelajaran. Masa lo tega sih liat ade lo ini jadi bego, please, Kak. Bolehin gue berangkat.” Rengek Sivia.
“Tapi, Vi. Lo itu belum sehat bener. Ntar kalo lo tambah sakit gimana? Gue juga kan yang repot. Mana papah sama Mamah lagi di Singapura.”
“Kak..Gue itu udah sembuh. Lo liat gue kan? Udah gak pucet lagi, gak nangis lagi, udah ceria malah.” Ucap Sivia tak mau kalah.
“Tapi, Vi..”
“Please, Kak.” Sivia memohon.
“Iya..Iya deh. Tapi, gue anter ya?” kata Kak Felix sambil menaiki mobilnya.
“Siip.” Kata Sivia mengikuti Kak Felix.
Selama perjalanan, mereka terlibat dalam obrolan seru.
“Vi, liburan kali ini gue bakal ke LA loh! Lo pasti ngiri deh.Hahaha..” ledek Kak Felix.
“Hah? Ke LA? Dan lo gak ngajak-ngajak gue, Kak? Jahat lo!” omel Sivia.
“Lah..Lo kan maunya ke Paris.”
“Itu duluu..” kata Sivia sambil menunduk.
Kak Felix merasa bersalah karena mengingatkan Sivia tentang Alvin.
“Sorry, Vi. Maksud gue bukan...”
“Udah, gapapa.. Gue emang udah gak mood lagi kok ke Paris. Gue ikut lo aja ya ke LA? Please, Kak.”
“Tapi, gue kan sama temen-temen gue, Vi.”
“Terus lo tega ninggalin gue gitu?”
“Ya, jelas gak lah.”
“Ya udah! Bolehin gue ikut! Lagian gue udah tau kenal sma temen-temen lo kan?” Sivia tetap bersikeras.
“Iya, deh. Tapi, gue ingetin aja.. Lo jangan sampe kaget kalo ketemu mereka.” ucap Kak Felix.
Sivia mengerutkan dahinya. “Kaget? Emang kenapa?” tanya Sivia bingung.
“Gak. Udah lo turun sana. Udah nyampe nih.” Kata Kak Felix mengakhiri obroaln mereka.
“Ya udah, deh! Gue berangkat dulu, Kak. Bye!”
“Bye!”
Sivia berjalan sepanjang koridor sekolah dengan berusaha seceria biasanya. Saat akan sudah sampi di kelasnya, dia melihat Alvin yang memakai jaket hitam bersender di dinding dekat pintu dengan telapak kaki kirinya ditempelkan ke dinding (Wuih! Bayangin aja kalo Alvin beneran gitu. Keren badai!). Sivia sempat terpesona karena Alvin terlihat sangat cool. Tapi, dia segera menepis perasaan itu, kemudian dia berjalan melewati Alvin tanpa menoleh sedikitpun.
Alvin tiba-tiba menarik tangan Sivia.
“Apaan sih? Lepasin gue!”
“Gak, sebelum lo mau dengerin penjelasan gue!”
“Penjelasaan buat apa! Udah deh sekarang lepasin gue! Sakit tau!” bentak Sivia. Alvin kemudian melepaskan tangan Sivia.
Sivia segera ngeloyor pergi dan duduk dibangkunya sambil memasukkan kepalanya dalam lipatan tangannya. Tiba-tiba ada tangan yang menepuk bahunya, tapi Sivia tidak menghiraukan. Seolah tidak ingin dikacangin, tangan itu menepuk pundak Sivia lebih keras.
“Rese lo ya! Apaan sih?” omel Sivia sambil mendongak.
“Oh, elo! Ada apa?” tanya Sivia malas saat melihat Alvin lah yang menepuk pundaknya.
“Gue mau jelasin semuanya, Vi. Dan lo harus dengerin gue!”
“Siapa gue lo! Maen ngatur-ngatur! Terserah gue dong mau dengarin ato gak! Urusin aja tuh MANTAN TERSAYANG LO yang SEKARANG udah jadi PACAR LO LAGI!!” seru Sivia kesal.
“Lo cemburu ya?” goda Alvin sambil tersenyum jahil.
“Idiih! Males banget gue cemburu sama si nenek lampir sialan itu! Ciih! Gak sudi gue!”
“Lah terus ngapain tadi lo marah-marah gitu?”
“Ya suka-suka gue, mulut-mulut gue! Kok lo yang ribet sih?!” sinis Sivia yang kemudian langsung beranjak pergi keluar kelas.
Alvin tanpa ragu langsung mengikuti Sivia keluar kelas dan menjejeri langkah Sivia.
“Ya suka-suka gue juga, ini kan mulut gue.” ucap Alvin santai mengikuti kata-kata Sivia. Sivia mendongak sebentar sambil memandang Alvin sinis.
“Udah deh! Mau apa lo sebenernya ganggu gue?”
“Emm..Gue mau jelasin kejadian yang sebenarnya ke elo, Vi.” Ucap Alvin serius.
“Gue gak butuh penjelasan apa-apa dari elo ya! Udah deh gak usah ganggu gue lagi!”
Tiba-tiba Zevana datang dan langsung merangkul Alvin mesra.
“Hai, baby...” kata Zevana sambil melirik sinis Sivia. Tubuh Sivia menegang, dia hampir menumpahkan air matanya.
“Apaan sih lo! Lepasin gue! Dan jangan panggil gue ‘baby’! I’m not your baby!” sentak Alvin melepas rangkulan Zevana.
“Iih! Alvin kok gitu sih?” Zevana mengguncang lengan Alvin manja.
Sivia yang sudah tidak tahan, langsung berjalan menjauh menuju taman sekolah.
Alvin segera mengejar Sivia yang mulai hilang dari pandangan.
“Vi....” panggil Alvin.
Sivia tidak mengiraukan panggilan Alvin, matanya panas dan kepalanya begitu pusing, dia segera menghentikan langkahnya saat berada di taman.
“Alvin! Lo jahat banget! Hiks..Hiks..” Sivia terisak.
“Via..” lirih Alvin sambil memeluk Sivia dari belakang.
“Alvin? Lepasin, Vin!” Sivia berusaha melepas pelukan Alvin. Tetapi, Alvin malah semakin mengeratkan pelukannya.
“Gue sayang elo Vi! Gue cinta sama elo..” bisik Alvin di telinga Sivia.
“STOP! Gak usah bullshit lo! Gak mempan lagi tau gak! Gue benci sama lo!” sentak Sivia melepas pelukan Alvin, kini dia memandang Alvin dengan tatapan nanar.
“Vi..Lo dengerin gue. Please, sekali ini aja.” Pinta Alvin.
“Gue..Gue..” Sivia memegang kepalanya yang semakin pusing, Tiba-tiba....
BRUKK!
Sivia pingsan dipelukan Alvin.
“Via... Ya ampun Vi..Via..” Alvin sanagt panik, dia segera menggendong Sivia menuju UKS.
15 menit kemudian.....
Sivia mengerjapkan kedua matanya, perlahan dia melihat sekitarnya. Kemudian dia berusaha bangun. Tetapi, kepalanya begitu pusing.
“Aww..” rintih Sivia.
“Eeh..Lo jangan bangun dulu..” cegah Alvin.
“Gue dimana?”
“Lo di UKS. Tadi lo pingsan, jadi gue bawa lo ke UKS.”
“Makasih.” Ucap Sivia sambil menyunggingkan senyum manisnya.
“Iya. Lagian elo masih sakit nekat aja berangkat sekolah. Lo tuh bikin gue khawatir tau gak.” Cerocos Alvin.
Sivia menatap Alvin heran, “Lo khawatir sama gue?”
“Iya lah. Gue kan sayang sama lo, Vi.” Ucap Alvin sambil menatap mata Sivia dalam.
Sivia memalingkan mukanya dan mulai menitikkan air matanya, “Gak usah lo bullshit depan gue!”
“Sivia, gue sama Zevana tuh gak ada apa-apa. Dan asal lo tau walaupun Zevana ngejar-ngejar gue gimanapun cinta gue tetep buat elo.” Kata Alvin lirih.
Sivia terisak pelan, kemudian dia pergi meninggalkan Alvin.
Sorry, Vin. Gue belum siap sakit hati lagi. Cukup sekali aja gue sakit batin Sivia sambil berjalan menunuduk dan terus menangis. Tanpa dia sadari, dia menabrak seseorang.
BRUKK!
“Ma..Maaf..” ujar Sivia sambil mendongak.
“Kalo jalan pake mata dong! Eh, elo..! Haha... Nangis lo? Kenapa? Ditolak Alvin?” sinis orang yang ditabrak SIvia. Ternyata itu Zevana.
“Gue lagi gak mood ribut sama lo ya! Minggir lo!” bentak Sivia sambil terus terisak.
“Santai dong! Lagian lo jadi cewek kok GATEL banget sih! Udah tau Alvin lebih milih gue, tetp lo deketin dia!” sungut Zevana.
PLAAKK!
Satu tamparan berhasil mendarat dipipi Zevana.
“Jaga tuh mulut ya! Dasar cewek murahan! Dulu lo sia-siain Alvin, nah sekarang lo NGEMIS-NGEMIS CINTANYA Alvin, emang dasar gak punya malu lo ya! Dan satu lagi, Lo jadi cewe tuh gak usah kepedean deh! Sejak kapan Alvin mau sama cewek kaya lo?!” bentak Sivia sambil menunjuk tepat di depan muka Zevana.
“LO.....”
“Apa? Emang kenyataan kan? Udah deh! Mending minggir lo! Gue males ngomong sama lo.” Cerocos Sivia sambil mendorong tubuh Zevana menjauh.
Sampai di kelas, Shilla langsung menghampirinya dengan semangat.
“Eh, lo kenapa? Abis nangis ya?” tuduh Shilla.
“Eh, gak kok. Ada apa nih? Kok lo keliatan semangat banget?” tanya Sivia mengalihkan pembicaraan.
“Oh..itu, oya gue mau ngasih tau lo tentang prom night besok. Menurut yang gue denger, semua siswa wajib ikut ke prom night. Dan kalo bisa tuh sama pasangan gitu. Kalo gak ya ngajak siapa gituu...” Jelas Shilla bersemangat.
“Hah? Wajib?” Shilla mengangguk pasti mendengar pertanyaan Sivia.
“Huuhh.. Padahal gue males dateng!” keluh Sivia.
“Kenapa? Kan seru, daripada di rumah Cuma nonton tv mending ikut prom night kan?” tanya Shilla.
“Iya sih.. Tapi..”
“Gak ada tapi-tapian. Lagian kan emang wajib. Eh, lo mau dateng sama siapa?” Sivia hanya mengangkat bahunya.
“Emm... Gue sama lo aja ya, Shill?” pinta Sivia.
“Eh, sorry, Vi. Gue kan sama Cakka.”
“Oh iya.. Ya udah deh gapapa.”
================ooOoo=================
Sampai di rumah, Sivia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa dan langsung menyalakan Tvnya. Walaupun Sivia tidak memperhatikan acara di Tv-nya karena dia hanya memikirkan acara Prom Night BESOK!!
Tiba-tiba sesosok tubuh menghempaskan tubuhnya disamping Sivia, Sivia mendongak dan malihat Kak Felix lah yang duduk dismapingnya, dia tiba-tiba tersenyum cerah.
“Eh, ngapain lo senyum-senyum gitu liat gue? Gue tau gue ganteng kok.” Narsis Kak Felix saat melihat Sivia tersenyum cerah kearahnya.
“Iya.. Kakak emang ganteng banget! Paling ganteng malah..”
“Stop! Sebelum lo lanjutin rayuan lo yang gak bermutu itu, mending lo langsung to the point aja deh. Lo ngrayu gue pasti ada maunya kan?” tebak Kak Felix sempurna.
“Hehehe.. Gini, Kak.. Gue mau ngajak lo ke prom night besok. Lo mau ya? Masalahnya itu wajib dan kalo bisa bawa pasangan gitu atau yang penting berdua deh.”
“Itu kan kalo BISA, nah gue ga mau ah! Kenapa lo gak pergi sendiri aja sih?”
“Masa lo tega gue disana Cuma bengong kaya orang ilang gitu Gue kan ade lo. Please, Kak.” Pinta Sivia denga tatapan yang tak dapat ditolak oleh Kak Felix.
“Aarrgghh!! Lo tuh ya bisa aja maksa gue..” kata Kak Felix akhirnya menyerah.
================ooOoo=================
Besoknya pukul 18.00.
“Eh, meding lo siap-siap deh, Kak. Acaranya jam 7 tau! Dan gue ga mau telat.” Paksa Sivia sambil memndorong Kak Felix kedalam kamarnya.
“Iya...Iya..Bawel lo ah!” Kak Felix segera menutu pintu kamarnya untuk berganti baju.
Sedangkan Sivia yang sudah tampak sangat anggun dan cantik mengenakan dress selutut berwarna merah dengan lengan terbuka ditambah dengan make up tipis dan natural yang dipakainya.
Sivia duduk didepan TV sambil sesekali merapikan rambutnya yang dihiasi dengan bandana senada dengan dressnya.
Setengah jam kemudian, Kak Felix selesai berganti baju dan menghampiri Sivia.
“Iih. Lo ganti kok lama banget dih Kak! Kaya cewek aja.” Omel Sivia saat berjalan menuju mobil Kak Felix.
“Ketularan elo.” Jawab Kak Felix santai.
“Enak aja! Udah ah! Ayo buruan!” ajak Sivia.
Sampai di sekolah, Sivia menggandeng tangan Kak Felix.
“Ish! Jangan pake acara gandeng-gandengan deh! Lo nurunin pasaran gue tau gak?” protes Kak Felix.
“Ssttt! Diem lo! Mau nurunin pasaran lo gimana? Lo emang gak laku kok.” Kata Sivia santai.
“Sialan lo!” sungut Kak Felix.
Sampai di dalam, Sivia dan Kak Felix menjadi perhatian semua orang disitu, bagaiman tidak? Sivia yang malam itu tampak cantik dan anggun bergandengan dengan cowok tinggi dan tampan.
“Siapa tuh cowok? Cakep banget?”
“Pacarnya Via? Emang cocok banget sih mereka?”
“Wiih! Via nemu dimana ya cowo cakep gitu?”
Begitulah kira-kira pertanyaan yang terlontar dari orang-orang yang memperhatikan Sivia dan Kak Felix.
Sementara itu, Sivia dan Kak Felix tetap berjalan cuek menuju dekat meja tempat makanan dan minuman disediakan.
“Huu,, Gue haus banget!” ucap Sivia sambil mengambil gelas berisi cocktail yang telah tersedia.
Sedangkan Kak Felix mengambil kue yang ada dihadapannya, dia langsung mengambil dua potong kue. Itu membaut Sivia menjadi ilfeel.
“Kak, elo kalo makan tuh inget tempat kek.” Protes Sivia.
“Maksud lo?” tanya Kak Felix seraya menyuapkan potongan kue kedalam mulutnya.
“Masa sekali ambil, dua gitu. Bikin gue ilfeel tau gak sih!” kata Sivia sambil melipat kedua tangan di dadanya.
“Sebodo! Lo bukan pacar gue inih. Mau ilfeel atau apa gitu gak mikir deh gue.”
“Iih!! Kak Feliiixxx!! Lo tuh ya! Gue tabok tau rasa lo.” Sungut Sivia.
“Weekkss! Lo tabok gue tinggal lho!” ancam Kak Felix.
Sivia kesal dan langsung memalingkan wajahnya kearah lain, saat sedang menyapu pemandangan disitu, ekor matanya menangkap dua sosok yang sedang berdiri bersama disalah satu sudut ruangan.
“Eh, itu bukannya si Alvin ya? Sama Zevana?” gumam Sivia.
Sivia terus memperhatikan Alvin dan Zevana yang sepertinya sedang mengobrol. Eh salah! Bukan mengobrol, karena Alvin hanya terlihat mendengarkan dengan malas semua ucapan Zevana. Sivia tersenyum senang melihatnya.
“Woi! Ngapain lo senyum-senyum gitu?” tanya Kak Felix agak keras sambil melambaikan tangannya didepan wajah Sivia.
“Sssstt! Bisa gak sih lo kalo ngomong tuh dipelanin sedikit suaranya?” ucap Sivia kesal setengah berbisik.
Tepat pada saat itu, Zevana dan Alvin langsung menoleh mendengar suara Kak Felix yang agak keras. Alvin terkejut saat melihat Sivia dan Kak Felix yang ternyata berada di acara Prom night. Sedangkan Zevana, dia terlihat tidak senang karena malihat Sivia ternyata bersama dengan seorang cowok cakep di prom night itu.
Alvin segera berjalan menghampiri Sivia dan Kak Felix, tetapi tangannya ditahan oleh Zevana.
“Lo mau kemna?” tanya Zevana.
“Not your bussiness!” Alvin berusaha melepaskan tangannya.
“Tunggu! Gue ikut!” pinta Zevana.
“Gak! Ngapain sih lo ngikutin gue terus! Babu gue juga bukan.” Ucap Alvin kesal.
“Tapi, gue kan gamau jauh dari elo..” kata Zevana manja.
Alvin jengah mendengar perkataan Zevana, dia langsung berjalan meninggalkan Zevana dibelakangnya.
Kak Felix yang terlebih dahulu melihat Alvin berjalan mendekati tempat mereka langsung menggenggam erat tangan Sivia.
“Iih! Apaan sih, Kak!” protes Sivia sambil mencoba melepaskan tangannya.
“Sst! Ga usah bawel lo!” Sivia hanya memandenag heran Kak Felix, dan langsung paham ketika melihat Alvin berjalan mendekati tempat mereka bersama Zevana dibelakangnya.
“Hai, Vi.” Sapa Zevana bermanis-manis.
“Hai juga!” balas Sivia kaku sambil meremas kuat-kuat gelas yang dipegangnya.
“Eh, cowo ini siapa? Kayaknya gue pernah liat deh.” Tanya Zevana sambil berusaha mengingat.
“Oh iya! Lo Felix kan? Yang waktu itu mukulin pacar gue?” kata Zevana.
Kak Felix dan Alvin langsung cengo mendengar perkataan Zevana.
“Pacar lo? Kapan gue mukulin pacar lo? Ketemu juga belum pernah!” kilah Kak Felix.
“Gak usah boong deh! Orang gue liat sendiri lo mukulin Alvin kan?” kata Zevana.
“Eh, tunggu! Gue makin pusing nih! Emang bener gue waktu itu mukulin Alvin, tapi, gue gak pernah mukulin pacar lo!” ucap Kak Felix kesal.
“Dasar lemot! Alvin kan pacar gue!” ujar Zevana.
Sivia langsung tersentak hebat “Lo pacaran sama dia, Vin?” tanya Sivia wa-was.
“Eh, gak kok! Sumpah demi apapun deh! Lo ngapain sih ngaku-ngaku jadi pacar gue!” seru Alvin kesal.
“Ah, bodo! Mending gue pergi deh! SUMPEK disini!” ucap Sivia sambil berjalan pergi membawa gelas berisi cocktailnya.
Eh kenapa tu bocah? Pikir Kak Felix sambil menatap cengo kepergian Sivia.
“Sebodo deh! Eh, disini ternyata ceweknya oke juga! Gue mau kecengin tuh yang lagi sendirian ah!” ujar Kak Felix saat melihat seorang cewek yang sedang berdiri sendiri di depan pintu masuk.
“Eh, kok pada pergi sih? Gue ikut pergi juga deh!” kata Alvin sambil ngacir meninggalkan Zevana.
“Alvin cimit-cimit gue! Tungguin dong!” kata Zevana sambil mengikuti langkah Alvin.
Sementara itu, Sivia berjalan tanpa melihat arah. Tiba-tiba....
BRUKK!!
BERSAMBUNG~
heran gue. kenapa ya setiap cerbung ini bersambung, pasti ada suara aneh. 'Bruk!' atau 'Byur!' atau 'Jeder!' -___-
PART SEBELUMNYA ~
JEDERR! (suara petir lho maksudnya)
KEPASTIAN CINTA PART 10
5 detik yang cukup membuat hati Sivia hancur berkeping-keping. Alvin tidak bisa berkutik, karena sanagt kaget. Tiba-tiba saja dia mulai merasa mulutnya terkunci, tak dapat bebicara.
Sivia mulai menitikkan air mata dan berjalan mendekati Alvin, tetapi, dia dicegah oleh Zevana.
“Ga usah deket-deket Alvin!” bentak Zevana. Sivia memandang tajam kearah Zevana.
“Gak usah cari ribut lo! Gue udah capek banget tanpa harus ribut sama lo!!” balas Sivia, kemudian dia mengarahkan pandangannya kearah Alvin dan mengguncang-guncang lengan Alvin.
“Lo..Lo tega, Vin!! Jadi, lo nganggep gue selama ini tuh apa, hah?!” seru Sivia yang mulai menangis.
“Jangan nangis, Vi.” Alvin berusaha merengkuh Sivia dalam pelukannya. Tetapi, Sivia dengan cepat menghindar. Dan tepat pada saat itu, hujan mulai turun dengan deras.
“Jangan deket-deket gue lagi! Gue udah gak tahan lo gantung terus, Vin!! Lo pikir gue apaan?! Gue tuh cewe, Vin!! Gue punya perasaan dan HATI yang bisa sakit!! Gue butuh CINTA YANG PASTI!! Semua omongan lo ke gue itu bullshit banget tau gak!! Sekarang gue mau tanya, sebenarnya elo mlih gue atao DIA, VIN!!” seru Sivia sambil terisak dan menunjuk Zevana yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
“Gue...Gue..” belum sempat Alvin menjawab, Sivia sudah menyambarnya.
“Lo gak bisa jawab kan?!! Dasar pengecut lo!! Cowok brengsek! Bajingan lo! (Eh? Maaf kata-katanya kasar -__-)” bentak Sivia yang kemudian berlari pulang.
“Via..Tunggu!! Lo salah paham.” Panggil Alvin yang sudah ancang-ancang berlari untuk menegjar Sivia, tetapi, tangannya ditahan oleh Zevana.
“Udah, Vin. Biarin aja!”
“Elo.. Ini semua gara-gara elo!!” bentak Alvin pada Zevana.
“Gu..Gue? Maksud lo apa?” tanya Zevana kaget.
“Gue tu gak cinta sama lo!! Gue Cuma cinta sama Via. Lo denger?! Cuma Via!!” teriak Alvin.
“Gak..Gak mungkin! Lo Cuma cinta gue!!” seru Zevana shock.
Sementara itu, Sivia berjalan menuju rumahnya dengan gontai dan lemas. Dia kecewa terhadap Alvin. Sepanjang perjalanan dia menangis.
“Gue..Gak nyangka lo gini ke gue, Vin.” Gumam Sivia lirih sambil terus menangis.
Sampai di rumahnya. Ternyata Kak Felix sedang duduk di teras sambil meminum secangkir kopi. Kak Felix kaget dengan keadaan Sivia yang sudah tak tentu lagi, badan kehujanan, mukanya pucat, dan yang membuatnya sangat terkejut...Sivia menangis.
“Vi..Lo kenapa ujan-ujanan? Mana Alvin?” tanya Kak Felix sambil mengguncang kedua bahu Sivia.
“Gu..Gue..capek Kak..Gue gak tahan lagi.” Ucap Sivia lirih sambil terus menangis dan menggigil.
“Ya udah. Kita masuk aja ya? Muka lo pucet banget.” ajak Kak Felix.
Tiba-tiba..
BRUKK!!
Sivia pingsan dan untung Kak Felix dengan sigap menangkap tubuh Sivia.
“VIA....” seru kak Felix sambil menggendong Sivia masuk ke dalam rumah.
“Bi..Bi Yem...” panggil Kek Felix panik.
“Iya..Ada apa den? Masya Allah..Ini Non Via kenapa, den?” tanya Bi Yem kaget saat datang.
“Gatau, Bi. Bi tolong bantu saya ya?” kata Kak Felix yang kemudian membawa Sivia ke kamar Sivia.
“Iya, Den.” Jawab Bi Yem.
“Bi tolong jaga dan rawat Via sebentar ya? Sama gantiin bajunya. Saya ada urusan sebentar.” Kata Kak Felix setelah membaringkan Sivia di ranjang.
“Iya, Den.” Sahut Bi Yem.
Kak Felix langsung berlari ke garasinya dan mengeluarkan mobil jazznya, dia berniat menuju taman.
Sampi disana, dia kaget karena Alvin sedang bersama Zevana di Paviliun. Dia menjadi sangat marah.
“ALVINN!!” teriak Kak Felix sambil berjalan kearah paviliun. Alvin yang mendengar namanya diteriakan langsung kaget saat melihat bahwa Kak Felixlah yang memanggilnya, dia langsung menghampiri Kak Felix.
“Felix, Via..Gimana Via?” tanya Alvin.
BUGG!!
Kak Felix langsung memukul pipi Alvin.
“Bajingan lo! Ngapain lo buat Via nangis lagi!!!” seru Kak Felix sambil memegang kerah baju Alvin.
“Sorry..Ini semua salah paham!” kilah Alvin.
“Salah paham apaan!! Jelas-jelas lo berduaan sama tuh Zevana!! Bisa-bisanya lo mesra-mesraan gitu sementara Via sakit di rumah!! Brengsek lo!!”
BUGG!
Satu pukulan berhasil mendarat kembali di pipi mulus Alvin.
“Apa? Via sakit?” tanya Alvin kaget sambil memegangi pipinya yang sakit.
“Iya! Dan itu semua gara-gara lo! Lo bilang lo sayang sama Via!! Dasar cowok gak bertanggung jawab! Megang omongan aja lo gak bisa!! Lo tau? Dia selama ini selalu nahan tangisnya biar dia keliatan KUAT didepan lo!! Dia tuh cinta ke elo! Lo gak tau kan? Dan dia bilang ke gue kalau dia bakal nangis kalo emang HATINYA UDAH SAKIT BANGET!!! Ciih!! Dasar cowok ga punya perasaan lo!!” seru Kak Felix yang kemudian segera pergi dari taman itu.
Sementara itu, Alvin lemas, speechless. Dia telah menyakiti seseorang yang dicintainya.
Dia terus termenung menatap honda jazz Kak Felix berlalu dibawah guyuran hujan sambil terus memikirkan Sivia.
“ARRGGGGHH!!! KENAPA JADI GINI?! GUE SAYANG LO VIA! GUE CINTA SAMA LO!!” teriak Alvin.
Kemudian, dia terduduk lemas dan tak dapat menahan tangisnya. Ini pertama kalinya Alvin menangis. Zevana mendekati Alvin dan memeluk Alvin dari belakang.
“Lepasin gue!” sinis Alvin.
“Vin, kamu gak usah gini. Tadi cowok itu siapa sih? Kok tiba-tiba langsung mukul kamu?” tanya Zevana.
“Gue bilang LEPASIN GUE!!” sentak Alvin, karena Zevana tetap tak bergeming, Alvin dengan paksa melepas pelukan Zevana dan bangkit berdiri, dia menatap Zevana dengan tatapan penuh amarah.
“Lo! Ngapain lo tiba-tiba balik lagi ke gue setelah perlakuan lo dulu, hah?!” hardik Alvin.
“Gue sayang sama lo, Vin.”
“Gak usah bullshit deh lo! Seenaknya lo maenin perasaan gue! Dan gara-gara lo cewe yang gue cinta tuh sakiit!!!” seru Alvin yang kemudian berjlan menuju motornya untuk pulang ke rumah.
“GUE GAK AKAN PERNAH LEPASIN LO, VIN! GAK AKAN!!” teriak Zevana sekencang-kencangnya.
Sivia sudah sadar, dan sedang berjalan turun sambil memegangi kepalanya yang masih sangat pusing, ketika sampai dibawah dia terkejut melihat kakaknya basah kuyup dan terlihat sangat marah.
“Kak Felix abis darimana? Kok basah gitu?” tanya Sivia penuh selidik.
“Gak dari mana-mana,” jawab Kak Felix seraya berjalan mendekati Sivia.
“Lo tuh masih demam. Istirahat aja gih.” Kata Kak Felix saat menyentuh kening Sivia.
“Gak. Jawab dudlu pertanyaan gue. Kak Felix darimana?” ucap Sivia tegas.
“A..Abis dari taman.” Kata Kak Felix gugup, dia tahu Sivia tidak menyukai jika dia bertengkar atau memukul seseorang.
“Ngapan Kak Felix dari taman? Jangan bilang Kak Felix buat Alvin babak belur,” Kata Sivia khawatir.
“Vi, dia itu udah nyakitin lo. lo masih aja khawatir sama dia? Dia tuh gak pantes buat lo.” Ucap Kak Felix lembut.
“Kak Felix! Gue gak suka lo ngmong kya gitu! Dan gue gak suka lo maen pukul orang!” sentak Sivia.
“Maafin gue. Gue gak tega liat lo kaya gini.” Kata Kak Felix sambil mengelus rambut Sivia.
“Tapi...”
Kak Felix langsung menarik Sivia ke dalam pelukannya.
Saat makan malam, Alvin terlihat sangat lesu. Tante Rosa menjadi khawatir.
“Vin, kamu kenapa? Kok lesu gitu. Cerita dong sama mamah.”
“Alvin gak kenapa-kenapa kok, Mah.” Jawab Alvin sambil tersenyum lesu.
“Jangan boong sama mamah, Vin. Tapi, kalo emang kamu gak mau cerita gapapa kok. Mamh ngerti.” Ucap Tante Rosa bijaksana.
================ooOoo=================
Keesokkan harinya, Sivia memaksa Kak Felix untuk menijinkannya berangkat ke sekolah.
“Please, Kak! Gue gak mau ketinggalan pelajaran. Masa lo tega sih liat ade lo ini jadi bego, please, Kak. Bolehin gue berangkat.” Rengek Sivia.
“Tapi, Vi. Lo itu belum sehat bener. Ntar kalo lo tambah sakit gimana? Gue juga kan yang repot. Mana papah sama Mamah lagi di Singapura.”
“Kak..Gue itu udah sembuh. Lo liat gue kan? Udah gak pucet lagi, gak nangis lagi, udah ceria malah.” Ucap Sivia tak mau kalah.
“Tapi, Vi..”
“Please, Kak.” Sivia memohon.
“Iya..Iya deh. Tapi, gue anter ya?” kata Kak Felix sambil menaiki mobilnya.
“Siip.” Kata Sivia mengikuti Kak Felix.
Selama perjalanan, mereka terlibat dalam obrolan seru.
“Vi, liburan kali ini gue bakal ke LA loh! Lo pasti ngiri deh.Hahaha..” ledek Kak Felix.
“Hah? Ke LA? Dan lo gak ngajak-ngajak gue, Kak? Jahat lo!” omel Sivia.
“Lah..Lo kan maunya ke Paris.”
“Itu duluu..” kata Sivia sambil menunduk.
Kak Felix merasa bersalah karena mengingatkan Sivia tentang Alvin.
“Sorry, Vi. Maksud gue bukan...”
“Udah, gapapa.. Gue emang udah gak mood lagi kok ke Paris. Gue ikut lo aja ya ke LA? Please, Kak.”
“Tapi, gue kan sama temen-temen gue, Vi.”
“Terus lo tega ninggalin gue gitu?”
“Ya, jelas gak lah.”
“Ya udah! Bolehin gue ikut! Lagian gue udah tau kenal sma temen-temen lo kan?” Sivia tetap bersikeras.
“Iya, deh. Tapi, gue ingetin aja.. Lo jangan sampe kaget kalo ketemu mereka.” ucap Kak Felix.
Sivia mengerutkan dahinya. “Kaget? Emang kenapa?” tanya Sivia bingung.
“Gak. Udah lo turun sana. Udah nyampe nih.” Kata Kak Felix mengakhiri obroaln mereka.
“Ya udah, deh! Gue berangkat dulu, Kak. Bye!”
“Bye!”
Sivia berjalan sepanjang koridor sekolah dengan berusaha seceria biasanya. Saat akan sudah sampi di kelasnya, dia melihat Alvin yang memakai jaket hitam bersender di dinding dekat pintu dengan telapak kaki kirinya ditempelkan ke dinding (Wuih! Bayangin aja kalo Alvin beneran gitu. Keren badai!). Sivia sempat terpesona karena Alvin terlihat sangat cool. Tapi, dia segera menepis perasaan itu, kemudian dia berjalan melewati Alvin tanpa menoleh sedikitpun.
Alvin tiba-tiba menarik tangan Sivia.
“Apaan sih? Lepasin gue!”
“Gak, sebelum lo mau dengerin penjelasan gue!”
“Penjelasaan buat apa! Udah deh sekarang lepasin gue! Sakit tau!” bentak Sivia. Alvin kemudian melepaskan tangan Sivia.
Sivia segera ngeloyor pergi dan duduk dibangkunya sambil memasukkan kepalanya dalam lipatan tangannya. Tiba-tiba ada tangan yang menepuk bahunya, tapi Sivia tidak menghiraukan. Seolah tidak ingin dikacangin, tangan itu menepuk pundak Sivia lebih keras.
“Rese lo ya! Apaan sih?” omel Sivia sambil mendongak.
“Oh, elo! Ada apa?” tanya Sivia malas saat melihat Alvin lah yang menepuk pundaknya.
“Gue mau jelasin semuanya, Vi. Dan lo harus dengerin gue!”
“Siapa gue lo! Maen ngatur-ngatur! Terserah gue dong mau dengarin ato gak! Urusin aja tuh MANTAN TERSAYANG LO yang SEKARANG udah jadi PACAR LO LAGI!!” seru Sivia kesal.
“Lo cemburu ya?” goda Alvin sambil tersenyum jahil.
“Idiih! Males banget gue cemburu sama si nenek lampir sialan itu! Ciih! Gak sudi gue!”
“Lah terus ngapain tadi lo marah-marah gitu?”
“Ya suka-suka gue, mulut-mulut gue! Kok lo yang ribet sih?!” sinis Sivia yang kemudian langsung beranjak pergi keluar kelas.
Alvin tanpa ragu langsung mengikuti Sivia keluar kelas dan menjejeri langkah Sivia.
“Ya suka-suka gue juga, ini kan mulut gue.” ucap Alvin santai mengikuti kata-kata Sivia. Sivia mendongak sebentar sambil memandang Alvin sinis.
“Udah deh! Mau apa lo sebenernya ganggu gue?”
“Emm..Gue mau jelasin kejadian yang sebenarnya ke elo, Vi.” Ucap Alvin serius.
“Gue gak butuh penjelasan apa-apa dari elo ya! Udah deh gak usah ganggu gue lagi!”
Tiba-tiba Zevana datang dan langsung merangkul Alvin mesra.
“Hai, baby...” kata Zevana sambil melirik sinis Sivia. Tubuh Sivia menegang, dia hampir menumpahkan air matanya.
“Apaan sih lo! Lepasin gue! Dan jangan panggil gue ‘baby’! I’m not your baby!” sentak Alvin melepas rangkulan Zevana.
“Iih! Alvin kok gitu sih?” Zevana mengguncang lengan Alvin manja.
Sivia yang sudah tidak tahan, langsung berjalan menjauh menuju taman sekolah.
Alvin segera mengejar Sivia yang mulai hilang dari pandangan.
“Vi....” panggil Alvin.
Sivia tidak mengiraukan panggilan Alvin, matanya panas dan kepalanya begitu pusing, dia segera menghentikan langkahnya saat berada di taman.
“Alvin! Lo jahat banget! Hiks..Hiks..” Sivia terisak.
“Via..” lirih Alvin sambil memeluk Sivia dari belakang.
“Alvin? Lepasin, Vin!” Sivia berusaha melepas pelukan Alvin. Tetapi, Alvin malah semakin mengeratkan pelukannya.
“Gue sayang elo Vi! Gue cinta sama elo..” bisik Alvin di telinga Sivia.
“STOP! Gak usah bullshit lo! Gak mempan lagi tau gak! Gue benci sama lo!” sentak Sivia melepas pelukan Alvin, kini dia memandang Alvin dengan tatapan nanar.
“Vi..Lo dengerin gue. Please, sekali ini aja.” Pinta Alvin.
“Gue..Gue..” Sivia memegang kepalanya yang semakin pusing, Tiba-tiba....
BRUKK!
Sivia pingsan dipelukan Alvin.
“Via... Ya ampun Vi..Via..” Alvin sanagt panik, dia segera menggendong Sivia menuju UKS.
15 menit kemudian.....
Sivia mengerjapkan kedua matanya, perlahan dia melihat sekitarnya. Kemudian dia berusaha bangun. Tetapi, kepalanya begitu pusing.
“Aww..” rintih Sivia.
“Eeh..Lo jangan bangun dulu..” cegah Alvin.
“Gue dimana?”
“Lo di UKS. Tadi lo pingsan, jadi gue bawa lo ke UKS.”
“Makasih.” Ucap Sivia sambil menyunggingkan senyum manisnya.
“Iya. Lagian elo masih sakit nekat aja berangkat sekolah. Lo tuh bikin gue khawatir tau gak.” Cerocos Alvin.
Sivia menatap Alvin heran, “Lo khawatir sama gue?”
“Iya lah. Gue kan sayang sama lo, Vi.” Ucap Alvin sambil menatap mata Sivia dalam.
Sivia memalingkan mukanya dan mulai menitikkan air matanya, “Gak usah lo bullshit depan gue!”
“Sivia, gue sama Zevana tuh gak ada apa-apa. Dan asal lo tau walaupun Zevana ngejar-ngejar gue gimanapun cinta gue tetep buat elo.” Kata Alvin lirih.
Sivia terisak pelan, kemudian dia pergi meninggalkan Alvin.
Sorry, Vin. Gue belum siap sakit hati lagi. Cukup sekali aja gue sakit batin Sivia sambil berjalan menunuduk dan terus menangis. Tanpa dia sadari, dia menabrak seseorang.
BRUKK!
“Ma..Maaf..” ujar Sivia sambil mendongak.
“Kalo jalan pake mata dong! Eh, elo..! Haha... Nangis lo? Kenapa? Ditolak Alvin?” sinis orang yang ditabrak SIvia. Ternyata itu Zevana.
“Gue lagi gak mood ribut sama lo ya! Minggir lo!” bentak Sivia sambil terus terisak.
“Santai dong! Lagian lo jadi cewek kok GATEL banget sih! Udah tau Alvin lebih milih gue, tetp lo deketin dia!” sungut Zevana.
PLAAKK!
Satu tamparan berhasil mendarat dipipi Zevana.
“Jaga tuh mulut ya! Dasar cewek murahan! Dulu lo sia-siain Alvin, nah sekarang lo NGEMIS-NGEMIS CINTANYA Alvin, emang dasar gak punya malu lo ya! Dan satu lagi, Lo jadi cewe tuh gak usah kepedean deh! Sejak kapan Alvin mau sama cewek kaya lo?!” bentak Sivia sambil menunjuk tepat di depan muka Zevana.
“LO.....”
“Apa? Emang kenyataan kan? Udah deh! Mending minggir lo! Gue males ngomong sama lo.” Cerocos Sivia sambil mendorong tubuh Zevana menjauh.
Sampai di kelas, Shilla langsung menghampirinya dengan semangat.
“Eh, lo kenapa? Abis nangis ya?” tuduh Shilla.
“Eh, gak kok. Ada apa nih? Kok lo keliatan semangat banget?” tanya Sivia mengalihkan pembicaraan.
“Oh..itu, oya gue mau ngasih tau lo tentang prom night besok. Menurut yang gue denger, semua siswa wajib ikut ke prom night. Dan kalo bisa tuh sama pasangan gitu. Kalo gak ya ngajak siapa gituu...” Jelas Shilla bersemangat.
“Hah? Wajib?” Shilla mengangguk pasti mendengar pertanyaan Sivia.
“Huuhh.. Padahal gue males dateng!” keluh Sivia.
“Kenapa? Kan seru, daripada di rumah Cuma nonton tv mending ikut prom night kan?” tanya Shilla.
“Iya sih.. Tapi..”
“Gak ada tapi-tapian. Lagian kan emang wajib. Eh, lo mau dateng sama siapa?” Sivia hanya mengangkat bahunya.
“Emm... Gue sama lo aja ya, Shill?” pinta Sivia.
“Eh, sorry, Vi. Gue kan sama Cakka.”
“Oh iya.. Ya udah deh gapapa.”
================ooOoo=================
Sampai di rumah, Sivia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa dan langsung menyalakan Tvnya. Walaupun Sivia tidak memperhatikan acara di Tv-nya karena dia hanya memikirkan acara Prom Night BESOK!!
Tiba-tiba sesosok tubuh menghempaskan tubuhnya disamping Sivia, Sivia mendongak dan malihat Kak Felix lah yang duduk dismapingnya, dia tiba-tiba tersenyum cerah.
“Eh, ngapain lo senyum-senyum gitu liat gue? Gue tau gue ganteng kok.” Narsis Kak Felix saat melihat Sivia tersenyum cerah kearahnya.
“Iya.. Kakak emang ganteng banget! Paling ganteng malah..”
“Stop! Sebelum lo lanjutin rayuan lo yang gak bermutu itu, mending lo langsung to the point aja deh. Lo ngrayu gue pasti ada maunya kan?” tebak Kak Felix sempurna.
“Hehehe.. Gini, Kak.. Gue mau ngajak lo ke prom night besok. Lo mau ya? Masalahnya itu wajib dan kalo bisa bawa pasangan gitu atau yang penting berdua deh.”
“Itu kan kalo BISA, nah gue ga mau ah! Kenapa lo gak pergi sendiri aja sih?”
“Masa lo tega gue disana Cuma bengong kaya orang ilang gitu Gue kan ade lo. Please, Kak.” Pinta Sivia denga tatapan yang tak dapat ditolak oleh Kak Felix.
“Aarrgghh!! Lo tuh ya bisa aja maksa gue..” kata Kak Felix akhirnya menyerah.
================ooOoo=================
Besoknya pukul 18.00.
“Eh, meding lo siap-siap deh, Kak. Acaranya jam 7 tau! Dan gue ga mau telat.” Paksa Sivia sambil memndorong Kak Felix kedalam kamarnya.
“Iya...Iya..Bawel lo ah!” Kak Felix segera menutu pintu kamarnya untuk berganti baju.
Sedangkan Sivia yang sudah tampak sangat anggun dan cantik mengenakan dress selutut berwarna merah dengan lengan terbuka ditambah dengan make up tipis dan natural yang dipakainya.
Sivia duduk didepan TV sambil sesekali merapikan rambutnya yang dihiasi dengan bandana senada dengan dressnya.
Setengah jam kemudian, Kak Felix selesai berganti baju dan menghampiri Sivia.
“Iih. Lo ganti kok lama banget dih Kak! Kaya cewek aja.” Omel Sivia saat berjalan menuju mobil Kak Felix.
“Ketularan elo.” Jawab Kak Felix santai.
“Enak aja! Udah ah! Ayo buruan!” ajak Sivia.
Sampai di sekolah, Sivia menggandeng tangan Kak Felix.
“Ish! Jangan pake acara gandeng-gandengan deh! Lo nurunin pasaran gue tau gak?” protes Kak Felix.
“Ssttt! Diem lo! Mau nurunin pasaran lo gimana? Lo emang gak laku kok.” Kata Sivia santai.
“Sialan lo!” sungut Kak Felix.
Sampai di dalam, Sivia dan Kak Felix menjadi perhatian semua orang disitu, bagaiman tidak? Sivia yang malam itu tampak cantik dan anggun bergandengan dengan cowok tinggi dan tampan.
“Siapa tuh cowok? Cakep banget?”
“Pacarnya Via? Emang cocok banget sih mereka?”
“Wiih! Via nemu dimana ya cowo cakep gitu?”
Begitulah kira-kira pertanyaan yang terlontar dari orang-orang yang memperhatikan Sivia dan Kak Felix.
Sementara itu, Sivia dan Kak Felix tetap berjalan cuek menuju dekat meja tempat makanan dan minuman disediakan.
“Huu,, Gue haus banget!” ucap Sivia sambil mengambil gelas berisi cocktail yang telah tersedia.
Sedangkan Kak Felix mengambil kue yang ada dihadapannya, dia langsung mengambil dua potong kue. Itu membaut Sivia menjadi ilfeel.
“Kak, elo kalo makan tuh inget tempat kek.” Protes Sivia.
“Maksud lo?” tanya Kak Felix seraya menyuapkan potongan kue kedalam mulutnya.
“Masa sekali ambil, dua gitu. Bikin gue ilfeel tau gak sih!” kata Sivia sambil melipat kedua tangan di dadanya.
“Sebodo! Lo bukan pacar gue inih. Mau ilfeel atau apa gitu gak mikir deh gue.”
“Iih!! Kak Feliiixxx!! Lo tuh ya! Gue tabok tau rasa lo.” Sungut Sivia.
“Weekkss! Lo tabok gue tinggal lho!” ancam Kak Felix.
Sivia kesal dan langsung memalingkan wajahnya kearah lain, saat sedang menyapu pemandangan disitu, ekor matanya menangkap dua sosok yang sedang berdiri bersama disalah satu sudut ruangan.
“Eh, itu bukannya si Alvin ya? Sama Zevana?” gumam Sivia.
Sivia terus memperhatikan Alvin dan Zevana yang sepertinya sedang mengobrol. Eh salah! Bukan mengobrol, karena Alvin hanya terlihat mendengarkan dengan malas semua ucapan Zevana. Sivia tersenyum senang melihatnya.
“Woi! Ngapain lo senyum-senyum gitu?” tanya Kak Felix agak keras sambil melambaikan tangannya didepan wajah Sivia.
“Sssstt! Bisa gak sih lo kalo ngomong tuh dipelanin sedikit suaranya?” ucap Sivia kesal setengah berbisik.
Tepat pada saat itu, Zevana dan Alvin langsung menoleh mendengar suara Kak Felix yang agak keras. Alvin terkejut saat melihat Sivia dan Kak Felix yang ternyata berada di acara Prom night. Sedangkan Zevana, dia terlihat tidak senang karena malihat Sivia ternyata bersama dengan seorang cowok cakep di prom night itu.
Alvin segera berjalan menghampiri Sivia dan Kak Felix, tetapi tangannya ditahan oleh Zevana.
“Lo mau kemna?” tanya Zevana.
“Not your bussiness!” Alvin berusaha melepaskan tangannya.
“Tunggu! Gue ikut!” pinta Zevana.
“Gak! Ngapain sih lo ngikutin gue terus! Babu gue juga bukan.” Ucap Alvin kesal.
“Tapi, gue kan gamau jauh dari elo..” kata Zevana manja.
Alvin jengah mendengar perkataan Zevana, dia langsung berjalan meninggalkan Zevana dibelakangnya.
Kak Felix yang terlebih dahulu melihat Alvin berjalan mendekati tempat mereka langsung menggenggam erat tangan Sivia.
“Iih! Apaan sih, Kak!” protes Sivia sambil mencoba melepaskan tangannya.
“Sst! Ga usah bawel lo!” Sivia hanya memandenag heran Kak Felix, dan langsung paham ketika melihat Alvin berjalan mendekati tempat mereka bersama Zevana dibelakangnya.
“Hai, Vi.” Sapa Zevana bermanis-manis.
“Hai juga!” balas Sivia kaku sambil meremas kuat-kuat gelas yang dipegangnya.
“Eh, cowo ini siapa? Kayaknya gue pernah liat deh.” Tanya Zevana sambil berusaha mengingat.
“Oh iya! Lo Felix kan? Yang waktu itu mukulin pacar gue?” kata Zevana.
Kak Felix dan Alvin langsung cengo mendengar perkataan Zevana.
“Pacar lo? Kapan gue mukulin pacar lo? Ketemu juga belum pernah!” kilah Kak Felix.
“Gak usah boong deh! Orang gue liat sendiri lo mukulin Alvin kan?” kata Zevana.
“Eh, tunggu! Gue makin pusing nih! Emang bener gue waktu itu mukulin Alvin, tapi, gue gak pernah mukulin pacar lo!” ucap Kak Felix kesal.
“Dasar lemot! Alvin kan pacar gue!” ujar Zevana.
Sivia langsung tersentak hebat “Lo pacaran sama dia, Vin?” tanya Sivia wa-was.
“Eh, gak kok! Sumpah demi apapun deh! Lo ngapain sih ngaku-ngaku jadi pacar gue!” seru Alvin kesal.
“Ah, bodo! Mending gue pergi deh! SUMPEK disini!” ucap Sivia sambil berjalan pergi membawa gelas berisi cocktailnya.
Eh kenapa tu bocah? Pikir Kak Felix sambil menatap cengo kepergian Sivia.
“Sebodo deh! Eh, disini ternyata ceweknya oke juga! Gue mau kecengin tuh yang lagi sendirian ah!” ujar Kak Felix saat melihat seorang cewek yang sedang berdiri sendiri di depan pintu masuk.
“Eh, kok pada pergi sih? Gue ikut pergi juga deh!” kata Alvin sambil ngacir meninggalkan Zevana.
“Alvin cimit-cimit gue! Tungguin dong!” kata Zevana sambil mengikuti langkah Alvin.
Sementara itu, Sivia berjalan tanpa melihat arah. Tiba-tiba....
BRUKK!!
BERSAMBUNG~
heran gue. kenapa ya setiap cerbung ini bersambung, pasti ada suara aneh. 'Bruk!' atau 'Byur!' atau 'Jeder!' -___-
Kepastian cinta part 9
hai, aku lanjut cerbungnya... mm.. utk cerpen request maaf bgt. udh aku bikinin, tpi kehapus :( psti aku bikinin lagi. tapi, di post lain hari ya.. gpp kan?
langsung aja yuk ~
PART SEBELUMNYA ~
BYURR!!
KEPASTIAN CINTA PART 9
Sivia sangat shock. Dia langsung membalik badannya dan mendapati Zevana sedang memegang gayung sambil tersenyum sinis kearahnya.
“Oops.. Sorry! Gue sengaja.” Ucap Zevana.
“Eh, dasar nenek lampir lo ya! Maksud lo apa pake nyiram gue segala?!” bentak Sivia.
“Salah lo sendiri! Ngapain tadi lo buat gue jatoh? Sekarang rasain tuh pembalasan dari gue!”
“Itukan elo yang minta sendiri!! Dasar cewek stress lo!! Gak malu kali ya.. Ngajak cowok balikan geto.. Jibang deh lo..” sindir Sivia.
“Eh, elo!!! Tapi, yang jelas gue bakal diterima! Ngerti lo?” kata Zevana PD.
“PD gila lo! Seyakin apa emang lo?”
“Yakin banget nget nget nget!!” kata Zevana dengan gaya centil.
“Gue sih gak yakin banget nget nget nget!!” balas Sivia dengan meniru gaya Zevana.
“Eh, gak usah ngajak ribut deh lo!! Gini aja gue buktiin ke elo kalo gue pasti bisa ngedapetin Alvin lagi. Dia kan udah cinta mati sama gue!”
“Huuuu!! Dasar nenek lampir gak tau malu!” seru Sivia sambil berlalu.
Sivia berjalan sepanjang koridor sekolah dengan perasaan malu karena bajunya basah kuyup dan sekarang menjadi pusat perhatian orang-orang.
Tanpa sadar dia membelokkan kakinya kearah taman sekolah. Disana dia melihat Alvin sedang duduk memegang gitar dan bersiap untuk menyanyi. Sivia perlahan berjalan mendekat.
Aku yang tak pernah bisa lupakan dirinya
Yang kini hadir diantara kita
Namun ku juga takkan bisa menepis bayangmu
Yang slama ini temani hidupku
Maafkan aku menduakan cintamu
Berat rasa hatiku tinggalkan dirinya
Dan demi waktu yang bergulir di sampingmu
Maafkanlah diriku sepenuh hatimu
Seandainya bila ku bisa memilih
Kalau saja waktu itu ku tak jumpa dirinya
Mungkin semua tak kan seperti ini
Dirimu dan dirinya kini ada di hatiku
Membawa aku dalam kehancuran
Alvin menghentikan nyanyiannya dan menaruh gitarnya disampingnya. Sivia masih tertegun setelah mendengarkan Alvin bernyanyi.
Maksudnya apa? Kenapa dia nyanyi lagu itu? Pikir Sivia.
“Suara lo bagus.” Puji Sivia sambil tersenyum. Alvin langsung melihat kebelakang, dan melihat Sivia sedang berjalan mendekat kearahnya sambil tersenyum manis, dia pun membalas senyuman Sivia.
“Sejak kapan lo disitu?” tanya Alvin saat Sivia sudah duduk di sampingnya.
“Sejak lo nyanyiin lagu itu.” Jujur Sivia.
“Oh.” Jawab Alvin singkat.
“Kenapa lo nyanyiin lagu itu?” tanya Sivia yang sudah tidak tahan. Alvin menaikkan satu alisnya dan menatap Sivia heran.
“Itu hak gue.”
“Tapi, kenapa?”
“Belum saatnya lo tau.” Kata Alvin memandang ke depan.
“HATCII!!”
Sivia bersin karena kedinginan gara-gara bajunya yang basah. Alvin yang mendengar itu, langsung mengalihkan pandangannya pada Sivia yang bajunya basah kuyup.
“Baju lo? Kok basah kuyup?” tanya Alvin yang baru sadar.
“Zevana.. Hatcii..”
“Tuh kan.. Apa gue bilang! Mending lo ganti baju dulu gih! Daripada ntar lo sakit.” Nasihat Alvin.
“Ganti pake apa? Nih baju gue satu-satunya.”
“Ya udah. Pake jaket gue aja dulu. Nih.” Alvin menyodorkan jaketnya.
“Tapi...”
“Gapapa. Yuk gue temenin lo ganti. Takutnya elo kenapa-kenapa lagi.” Ucap Alvin yang langsung menarik lembut tangan Sivia. Sivia hanya pasrah mengikuti Alvin.
Setelah berganti baju, Sivia dan Alvin berjalan menuju kelas mereka. Di pintu kelas, mereka bertemu dengan Zevana. Alvin melewati Zevana begitu saja sedangkan Sivia berjalan mengikuti dibelakangnya sambil menjulurkan lidahnya kearah Zevana.
Zevana yang kesal langsung menyandung (gak tau namanya -__-) kaki Sivia dengan sengaja.
“Waaaaa...” teriak Sivia yang limbung. Alvin yang menyadari itu,langsung berbalik dengan cepat dan....
HAPP! (lalu ditangkap! *ceileh malah nyambung ke lagu*)
Alvin menangkap tubuh Sivia yang hampir saja jatuh. Selama beberapa detik Alvin bertatapan dengan mata Sivia dan selama beberapa detik itu pula, Alvin merasakan getaran-getaran aneh itu lagi.
“Eh, Vin. Bisa lepasin gue? Maluu nih.” Ucap Sivia.
“Kalo lo gue lepasin ntar lo jatuh lagi.”
“Maksud gue. Berdiriin gue!”
“Dari tadi kek bilang.” Kata Alvin yang langsung membantu Sivia berdiri dan seketika itu pula....
“CIIIEEEEEE!!”
“SUIT SUIT!!”
“PRIKITIUWW!!!”
Koor anak-anak sekelas yang langsung membuat wajah Sivia dan Alvin memerah. Mereka langsung saja berjaln menuju tempat duduk mereka. Di sisi lain, bukan hanya wajah mereka yang berubah memerah. Wajah Zevana pun berubah memerah saking kesalnya.
“Sial! Niat gue buat bikin malu Via, malah bikin dia tambah deket sama Alvin! Sial Sial Sial!!” sungut Zevana.
================ooOoo=================
“WOI!! HARI INI BU AMOR GA MASUKK!!!” seru Obiet ceria saat memasuki kelas.
“Serius lo?” sahut Sivia penuh harap.
“Dua rius malah! Hahahah...” Obiet tertawa gembira diikuti oleh teman-teman sekelas mereka, tidak terkecuali Sivia.
“Horeee!! Sik asik.. Elo ga ikut seneng juga, Vin?” tanya Sivia kepada Alvin yang dari tadi kerjaannya hanya membaca sebuah novel.
“Gue malah pengen pelajaran.” Sahut Alvin yang membuat Sivia cengo.
“Emang gini ya? Kalo duduk sama orang pinter.. Guru gak ada malah sedih..” ledek Sivia sambil cengengesan yang langsung mendapat jitakan dari Alvin.
“ALVINN!! Bisa gak sih gak usah jitakin kepala gue?” omel Sivia sambil memegangi kepalanya yang terkena jitakan Alvin.
“Gak bisa tuuh..” kata Alvin sambil mengacak-acak poni Sivia.
“Iih apa-apaan sih lo, Vin? Jadi berantakan kan? Huuh..” sungut Sivia sebal sambil menata rambutnya kembali.
“Tetep cantik kok.” Puji Alvin tulus sambil tersenyum manis.
“Gomballl!!!” seru Sivia.
Alvin hanya menejulurkan lidahnya sebagai jawaban karena tepat pada saat itu, bel masuk berbunyi.
Tapi, dia ingat bhawa hari ini Bu Amor tidak masuk, maka dia langsung membuka novelnya dan mulai membaca. Sivia mendesah pelan, kalau alvin sudah membaca novelnya dia sudah tidak bisa diganggu lagi.
Akhirnya, Sivia menyibukkan dirinya dengan membuka twitter lewat I-Phone nya.
Dia tertawa melihat timeline nya. Tiba-tiba ada yang mengambil HP Sivia secara paksa. Dan orang itu adalah Zevana.
“Woi! Balikin!” kata Sivia sambil berdiri dan menggebrak meja dengan keras. Alvin yang sedang konsen membaca langsung terlonjak kaget sambil mengelus-elus dadanya.
“Elo kenapa, Vi? Ya, ampun. Lo hampir bikin gue jantungan.”
“Tuh! Si nenek lampir gila! Main ngambil HP gue aja!” omel Sivia.
“Eh, kurang aja ya lo!” kata Zevana.
“Sebodo! Kalo naksir sama HP gue bilang aja lagi!” ejek Sivia.
“Idiih! Najis gue naksir sama HP lo! Kok HP lo samaan kaya punya Alvin sih?” tanya Zevana.
“Suka-suka gue dong! Sini balikin.” Ujar Sivia sambil mengambil Hpnya yang berada digenggaman Zevana dan langsung kembali duduk.
“Eh, Vin. Kok HP Via samaan kaya punya lo?” tanya Zevana menatap Alvin.
“Gue yang beliin dia.” Ujar Alvin.
“Tuh denger! Dah puas kan lo? Sekarang pergi deh!” usir Sivia. Zevana menatap tidak percaya kearah Alvin dan langsung melengos pergi.
Alvin dan Sivia langsung menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing. Tiba-tiba Alvin menggebrak meja dan tertawa senaang. Sivia pun langsung terlonjak kaget.
“Woi! Ngapain sih lo? Tadi gue yang nggebrak meja, sekarang lo.” Gerutu Sivia.
“Hehehe.. Sorry, Vi.” Kata Alvin sambil cengengesan nggak jelas.
“Hmm..” itulah jawaban Sivia. Tetapi, Alvin tidak memperdulikan jawaban Sivia karena sekarang dia tau bagaimana cara menentukan pilihannya.
“Gue bakal lakuin ini sebulan penuh” gumam Alvin mantap.
================ooOoo=================
Akhir-akhir ini, Alvin menjadi orang yang aneh terkadang dia dekat dengan Sivia dan terlihat seperti orang pacaran. Tetapi, terkadang dia juga dekat denagn Zevana. Setiap Sivia menanyakan tentang hal itu, Alvin selalu saja berhasil ngeles. Tapi, akhir-akhir ini, Alvin sedang sangat dekat dengan Zevana. Tentu saja hal itu, membuat Sivia sangat cemburu.
Tak terasa waktu sudah berjalan selama 25 hari. Alvin masih belum bisa menentukan pilihannya. Dia termenung sendiri dibalkon rumahnya.
Tiba-tiba Hpnya bergetar, tanda ada sms masuk.
From : Alexis._.Via
Vin, temenin gue jalan yuk! Soalnya Kak Felix ga bisa.
To : Alexis._.Via
Oke. Gue jemput lo sekarang.
Alvin segera melajukan cagiva miliknya menuju rumah Sivia, sampai disana Sivia ternyata telah menunggu kedatangannya. Segera saja Sivia membonceng di belakang Alvin.
“Eh, kita mau kemana nih?” tanya Alvin.
“Emm.. Kemana ya? Oh iya, ke cafe ALVz dulu ya? Gue laper.” Kata Sivia.
“Siip.” Alvin langsung memakai kembali helmnya dan melesat dijalanan menuju cafe ALVz.
Alvin memerkirkan motornya di pelatarn parkir cafe ALVz. Dia segera mengajak Sivia masuk.
“Gue gak mau di dalem, Vin. Gue maunya di luar aja.” Ucap Sivia memaksa.
“Iya..deh. Duduk disitu aja yuk?” ajak Alvin menunjuk sebuah meja kosong. Sivia mengangguk senang sambil berjalan menuju meja tersebut.
“Elo mau pesen apa?” tanya Sivia.
“Gue samain aja kaya lo.” Ujar Alvin santai.
“Kalo gitu berarti pancake strawberry sama jus jeruk.” Ucap Sivia yang diangguki oleh Alvin.
“Oke. Kalo gitu gue mesen dulu ya?” kata Sivia yang langsung berjlan masuk kedalam untuk memesan makanan. Dia berjlan menuju bar yang ada di sebrang ruangan.
“Mba, pancake strawberry 2 sama jus jeruk 2 untuk meja nomor 8 ya?” Ucap Sivia kepada pelayan disitu.
“Baik, Mba. Ini billnya.” Kata pelayan itu sambil menyerahkan bill kepada Sivia. Sivia segera membayar bill itu.
“Terima kasih.” Ucap pelayan itu yang dibalas dengan senyuman oleh Sivia. Dia segera kembali menuju mejanya.
Kemudian Alvin dan Sivia terlibat pembicaraan yang seru sampi pesanan mereka datang. Dengan lahap Sivia mulai menghabiskan pancake pesanannya.
Setelah habis, dia mengajak Alvin untuk menemaninya ke Grand Mall untuk membeli aksesoris.
Sampai disana Sivia dan Alvin berjlalan bersama menuju toko aksesoris yang berada di lantai 2.
Saat sudah sampai di lantai 2, tiba-tiba pandangan mata Sivia tertuju pada toko baju yang ada di samping toko aksesoris. Dia melihat gaun berwarna merah selutut yang sangat elegan.
“Woi!” seru Alvin mengagetkan Sivia.
“Ish! Apaan sih lo? Ganggu aja deh!” kata Sivia sebal.
“Abisnya elo! Ngeliatin apaan sih? Sampe segitunya.” Tanya Alvin. Sivia pun menunjuk gaun merah tadi.
“Oh.”
“Bagus banget kan, Vin?” tanya Sivia sambil terus memandang gaun itu dengan mata bebinar-binar.
“Hmm.. Eh, katanya mau ke toko aksesoris.” Kata Alvin menyadarkan Sivia.
“Oh iya, yuk!” ajak Sivia menarik tangan Alvin.
Di dalam toko, Alvin melihat-lihat tempat boneka dan melihat boneka monyet.
“Eh, Vi. Sini deh. Kok elo mirip sama boneka yang ini sih?” ledek Alvin.
“Eh, sialan lo! Masa muka gue yang kece gini disamaain sama itu.” Sivia manyun sebal menunjuk boneka monyet tadi.
“Hahaha.... elo jelek kalo manyun, Vi.” Kata Alvin cengengesan.
“Eh, kalo cantik ya cantik aja, Vin.” Kilah Sivia.
“Ya terserah elo deh.” Kata Alvin mengalah. Mereka pun terlihat tertawa gembira disana. Sampai..
Hadirlah sundel bolong atau nenek lampir.
“Hai, Vin.” Sapa Zevana.
“Eh, hai Ze.” Balas Alvin sambil menatap Zevana, Sivia juga ikut-ikutan menatap Zevana.
“Elo ngapain disini, Vin?”
“Ini, nemenin Via.” Jawab Alvin santai.
“Oh. Temenin gue milih-milih kalung yuk, Vin.” Ajak Zevana yang diangguki oleh Alvin. Sivia hanya menatap sedih kepergian mereka berdua. Akhirnya dia dengan berat hati mengikuti Alvin dan Zevana.
Kok malah jadi gini sih? Keluh Ran dalam hati sambil melihat kalung-kalung dengan malas-malasan. Dia tambah melengos melihat Alvin dan Zevana tampak sedang mengobrol seru.
Akhirnya karena tidak tahan, Sivia pun pergi tanpa memberi tahu Alvin dan Zevana. Dia berjalan gontai keluar dari toko itu. Dia ingin pulang, ingin menangis. Tapi, Oh! Dia lupa kalau dia tidak boleh menangis lagi. Akhirnya Sivia hanya dapat memendam perasaan sakitnya sambil terus menahan jatuhnya air matanya
Sivia pulang menaiki taksi, dia tidak menelpon Kak Felix karena takut Kak Felix akan marah kepada Alvin.
Sepeninggal Sivia, Alvin dan Zevana masih tetap saja mengobrol seru. Sampai, Alvin menyadari kalau Sivia sudah tidak ada.
“Eh, Via kok gak ada sih?” tanya Alvin khawatir.
“Udah deh! Biarin aja. Ga usah diurusin lah. Cewek gak penting gitu.” Ujar Zevana cuek.
“Sorry, Ze. Gue kayaknya mesti balik, dah!” kata Alvin pamit.
Sivia memasuki kamarnya dengan lesu dan langsung merebahkan dirinya. Capek lahir dan batin. Dia mengnonaktifkan Hpnya, dia sedang tidak ingin diganggu.
“Gue udah gak tahan..” lirih Sivia. Kemudian dia segera tertidur.
Sementara itu, Alvin telah sampai di rumah dan dia menelpon Sivia. Tetapi, tidak ada jawaban. Walaupun, Alvin terus menghubungi HP Sivia, selalu tidak ada jawaban. Alvin khawatir Sivia marah kepadanya. Akhirnya Alvin menyerah, dia akan meminta maaf pada Sivia besok saja. Alvin kemudian mengambil gitarnya dan membawanya ke balkon.
Sejenak dia menatap kosong kedepan lalu mulai memetik senar gitarnya dan mulai bernyanyi.
Tiada guna kau kembali
Mengisi ruang hati ini
Semuanya telah berlalu
Bersama lukaku
Semua yang telah berlalu
Antara hatiku dan hatimu
Takkan ada cinta
Seperti yang dulu
Tiada guna kau berjanji
Untuk setia menemani
Hatiku yang telah terluka
Karena dustamu
Semua yang telah berakhir
Antara diriku dan dirimu
Takkan ada yang rindu
Seperti Yang dulu...
Malam harinya, setelah 1 jam berkutat dengan tugas sekolah yang harus dikumpukan besok akhirnya Sivia dapat meregangkan otot-ototnya.
“Huuff...Akhirnya selesai.. Sekarang tinggal ngapain ya?”
“Buka twitter aja deh..” ucapnya yang kemudian membuka akun twitternya. Setelah membaca TLnya dia mulai mengetweet.
@Via_Xis
Hari yang sangat melelahkan. Capek dengan hubungan yang kau gantungkan. T_T
Tidak berapa lama, ada yang mementionnya. Dia melihatnya..
“Oh, Alvin.” Gumamnya.
@IamAlvinJo_
@Via_Xis Vi, kok tadi gue nelpon lo, HP lo gak aktif? Lo marah sama gue ya?
Sivia berpikir sebentar, kemudian dia membalasnya.
@Via_Xis
@IamAlvinJo_ Gak marah kok . Tenang aja. Buat apa gue marah? Toh gue bukan siapa-siapa lo. Tadi HP gue, di nonaktifkan. Tapi, sekarang udah gak kok.
Sivia menghela napas sebentar, “Huufftt..Sakit..” gumamnya.
@IamAlvinJo_
@Via_Xis Jangan ngomong gitu . Oya besok temuin gue di tempat lo ketiduran dibahu gue dulu. Ok? Jagan lupa. Jam 4 sore. Gue jemput.
@Via_Xis
@IamAlvinJo_ Hah? Buat apa?
Tetapi, Alvin tidak membalas mention Sivia. Karena tidak dibalas, akhirnya Sivia mematikan laptopnya.
================ooOoo=================
“Kak, gue pergi dulu ya?” pamit Sivia pada Kak Felix yang tengah menonton TV.
“Mau kemana lo?”
“Ke taman deket rumah. Bentaran kok.”
“Deket dari Hongkong! Jauh gitu! Gue anter aja ya?”tawar Kak Felix.
“Gak deh. Gue dijemput sama Alvin.”
“Tapi, ini mendung banget Vi. Kalo ujan gimana?”
“Gapapa, Ko. Tenang aja. Bentaran doang.” Ucap Sivia yang sudah keluar rumah. Semetara itu, Kakaknya hanya geleng-geleng kepala.
Sivia berjalan menuju gerbang rumahnya. Alvin telah menunggunya diatas cagiva merah miliknya.
“Yuk.” ajak Alvin sambil menstater motornya. Dia melesat menuju taman.
Sampai di taman, ternyata sudah ada yang menunggu mereka. Dan dia adalah...
“Zevana..” panggil Alvin.
Zevana melihat orang yang memanggilnya dan tersenyum saat tahu bahwa Alvin yang telah memanggilnya.
Dia mulai berjalan mendekat, “Hai, Vin! Bawa orang ternyata.” Ucapnya sambil melirik Sivia yang berjalan dibelakang Alvin.
Sivia tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap Alvin, tetapi, dia tetap berusaha tersenyum.
“Ya udah. Yuk, kesana aja. Kayaknya bentar lagi mau ujan nih.” Ajak Zevana sambil menggandeng tangan Alvin. Sivia mengikuti Zevana dan Alvin yang berjalan menuju paviliun yang berada ditengah taman.
“Vin, sebenernya lo ngajak gue kesini ada apa?” tanya Sivia saat sudah sampai di paviliun.
“Ya jelas jadiin elo obat nyamuk buat kita lah. Alvin kan kemarin ngajak gue ketemuan disini.”
“Udah deh, lo jangan buat gue emosi. Gue capek tau ga.” Ucap Sivia tajam.
“Bodo! Salah lo sendiri, udah tau Alvin cintanya sama gue! Tapi, lo tetp aja ngejar-ngejar! Gak punya malu lo.” Zevana mulai menyolot.
“Apa itu bener, Vin?” tanya Sivia.
Sebelum Alvin menjawab, tiba-tiba Zevana mendekatkan wajahnya ke wajah Alvin dan mencium bibir Alvin selama 5 detik..
JEDERRR!!!
BERSAMBUNG ~
nah lho? ada suara lagi tuuuuh. apaan ya??
mf klo ada yg salah ketik...
skali lagi aku minta maaf krna cerpen reques kalian kehapus. jadi nanti aku ngepost cerpen pengganti. gpp kan?
langsung aja yuk ~
PART SEBELUMNYA ~
BYURR!!
KEPASTIAN CINTA PART 9
Sivia sangat shock. Dia langsung membalik badannya dan mendapati Zevana sedang memegang gayung sambil tersenyum sinis kearahnya.
“Oops.. Sorry! Gue sengaja.” Ucap Zevana.
“Eh, dasar nenek lampir lo ya! Maksud lo apa pake nyiram gue segala?!” bentak Sivia.
“Salah lo sendiri! Ngapain tadi lo buat gue jatoh? Sekarang rasain tuh pembalasan dari gue!”
“Itukan elo yang minta sendiri!! Dasar cewek stress lo!! Gak malu kali ya.. Ngajak cowok balikan geto.. Jibang deh lo..” sindir Sivia.
“Eh, elo!!! Tapi, yang jelas gue bakal diterima! Ngerti lo?” kata Zevana PD.
“PD gila lo! Seyakin apa emang lo?”
“Yakin banget nget nget nget!!” kata Zevana dengan gaya centil.
“Gue sih gak yakin banget nget nget nget!!” balas Sivia dengan meniru gaya Zevana.
“Eh, gak usah ngajak ribut deh lo!! Gini aja gue buktiin ke elo kalo gue pasti bisa ngedapetin Alvin lagi. Dia kan udah cinta mati sama gue!”
“Huuuu!! Dasar nenek lampir gak tau malu!” seru Sivia sambil berlalu.
Sivia berjalan sepanjang koridor sekolah dengan perasaan malu karena bajunya basah kuyup dan sekarang menjadi pusat perhatian orang-orang.
Tanpa sadar dia membelokkan kakinya kearah taman sekolah. Disana dia melihat Alvin sedang duduk memegang gitar dan bersiap untuk menyanyi. Sivia perlahan berjalan mendekat.
Aku yang tak pernah bisa lupakan dirinya
Yang kini hadir diantara kita
Namun ku juga takkan bisa menepis bayangmu
Yang slama ini temani hidupku
Maafkan aku menduakan cintamu
Berat rasa hatiku tinggalkan dirinya
Dan demi waktu yang bergulir di sampingmu
Maafkanlah diriku sepenuh hatimu
Seandainya bila ku bisa memilih
Kalau saja waktu itu ku tak jumpa dirinya
Mungkin semua tak kan seperti ini
Dirimu dan dirinya kini ada di hatiku
Membawa aku dalam kehancuran
Alvin menghentikan nyanyiannya dan menaruh gitarnya disampingnya. Sivia masih tertegun setelah mendengarkan Alvin bernyanyi.
Maksudnya apa? Kenapa dia nyanyi lagu itu? Pikir Sivia.
“Suara lo bagus.” Puji Sivia sambil tersenyum. Alvin langsung melihat kebelakang, dan melihat Sivia sedang berjalan mendekat kearahnya sambil tersenyum manis, dia pun membalas senyuman Sivia.
“Sejak kapan lo disitu?” tanya Alvin saat Sivia sudah duduk di sampingnya.
“Sejak lo nyanyiin lagu itu.” Jujur Sivia.
“Oh.” Jawab Alvin singkat.
“Kenapa lo nyanyiin lagu itu?” tanya Sivia yang sudah tidak tahan. Alvin menaikkan satu alisnya dan menatap Sivia heran.
“Itu hak gue.”
“Tapi, kenapa?”
“Belum saatnya lo tau.” Kata Alvin memandang ke depan.
“HATCII!!”
Sivia bersin karena kedinginan gara-gara bajunya yang basah. Alvin yang mendengar itu, langsung mengalihkan pandangannya pada Sivia yang bajunya basah kuyup.
“Baju lo? Kok basah kuyup?” tanya Alvin yang baru sadar.
“Zevana.. Hatcii..”
“Tuh kan.. Apa gue bilang! Mending lo ganti baju dulu gih! Daripada ntar lo sakit.” Nasihat Alvin.
“Ganti pake apa? Nih baju gue satu-satunya.”
“Ya udah. Pake jaket gue aja dulu. Nih.” Alvin menyodorkan jaketnya.
“Tapi...”
“Gapapa. Yuk gue temenin lo ganti. Takutnya elo kenapa-kenapa lagi.” Ucap Alvin yang langsung menarik lembut tangan Sivia. Sivia hanya pasrah mengikuti Alvin.
Setelah berganti baju, Sivia dan Alvin berjalan menuju kelas mereka. Di pintu kelas, mereka bertemu dengan Zevana. Alvin melewati Zevana begitu saja sedangkan Sivia berjalan mengikuti dibelakangnya sambil menjulurkan lidahnya kearah Zevana.
Zevana yang kesal langsung menyandung (gak tau namanya -__-) kaki Sivia dengan sengaja.
“Waaaaa...” teriak Sivia yang limbung. Alvin yang menyadari itu,langsung berbalik dengan cepat dan....
HAPP! (lalu ditangkap! *ceileh malah nyambung ke lagu*)
Alvin menangkap tubuh Sivia yang hampir saja jatuh. Selama beberapa detik Alvin bertatapan dengan mata Sivia dan selama beberapa detik itu pula, Alvin merasakan getaran-getaran aneh itu lagi.
“Eh, Vin. Bisa lepasin gue? Maluu nih.” Ucap Sivia.
“Kalo lo gue lepasin ntar lo jatuh lagi.”
“Maksud gue. Berdiriin gue!”
“Dari tadi kek bilang.” Kata Alvin yang langsung membantu Sivia berdiri dan seketika itu pula....
“CIIIEEEEEE!!”
“SUIT SUIT!!”
“PRIKITIUWW!!!”
Koor anak-anak sekelas yang langsung membuat wajah Sivia dan Alvin memerah. Mereka langsung saja berjaln menuju tempat duduk mereka. Di sisi lain, bukan hanya wajah mereka yang berubah memerah. Wajah Zevana pun berubah memerah saking kesalnya.
“Sial! Niat gue buat bikin malu Via, malah bikin dia tambah deket sama Alvin! Sial Sial Sial!!” sungut Zevana.
================ooOoo=================
“WOI!! HARI INI BU AMOR GA MASUKK!!!” seru Obiet ceria saat memasuki kelas.
“Serius lo?” sahut Sivia penuh harap.
“Dua rius malah! Hahahah...” Obiet tertawa gembira diikuti oleh teman-teman sekelas mereka, tidak terkecuali Sivia.
“Horeee!! Sik asik.. Elo ga ikut seneng juga, Vin?” tanya Sivia kepada Alvin yang dari tadi kerjaannya hanya membaca sebuah novel.
“Gue malah pengen pelajaran.” Sahut Alvin yang membuat Sivia cengo.
“Emang gini ya? Kalo duduk sama orang pinter.. Guru gak ada malah sedih..” ledek Sivia sambil cengengesan yang langsung mendapat jitakan dari Alvin.
“ALVINN!! Bisa gak sih gak usah jitakin kepala gue?” omel Sivia sambil memegangi kepalanya yang terkena jitakan Alvin.
“Gak bisa tuuh..” kata Alvin sambil mengacak-acak poni Sivia.
“Iih apa-apaan sih lo, Vin? Jadi berantakan kan? Huuh..” sungut Sivia sebal sambil menata rambutnya kembali.
“Tetep cantik kok.” Puji Alvin tulus sambil tersenyum manis.
“Gomballl!!!” seru Sivia.
Alvin hanya menejulurkan lidahnya sebagai jawaban karena tepat pada saat itu, bel masuk berbunyi.
Tapi, dia ingat bhawa hari ini Bu Amor tidak masuk, maka dia langsung membuka novelnya dan mulai membaca. Sivia mendesah pelan, kalau alvin sudah membaca novelnya dia sudah tidak bisa diganggu lagi.
Akhirnya, Sivia menyibukkan dirinya dengan membuka twitter lewat I-Phone nya.
Dia tertawa melihat timeline nya. Tiba-tiba ada yang mengambil HP Sivia secara paksa. Dan orang itu adalah Zevana.
“Woi! Balikin!” kata Sivia sambil berdiri dan menggebrak meja dengan keras. Alvin yang sedang konsen membaca langsung terlonjak kaget sambil mengelus-elus dadanya.
“Elo kenapa, Vi? Ya, ampun. Lo hampir bikin gue jantungan.”
“Tuh! Si nenek lampir gila! Main ngambil HP gue aja!” omel Sivia.
“Eh, kurang aja ya lo!” kata Zevana.
“Sebodo! Kalo naksir sama HP gue bilang aja lagi!” ejek Sivia.
“Idiih! Najis gue naksir sama HP lo! Kok HP lo samaan kaya punya Alvin sih?” tanya Zevana.
“Suka-suka gue dong! Sini balikin.” Ujar Sivia sambil mengambil Hpnya yang berada digenggaman Zevana dan langsung kembali duduk.
“Eh, Vin. Kok HP Via samaan kaya punya lo?” tanya Zevana menatap Alvin.
“Gue yang beliin dia.” Ujar Alvin.
“Tuh denger! Dah puas kan lo? Sekarang pergi deh!” usir Sivia. Zevana menatap tidak percaya kearah Alvin dan langsung melengos pergi.
Alvin dan Sivia langsung menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing. Tiba-tiba Alvin menggebrak meja dan tertawa senaang. Sivia pun langsung terlonjak kaget.
“Woi! Ngapain sih lo? Tadi gue yang nggebrak meja, sekarang lo.” Gerutu Sivia.
“Hehehe.. Sorry, Vi.” Kata Alvin sambil cengengesan nggak jelas.
“Hmm..” itulah jawaban Sivia. Tetapi, Alvin tidak memperdulikan jawaban Sivia karena sekarang dia tau bagaimana cara menentukan pilihannya.
“Gue bakal lakuin ini sebulan penuh” gumam Alvin mantap.
================ooOoo=================
Akhir-akhir ini, Alvin menjadi orang yang aneh terkadang dia dekat dengan Sivia dan terlihat seperti orang pacaran. Tetapi, terkadang dia juga dekat denagn Zevana. Setiap Sivia menanyakan tentang hal itu, Alvin selalu saja berhasil ngeles. Tapi, akhir-akhir ini, Alvin sedang sangat dekat dengan Zevana. Tentu saja hal itu, membuat Sivia sangat cemburu.
Tak terasa waktu sudah berjalan selama 25 hari. Alvin masih belum bisa menentukan pilihannya. Dia termenung sendiri dibalkon rumahnya.
Tiba-tiba Hpnya bergetar, tanda ada sms masuk.
From : Alexis._.Via
Vin, temenin gue jalan yuk! Soalnya Kak Felix ga bisa.
To : Alexis._.Via
Oke. Gue jemput lo sekarang.
Alvin segera melajukan cagiva miliknya menuju rumah Sivia, sampai disana Sivia ternyata telah menunggu kedatangannya. Segera saja Sivia membonceng di belakang Alvin.
“Eh, kita mau kemana nih?” tanya Alvin.
“Emm.. Kemana ya? Oh iya, ke cafe ALVz dulu ya? Gue laper.” Kata Sivia.
“Siip.” Alvin langsung memakai kembali helmnya dan melesat dijalanan menuju cafe ALVz.
Alvin memerkirkan motornya di pelatarn parkir cafe ALVz. Dia segera mengajak Sivia masuk.
“Gue gak mau di dalem, Vin. Gue maunya di luar aja.” Ucap Sivia memaksa.
“Iya..deh. Duduk disitu aja yuk?” ajak Alvin menunjuk sebuah meja kosong. Sivia mengangguk senang sambil berjalan menuju meja tersebut.
“Elo mau pesen apa?” tanya Sivia.
“Gue samain aja kaya lo.” Ujar Alvin santai.
“Kalo gitu berarti pancake strawberry sama jus jeruk.” Ucap Sivia yang diangguki oleh Alvin.
“Oke. Kalo gitu gue mesen dulu ya?” kata Sivia yang langsung berjlan masuk kedalam untuk memesan makanan. Dia berjlan menuju bar yang ada di sebrang ruangan.
“Mba, pancake strawberry 2 sama jus jeruk 2 untuk meja nomor 8 ya?” Ucap Sivia kepada pelayan disitu.
“Baik, Mba. Ini billnya.” Kata pelayan itu sambil menyerahkan bill kepada Sivia. Sivia segera membayar bill itu.
“Terima kasih.” Ucap pelayan itu yang dibalas dengan senyuman oleh Sivia. Dia segera kembali menuju mejanya.
Kemudian Alvin dan Sivia terlibat pembicaraan yang seru sampi pesanan mereka datang. Dengan lahap Sivia mulai menghabiskan pancake pesanannya.
Setelah habis, dia mengajak Alvin untuk menemaninya ke Grand Mall untuk membeli aksesoris.
Sampai disana Sivia dan Alvin berjlalan bersama menuju toko aksesoris yang berada di lantai 2.
Saat sudah sampai di lantai 2, tiba-tiba pandangan mata Sivia tertuju pada toko baju yang ada di samping toko aksesoris. Dia melihat gaun berwarna merah selutut yang sangat elegan.
“Woi!” seru Alvin mengagetkan Sivia.
“Ish! Apaan sih lo? Ganggu aja deh!” kata Sivia sebal.
“Abisnya elo! Ngeliatin apaan sih? Sampe segitunya.” Tanya Alvin. Sivia pun menunjuk gaun merah tadi.
“Oh.”
“Bagus banget kan, Vin?” tanya Sivia sambil terus memandang gaun itu dengan mata bebinar-binar.
“Hmm.. Eh, katanya mau ke toko aksesoris.” Kata Alvin menyadarkan Sivia.
“Oh iya, yuk!” ajak Sivia menarik tangan Alvin.
Di dalam toko, Alvin melihat-lihat tempat boneka dan melihat boneka monyet.
“Eh, Vi. Sini deh. Kok elo mirip sama boneka yang ini sih?” ledek Alvin.
“Eh, sialan lo! Masa muka gue yang kece gini disamaain sama itu.” Sivia manyun sebal menunjuk boneka monyet tadi.
“Hahaha.... elo jelek kalo manyun, Vi.” Kata Alvin cengengesan.
“Eh, kalo cantik ya cantik aja, Vin.” Kilah Sivia.
“Ya terserah elo deh.” Kata Alvin mengalah. Mereka pun terlihat tertawa gembira disana. Sampai..
Hadirlah sundel bolong atau nenek lampir.
“Hai, Vin.” Sapa Zevana.
“Eh, hai Ze.” Balas Alvin sambil menatap Zevana, Sivia juga ikut-ikutan menatap Zevana.
“Elo ngapain disini, Vin?”
“Ini, nemenin Via.” Jawab Alvin santai.
“Oh. Temenin gue milih-milih kalung yuk, Vin.” Ajak Zevana yang diangguki oleh Alvin. Sivia hanya menatap sedih kepergian mereka berdua. Akhirnya dia dengan berat hati mengikuti Alvin dan Zevana.
Kok malah jadi gini sih? Keluh Ran dalam hati sambil melihat kalung-kalung dengan malas-malasan. Dia tambah melengos melihat Alvin dan Zevana tampak sedang mengobrol seru.
Akhirnya karena tidak tahan, Sivia pun pergi tanpa memberi tahu Alvin dan Zevana. Dia berjalan gontai keluar dari toko itu. Dia ingin pulang, ingin menangis. Tapi, Oh! Dia lupa kalau dia tidak boleh menangis lagi. Akhirnya Sivia hanya dapat memendam perasaan sakitnya sambil terus menahan jatuhnya air matanya
Sivia pulang menaiki taksi, dia tidak menelpon Kak Felix karena takut Kak Felix akan marah kepada Alvin.
Sepeninggal Sivia, Alvin dan Zevana masih tetap saja mengobrol seru. Sampai, Alvin menyadari kalau Sivia sudah tidak ada.
“Eh, Via kok gak ada sih?” tanya Alvin khawatir.
“Udah deh! Biarin aja. Ga usah diurusin lah. Cewek gak penting gitu.” Ujar Zevana cuek.
“Sorry, Ze. Gue kayaknya mesti balik, dah!” kata Alvin pamit.
Sivia memasuki kamarnya dengan lesu dan langsung merebahkan dirinya. Capek lahir dan batin. Dia mengnonaktifkan Hpnya, dia sedang tidak ingin diganggu.
“Gue udah gak tahan..” lirih Sivia. Kemudian dia segera tertidur.
Sementara itu, Alvin telah sampai di rumah dan dia menelpon Sivia. Tetapi, tidak ada jawaban. Walaupun, Alvin terus menghubungi HP Sivia, selalu tidak ada jawaban. Alvin khawatir Sivia marah kepadanya. Akhirnya Alvin menyerah, dia akan meminta maaf pada Sivia besok saja. Alvin kemudian mengambil gitarnya dan membawanya ke balkon.
Sejenak dia menatap kosong kedepan lalu mulai memetik senar gitarnya dan mulai bernyanyi.
Tiada guna kau kembali
Mengisi ruang hati ini
Semuanya telah berlalu
Bersama lukaku
Semua yang telah berlalu
Antara hatiku dan hatimu
Takkan ada cinta
Seperti yang dulu
Tiada guna kau berjanji
Untuk setia menemani
Hatiku yang telah terluka
Karena dustamu
Semua yang telah berakhir
Antara diriku dan dirimu
Takkan ada yang rindu
Seperti Yang dulu...
Malam harinya, setelah 1 jam berkutat dengan tugas sekolah yang harus dikumpukan besok akhirnya Sivia dapat meregangkan otot-ototnya.
“Huuff...Akhirnya selesai.. Sekarang tinggal ngapain ya?”
“Buka twitter aja deh..” ucapnya yang kemudian membuka akun twitternya. Setelah membaca TLnya dia mulai mengetweet.
@Via_Xis
Hari yang sangat melelahkan. Capek dengan hubungan yang kau gantungkan. T_T
Tidak berapa lama, ada yang mementionnya. Dia melihatnya..
“Oh, Alvin.” Gumamnya.
@IamAlvinJo_
@Via_Xis Vi, kok tadi gue nelpon lo, HP lo gak aktif? Lo marah sama gue ya?
Sivia berpikir sebentar, kemudian dia membalasnya.
@Via_Xis
@IamAlvinJo_ Gak marah kok . Tenang aja. Buat apa gue marah? Toh gue bukan siapa-siapa lo. Tadi HP gue, di nonaktifkan. Tapi, sekarang udah gak kok.
Sivia menghela napas sebentar, “Huufftt..Sakit..” gumamnya.
@IamAlvinJo_
@Via_Xis Jangan ngomong gitu . Oya besok temuin gue di tempat lo ketiduran dibahu gue dulu. Ok? Jagan lupa. Jam 4 sore. Gue jemput.
@Via_Xis
@IamAlvinJo_ Hah? Buat apa?
Tetapi, Alvin tidak membalas mention Sivia. Karena tidak dibalas, akhirnya Sivia mematikan laptopnya.
================ooOoo=================
“Kak, gue pergi dulu ya?” pamit Sivia pada Kak Felix yang tengah menonton TV.
“Mau kemana lo?”
“Ke taman deket rumah. Bentaran kok.”
“Deket dari Hongkong! Jauh gitu! Gue anter aja ya?”tawar Kak Felix.
“Gak deh. Gue dijemput sama Alvin.”
“Tapi, ini mendung banget Vi. Kalo ujan gimana?”
“Gapapa, Ko. Tenang aja. Bentaran doang.” Ucap Sivia yang sudah keluar rumah. Semetara itu, Kakaknya hanya geleng-geleng kepala.
Sivia berjalan menuju gerbang rumahnya. Alvin telah menunggunya diatas cagiva merah miliknya.
“Yuk.” ajak Alvin sambil menstater motornya. Dia melesat menuju taman.
Sampai di taman, ternyata sudah ada yang menunggu mereka. Dan dia adalah...
“Zevana..” panggil Alvin.
Zevana melihat orang yang memanggilnya dan tersenyum saat tahu bahwa Alvin yang telah memanggilnya.
Dia mulai berjalan mendekat, “Hai, Vin! Bawa orang ternyata.” Ucapnya sambil melirik Sivia yang berjalan dibelakang Alvin.
Sivia tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya terhadap Alvin, tetapi, dia tetap berusaha tersenyum.
“Ya udah. Yuk, kesana aja. Kayaknya bentar lagi mau ujan nih.” Ajak Zevana sambil menggandeng tangan Alvin. Sivia mengikuti Zevana dan Alvin yang berjalan menuju paviliun yang berada ditengah taman.
“Vin, sebenernya lo ngajak gue kesini ada apa?” tanya Sivia saat sudah sampai di paviliun.
“Ya jelas jadiin elo obat nyamuk buat kita lah. Alvin kan kemarin ngajak gue ketemuan disini.”
“Udah deh, lo jangan buat gue emosi. Gue capek tau ga.” Ucap Sivia tajam.
“Bodo! Salah lo sendiri, udah tau Alvin cintanya sama gue! Tapi, lo tetp aja ngejar-ngejar! Gak punya malu lo.” Zevana mulai menyolot.
“Apa itu bener, Vin?” tanya Sivia.
Sebelum Alvin menjawab, tiba-tiba Zevana mendekatkan wajahnya ke wajah Alvin dan mencium bibir Alvin selama 5 detik..
JEDERRR!!!
BERSAMBUNG ~
nah lho? ada suara lagi tuuuuh. apaan ya??
mf klo ada yg salah ketik...
skali lagi aku minta maaf krna cerpen reques kalian kehapus. jadi nanti aku ngepost cerpen pengganti. gpp kan?
Langganan:
Komentar (Atom)